Mengenal Taqwa (bagian 2) -->

Mengenal Taqwa (bagian 2)

Jumat, 31 Juli 2020, Juli 31, 2020
gambar ilustrasi, sumber:ngelmu.co


bag, kedua
oleh : Tamrin Lahiya


4. AL-QUR’AN ADALAH PEDOMAN BAGI ORANG BERTAQWA

Qs : Al Baqarah Ayat 1 - 2
الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya  :
Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

QS  : Al An Am  Ayat 155
وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya   :
Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

QS  : Ali Imraan  Ayat  138
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya   :
(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

QS  :  Al Haqqa  Ayat  48
وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya   :
Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

QS :  Maryam  Ayat  97
فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا
Artinya  :
Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

Kelima firman Allah diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwa pedoman bagi orang bertaqwa adalah Al qur’an .

Firman Allah yang pertama , perhatikan kalimat , “ petunjuk “ adalah pedoman , hudah , dalil , sehingga bila ingin meraih taqwa maka sewajarnyalah yang menjadi referensi atau rujukan adalah dalil Al qur’an bukan daya analisis. Tetapi dia bersifat baku (dituntun)  Al qur’an. pedoman menyimpang dari Al qur’an maka bukanlah jalan ketaqwaan .

Firman Allah yang kedua , perhatikan kalimat , “ ikuti dia “ maksudnya adalah Ikuti Al qur’an , ayat ini sangatlah jelas memberikan pelajaran kepada kita , agar mengikuti Al qur’an sehingga kita akan mampu meraih ketaqwaan .

Firman Allah yang ketiga  perhatikan kalimat , “ Al qur’an adalah penerang “ kalimat ini juga sangatlah jelas , orang bertaqwa harus mengikuti cahaya Al qur’an (Petunjuk Al qur’an) karena dia merupakan jalan serta pelajaran bagi mereka yang benar-benar bertaqwa kepada Allah Swt .

Firman Allah yang keempat, perhatikan kalimat , “ Al qur’an adalah pelajaran bagi orang bertaqwa “, dan bila mengamalkan sesuatu ajaran diluar dari ajaran qur’an maka dia bukanlah orang bertaqwa .

Pada firman Allah yang kelima , perhatikan kalimat , “ sesungguhnya telah Kami mudahkan “ dan kalimat , “ Al qur’an itu dengan bahasamu. “,  makna dari kalimat ini sangat jelas bagi orang yang bertaqwa , diperintahkan untuk memahami isi kandungan dari Al qur’an , dengan adanya kemudahan dari Allah.

Dari negara manapun dia, telah ada tafsir-tafsir Alqur’an yang dikitabkan oleh para ulama tafsir yang benar-benar memiliki kompetensi dalam hal penafsiran yang diakui keabsahannya oleh negara , sehingga dengan mudah kita bisa mempelajari kandungan Al qur’an. setelah mereka mengerti dan fahami maka mereka bisa mengajarkan kepada orang lain . bukankah rosulullah mengatakan :
Hadits  :
ن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس
Artinya   :
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

“ sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfa’at bagi manusia “  tentunya bagi manusia yang lain . kesimpulannya adalah Al qur’an merupakan pedoman hidup dan mati bagi orang – orang bertaqwa .

5.KEWAJIBAN DAN LANGKAH-LANGKAH MENUJU KETAQWAAN

Berwasiat kepada keluarga .
QS :  Al Baqaraah  Ayat 180
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Artinya  :
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

Simak kalimat , “ apabila seseorang diantara kamu kedatangan tanda-tanda maut “ dan kalimat , “ jika ia meninggalkan harta yang banyak “ serta kalimat , “ berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya “  juga kalimat , “ secara ma’ruf” lalu kalimat , “ ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. “ 

Dari kalimat-kalimat diatas, kita mendapatkan pelajaran bahwa menjadi hukum wajib  bagi seorang yang bertaqwa untuk berwasiat atas harta yang ditinggalkannya kepada keluarga , dengan cara yang sebaik-baiknya .

Hadits  :
مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ.
Artinya  :
 “Seorang muslim tidak layak memiliki sesuatu yang harus ia wasiatkan, kemudian ia tidur dua malam, kecuali jika wasiat itu tertulis di sampingnya.” (Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (V/355, no. 2738), Shahiih Muslim (III/1249, no. 1627), Sunan Abi Dawud (VIII/63, no. 2845), Sunan at-Tirmidzi (II/224, no. 981), Sunan Ibni Majah (II/901, no. 2699), Sunan an-Nasa-i (VI/238).

Memberi Pesangon yang layak dalam Perceraian
Al Baqaraah  Ayat 241
وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Artinya  :
Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut'ah menurut yang ma'ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.

Perhatikan kalimat pada firman Allah diatas , “ kepada wanita-wanita yang diceraikan “ dan kalimat , “ hendaklah diberikan oleh suaminya “,  juga kalimat , “ muth’ah menurut yang ma’ruf “ serta kalimat , “ sebagai suatu kewajiban bagi orang-oarang yang taqwa. “

Setelah mencermati kalimat pada firman Allah diatas , maka mendapatkan satu pelajaran bahwa orang bertaqwa berkewajiban untuk memberikan pesangon atau jaminan terhadap isteri yang akan diceraikannya , yang merupakan jaminan bagi hidupnya kedepan .

Mengambil Kebutuhan Hidup yang Halal

QS  : Ath Thaqabuun  Ayat  16
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya   :
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Firman Allah diatas ini sangat jelas bahwa orang bertaqwa diwajibkan untuk mengambil nafkah dari yang halal serta baik .

Kembali mari disimak kalimat , “ maka bertaqwalah kamu kepada Allah “ dan kalimat , “ nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.“

Hadits  :
نِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ)) رواه البخاري.
Artinya  :
Dari al-Miqdam Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri) (Hadits Shahih Riwayat , Al-Bukhari (no. 1966).

Mendidik Anak dengan sebaik-baiknya

QS  : An Nisaa  Ayat  9
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya  :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Pada kalimat , “ dan hendaklah takut kepada Allah “ dan kalimat , “ meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah “ juga kalimat , “ mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. “ maksud kalimat ini yang mereka khawatirkan , adalah anak yang ditinggalkannya.

Kemudian firman Allah selanjutnya , oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa , dan kalimat  “ dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar “ , maksud kalimat tersebut adalah didikan yang baik kepada anak-anaknya .

Hadits  :
لُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
Artinya   :
“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 893, 5188, 5200), Muslim (no. 1829), Ahmad (II/5, 54, 111) dari Ibnu ‘Umar radhi-yallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari.)

Wara dalam Menghitung Diri

QS : Al Hasyr  Ayat 18
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya   :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Mari kita telaah kalimat , “ bertaqwalah kepada Allah “ dan kalimat , “ hendaklah setiap diri “,  juga kalimat , “ memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).“ .

Setelah memperhatikan seluruh kalimat-kalimat pada firman Allah diatas maka mendapat suatu kejelasan. pada kalimat pertama , bagi orang-orang beriman diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah , kemudian kalimat hendaklah setiap diri memperhatikan , maksud kalimat ini jelas, yaitu ditujukan kepada orang bertaqwa agar memperhatikan .

Lalu, apa yang harus diperhatikan,? yaitu perbuatannya. bagi orang bertaqwa untuk bisa memperhatikan perbuatannya tersebut tidak ada jalan lain lagi bagi mereka selain Wara , orang yang memiliki sifat wara maka dia akan memiliki kemampuan untuk meninggalkan perkara-perkara yang subhat , yang samar, apalagi yang diharamkan. sehingga hanya dengan sifat wara orang bertaqwa akan mampu menghitung dirinya untuk mempersiapkan diri mereka pada kehidupan akhirat kelak .

Hadits :
فضل العلم خير من فضل العبادة وخير دينكم الورع
Artinya  :
“Keutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’” (HR. Ath Thobroni dalam Al Awsath, Al Bazzar dengan sanad yang hasan. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 68 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)

Berkata Benar

QS : Al Ahzab Ayat  70
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya   :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,
Firman Allah diatas inilah yang menjelaskan kepada kita , bahwa orang bertaqwa harus berkata jujur (benar) .

Hadits  :
إِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَة، وَالْكَذِبَ رِيْبَة
Artinya  :
“Kejujuran itu ketentraman, dan dusta itu keragu-raguan. ” (HR. At-Tirmidzi, No. 2518)
Bergaul dengan Para Siddiqin.

QS  : At Taubaah  Ayat  119
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya   :
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
Firman Allah diatas inilah yang menjelaskan bahwa orang bertaqwa diwajibkan untuk bergaul dengan para siddiqin (Orang yang benar).

Timbul pemikiran , lantas bagaimana dengan orang bertaqwa bila sekiranya ada orang yang datang belajar menimba ilmu kepadanya , sementara orang yang datang menimba ilmu tersebut bukanlah orang yang benar , tetapi ingin belajar.?  bila dia menerima orang tersebut untuk belajar kepadanya , lantas bagaimana hubungannya dengan dalil diatas.?

Perlu dijelaskan, orang bertaqwa diperintahkan bergaul dengan para Siddiqin /orang yang benar bukanlah dari golongan manusia yang hidup dimuka bumi ini, akan tetapi para siddiqin yang bersifat ghaib , merekalah para Wali Allah .

Hadits  :
نْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Artinya  :
Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk  (HR. Bukhari, no.5534; Muslim, no.2628)
Meng Agungkan syiar-syiar Allah

QS  :  Al  Hajj  Ayat 32
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Artinya  :
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.
Firman Allah diatas inilah yang menjelaskan bahwa orang bertaqwa senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah , perhatikan seluruh kalimat pada firman tersebut diatas .

Hadits  :
إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
Artinya  :
Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah tabaraka wa ta’ala adalah hari penyembelihan (Idul Adha, 10 Dzulhijjah), kemudian hari al-qorr (hari tasyriq yang pertama, 11 Dzulhijjah),  (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Qurth radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1549)

Mengadakan Perbaikan

QS  :   Al A’Raaf  Ayat  35
مَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya   :
maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Firman Allah diatas inilah yang menjelaskan kepada kita , bahwa orang bertaqwa senantiasa melakukan perbaikan pada jagad semesta ini , perhatikan seluruh kalimatnya .

Hadits  :
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
Artinya   :
Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74). ( bersambung ke bagian tiga ). 

TerPopuler