Dampak Yang Terjadi Akibat Melemahnya Kurs Rupiah

Ilustrasi gaji dollar via shutterstock.com
Republiknews.com - Sabtu-26-05-2018 -Kurs rupiah memang tidak stabil. Kadang menguat, kadang melemah terhadap dolar. Pernah rupiah selemah-lemahnya berhadapan dengan dolar. Situasi tersebut terjadi saat Soeharto masih menjadi Presiden tahun 1998 dan kemudian lengser karena tak bisa menangani krisis ekonomi yang terjadi sebagai dampak dari anjloknya rupiah.
Ada beragam faktor yang menyebabkan melemahnya kurs rupiah. Mulai dari diferensiasi inflasi, diferensiasi suku bunga, defisit neraca berjalan, utang publik, ketentuan perdagangan, sampai stabilitas politik dan ekonomi.
Perubahan nilai tukar (kurs) mata uang suatu negara yang cenderung melemah sering kali dipandang negatif. Nyatanya, kondisi tersebut tak selamanya buruk. Ada hal positif yang bisa diambil dari melemahnya kurs rupiah.
Setidaknya, ada empat dampak yang ditimbulkan jika kurs rupiah melemah.

1. Karyawan Bergaji Dolar Diuntungkan

Apabila kurs rupiah melemah, nilai dolar AS akan meningkat. Dengan begitu, mereka yang bergaji dolar AS akan diuntungkan. Sebab dolar yang didapat bila dikonversikan ke rupiah, jumlah rupiah yang didapat lebih banyak dari sebelum melemahnya rupiah.
Sebagai contoh, Cermat Indra Kusuma bekerja di Australia dan mendapat gaji tiap bulannya dalam bentuk dolar. Suatu kali Cermat Indra Kusuma memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Saat itu dolar sedang menguat menjadi Rp13.000/dolar. Padahal, sebelumnya berada di kisaran Rp11.000/dolar.
Cermat Indra Kusuma melihat ini sebagai kesempatan. Dengan keyakinan yang didasarkan pengetahuan dan informasi yang didapat, ia percaya rupiah akan kembali menguat. Ditukarlah tabungan dolarnya senilai USD 50.000 saat kurs jual 1 USD = Rp13.020 maka rupiah yang didapatnya sebanyak Rp651.000.000. Padahal, kalau menggunakan kurs Rp11.000, dia hanya mendapat Rp550.000.000.
Benar saja, dalam tempo tiga bulan, rupiah kembali menguat. Kinerja yang ditunjukkan Pemerintah bersama bank sentral sukses menjaga dan membuat rupiah menguat kembali. Ditambah faktor eksternal yang mendukung penguatan rupiah. Rupiah yang tiga bulan sebelumnya Rp13.000/dolar kini menjadi Rp11.500/dolar. Tentu saja Cermat Indra Kusuma untung dari penukaran dolarnya

2. Keuntungan Eksportir Dalam Negeri Meningkat

Akibat kurs rupiah melemah maka banyak permintaan dari luar terhadap produk-produk Indonesia. Meningkatnya pembelian produk-produk dalam negeri tentu saja meningkatkan keuntungan beberapa eksportir Indonesia, seperti eksportir mebel dan tekstil.
Kondisi ini adalah hal yang logis karena bila barang-barang dalam negeri dijual dengan mengacu pada rupiah, sudah tentu importir yang membelinya dengan mengonversi dolarnya ke rupiah akan mendapatkan barang dalam jumlah lebih besar daripada sewaktu rupiah menguat.
Sayangnya, keuntungan tersebut tidak dirasakan semua eksportir. Bagi eksportir yang produksi produk-produknya mengandalkan bahan baku dari luar negeri, melemahnya rupiah justru memaksa mereka untuk menaikkan harga jual produknya. Naiknya harga jual produk yang sebanding dengan menguatnya dolar tidak membawa keuntungan berarti bagi eksportir tersebut.

3. Barang Impor Menjadi Mahal, Barang Lokal Kian Laris di Pasaran

Dampak yang sangat terasa dengan melemah kurs rupiah adalah harga produk impor yang semakin mahal. Naiknya harga barang impor akan membuat masyarakat beralih ke produk lokal yang harganya lebih terjangkau. Sebagai contoh, karena rupiah melemah, harga buah impor mengalami kenaikan. Masyarakat pun menjadi enggan untuk membeli buah impor dan memutuskan beralih mengonsumsi buah lokal.
Jika lebih banyak orang memilih buah-buahan lokal, buah-buahan impor akan surut jumlahnya. Situasi ini membuat importir buah mengalami penurunan omzet. Namun, saat yang bersamaan, petani dan pedagang buah lokal memperoleh keuntungan.

4. Suku Bunga Naik, Risiko bagi Pertumbuhan Kredit


Melemahnya rupiah menjadi dilema bagi Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas urusan moneter dalam negeri. Bersama dengan Pemerintah, BI terus menstabilkan nilai rupiah yang turun dan menjaga rupiah agar tidak melemah. Menaikkan suku bunga merupakan langkah yang mau tak mau harus dilakukan akibat melemahnya kurs rupiah.
Lalu, apa dampak dari dinaikkannya suku bunga? Paling jelas adalah pertumbuhan kredit menjadi melambat. Orang-orang enggan untuk mengambil kredit sebab bunganya yang mahal. Selain itu, bukan tidak mungkin meningginya kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) sebagai dampak dari kenaikan suku bunga.

5. Melemahnya Rupiah Mengancam Obligasi dan Surat Utang Negara (SUN)

Dampak negatif dari melemahnya kurs rupiah juga menyasar ke perdagangan obligasi dan Surat Utang Negara (SUN). Dengan mengacu pada lemahnya kurs rupiah, investor-investor akan menjual obligasi dan SUN yang telah mereka beli.
Situasi kian buruk jika tidak ada yang membeli obligasi dan SUN. Harga obligasi dan SUN nantinya bisa merosot dan dapat berakibat terhadap kurs rupiah. Karena itu, dalam situasi ini Bank Indonesia (BI) akan mengambil tindakan dengan membeli obligasi dan SUN yang dijual investor-investor asing. Hal ini bertujuan untuk menstabilkan pasar uang.

Cermati dan Pahami agar Bijak dalam Bersikap

Saat krisis melanda Indonesia tahun 1998, perekonomian dalam negeri langsung kolaps. Bergantinya pemerintahan membawa perubahan yang perlahan-lahan menunjukkan signifikansinya. Kondisi politik yang beranjak stabil mendorong stabilnya perekonomian dalam negeri. Kurs rupiah pun menguat untuk beberapa lama. Pertumbuhan ekonomi mencapai lebih dari 5%. Angka kemiskinan dan pengangguran lambat laun berkurang.
Dari dampak-dampak melemahnya kurs rupiah di atas, ada yang bisa kita pelajari. Tidak selamanya melemahnya rupiah berakibat buruk. Ternyata ada sisi positif yang bisa memberikan peluang. Karena itu, penting sekali untuk mencermati dan memahami perubahan kurs rupiah agar bijak dalam menyikapinya. ( -red )

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »