Naturalisasi Pemain Untuk Siapa ? -->

Naturalisasi Pemain Untuk Siapa ?

Jumat, 07 Agustus 2020, Agustus 07, 2020

Republiknews.com- Memasuki hari kedua dalam rangka meriset dan mendata para ‘naturalisasi’ di Belanda. mBah Coco, coba bercerita, tentang masalah naturalisasi, yang belakangan santer, mau dijalankan PSSI.

Ini, adalah bagian ke-3, cerita proposal, seolah-olah membangun bola Indonesia.

mBah Coco dan kawan-kawan, dijadwal nonton Divisi Satu (Eerste Divisie) Liga Belanda.

 Lokasinya, lumayan jauh, sekitar tiga jam dari Amsterdam. Tepatnya di kota Zwolle, dimana akan bertanding Zwolle vs Cambuur. Menurut tim pemandu, bisa langsung lihat ada dua pemain berdarah Indonesia. Siapa tau, tertarik diajak naturalisasi.

Salah satunya adalah Jeffrey De Visscher, pemain sayap kanan Cambuur-Leeuwarden. Sepanjang 90 menit dlihat, ternyata di atas rata-rata mainnya.

walaupun pertandingan berakhir seri, tapi Jeffrey boleh juga dipanggil dan diseleksi. Bukan untuk dipilih langsung.

Karena bukan ororitas dan domain mBah Coco, untuk memutuskan, kami hanya meriset dan mendata, seberapa banyak pemain berdarah Indonesia yang bermain bola di Belanda, dan tertarik masuk tim nasional Indonesia.

Setelah mBah Coco nonton Jeffrey, setengah jam berikutnya Jeffrey sudah dalam keadaan rapi memakai jas, dan klimis rambutnya menyambangi tim kami lewat pemandu kami.

“Hai apa kabar,” kata Jeffrey kepada M. Nigara yang berada paling deket dengan Jeffrey langsung nyrocos berbahasa Indonesia.

“Kamu orang Indonesia ya, wajahmu tidak ada wajah Indonesianya,” kata Nigara kepada Jeffrey.

Kemudian dijawab oleh pemain dengan tinggi 180 cm itu. “Bapak saya asli Bandung, tapi saya belum pernah ke Bandung, dan saya ingin sekali ke Bandung. Ibu saya asli Holland,” jawab Jeffrey. “Saya sering belajar bahasa Indonesia dengan bapak saya,” lanjutnya.

“Apa tertarik bermain untuk tim nasional Indonesia,” kata Nigara. Trus dijawab oleh Jeffrey, bahwa semua pemain mana pun pasti mau jika dapat kesempatan bermain untuk tim nasional.

Tapi untuk dirinya tidak mudah, karena menyangkut adminstrasi di klub, administrasi di agen-nya, dan administrasi di Belanda dan indonesia.

Jeffrey memberi contoh, dirinya bisa bermain dan siap membela Indonesia, tapi kalau klub tidak memperbolehkan dirinya bermain untuk timnas juga repot.

Pasalnya, jadwal tanding Indonesia, menghadapi lawan-lawannya, partai friendly match, harus ada ‘hitam putihnya’.

Jeffrey masih bertutur bahwa, setiap pemain berdarah Indonesia, selalu ingin mengetahui sejarah prestasi Indonesia, sejak bermain di Piala Dunia, Piala Asia, Olimpiade sampai ke SEA Games.

Setiap calon naturalisasi, pasti ingin mengetahui siapa pelatih yang pernah menukangi timnas Indonesia.

Setiap pemain ingin tanya profil-profil track record pemain Indonesia yang bergabung di timnas. Jikapara kandidat naturalisasi buta, terhadap calon tim nasionalnya, dipastikan tak berminat, walaupun di fasilitasnya bintang kelas lima.

mBah Coco, teringat cerita Jules Onana, mantan kapten Kamerun World Cup 1998, yang pernah bermain di Liga Indonesia untuk Pelita Jaya dan Persita Tangerang. Dan, kini sudah kembali ke negerinya.

Onana pernah mengusir Patrick Mboba, striker Kemarun. Pasalnya, ujug-ujug Patrick Mboma, masuk pelatnas Kamerun menjelang persiapan World Cup 1998.

Mboma berani masuk tim Kamerun, setelah frustasi menunggu jawaban dari federasi bola Perancis. Apakah dirinya, bisa memakai jersey “Ayam Jantan” Perancis atau tidak.

Maklum, Mboma saat itu, mampu menjadi topscore J-League Jepang, setelah bermain dua musim di Perancis. Mboma berambisi, bisa dipanggil tim nasional Perancis.

Ternyata, Mboma tak pernah memakai kostum biru-biru Perancis. Dan, diem-diem, ingin kembali memperkuat Kamerun.

“Kamu jangan seenaknya masuk tim Kamerun, kamu tidak bersusah payah sejak penyisiihan grup bersama Kamerun, dan kamu seenaknya mau langsung masuk Kamerun. Pulang kamu……” demikian gertak Onana kepada Mboma.

Dan, Onana berpesan, kalau kamu mau main untuk Kamerun, main saja untuk Olimpiade 2000 dan bergabunglah dengan Kamerun, sejak babak penyisihan grup di Afrika.

Ternyata Mboma menghormati dan sikap Onana dan nurut apa yang dikatakan kapten timnas Kamerun tersebut. Hasilnya, Mboma masuk timnas Kamerun dengan motivasi pembuktian yang luar biasa.

Di Olimpiade 2000, Kamerun meraih medali emas, sekaligus Mboma sebagai topscorenya….

Contoh lain dari cerita Onana. Kali ini ditujukan kepada Benoît Pierre David Assou-Ekotto, bek kiri Tottenham Hotspurs. Bahwa Ekotto bimbang dan ragu untuk pilihan membela timnas. Ekotto menurut Onana, sangat berharap bisa bergabung dengan tim nasional Perancis, karena sudah lama bermain bersama Lens, Liga Perancis.

Sementara, Kamerun sudah memanggil Ekotto untuk segera masuk pelatnas.
Apa jawab Onana kepada Ekotto, “Kamu tak mungkin masuk timnas Perancis, selama di posisimu ada Patrice Evra (Man-U) dan Bacara Sagna (Arsenal), karena keduanya yang pasti kepilih, dan keduanya seumuran denganmu 25 tahun. jadi lebih baik kamu, bermain untuk negaramu, dan kamu pasti terpilih jadi starter, ternyata, Kamrun lolos ke World Cup 2010,” demikian wejangan Onana, Januari 2009.

Prediksi Onana, sungguh mujarab, Ekotto terpilih bergabung dengan tim nasional, dan Kamerun lolos ke Afsel, serta posisi Ekotto di bek kiri Tottenham tak mungkin diambil young guns asal Wales – Gareth Bale saat itu, yang didengung-dengungkan, menjelma jadi Ryan Giggs-nya Spurs.

 Saat itu, Ekotto,sangat bangga, karena sudah punya CAP (pernah memperkuat tim nasional).

Situasi seperti inilah yang kini mendera banyak pemain naturalisasi, berdarah Indonesia yang bermain di Liga Belanda.

Mampukah mereka menjadi pilihan utama tim nasional Belanda? Sampai kapan, dirinya menunggu dipanggil tim Oranye?
Kalau tak pernah terpilih, akibat banyak pemain berbakat, di tim Belanda.

Apa pilihan keduanya? Kalau diajak bergabung dengan timnas Indonesia, Apakah timnas Indonesia bisa hebat setelah ada naturalisasi? Kalau gagal membawa timnas maka reputasinya semakin menurun, dan dampaknya bisa menjadi pemain cadangan di klubnya.

Pergulatan seperti inilah yang dialami anak-anak berdarah Indonesia yang merumput di Liga Belanda.

Tidak semua pemain berdarah Indonesia, punya keberuntungan membela tim Oranye Belanda, seperti Simon Tahamata (70-an), Brian Roy dan Sonny Siloy (80-an) serta Robin van Persie (2000-an).

Ada ribuan pemain imigran yang bermain di Liga Belanda, tidak saja dari Indonesia, tapi juga dari Afrika, Asia dan Amerika Latin).

Namun, ribuan anak-anak imigran, juga berharap punya kebanggaan memiliki CAP, seperti yang sudah diraih Ekotto. Ternyata, oarang seperti Ekotto dan Jeffrey, berpikirnrya ingin meraih CAP, bukan mencari uang.

Karena, keduanya sudah lebih dari milyader bayarannya. Kondisi seperti inilah yang bisa ditangkep dari keinginan pemerintah dan pemain, jika difasilitasi oleh Nirwan Bakrie khusus untuk masalah naturalisasi.

Sebetulnya ada contoh unik, ketika si kembar Manchester United, Fabio dan Rafael dan Silva, ditemukan taltent-nya di Man-U saat ujicoba ke Hongkong, turnamen yunior. Sampai hari itu, kedua anak imut-imut galak itu, ternyata belum berpikir untuk tim nasionaol.

 Walaupun, aslinya si kembar itu warga negara Brasil. Hanya saja, federasi sepak bola Portugal, diam-diam justru mendekati agen Fabio dan Rafael, agar bersedia membela tim nasional Portugal.

Meriset data naturalisasi di kawasan Belanda, belum perlu berhenti. mBah Coco, seusai ngobrol ngalor-ngidul soal sepak bola naturalisasi.

 Akhirnya, bisa ketemu, dengan salah satu yang juga berdarah Indonesia dari Ambon, Dominggus Yoenoes Roberto Lim Duan. Saat itu, bermain di FC Zwolle, sebagai gelandang bertahan,.

Lim Duam, tidak tinggi, hanya 170 cm, untuk ukuran pemain Eropa. Ayahnya ngotot, agar anaknya bisa bermain untuk tim nasional Indonesia.

Gerakannya mirip seperti Genarro Gattuso dari AC Milan, tanpa kompromi, taktis dan mampu menjadi playmaker di saat dibutuhkan. Umpan-umpannya terukur dan selalu membahayakan.

Lim Duam, saat bertatap muka dengan tim mBah Coco di Ultrech pemalu. Yang nyrocos terus-menerus bapaknya. Ayahnya, Dominggus Yoenoes bertutur, bahwa mereka ke Belanda bukan orang-orang RMS, yang pernah diuber-uber pemerintah Indonesia di jaman Soekarno.

“Kami dari Belanda, karena kami punya saudara di Belanda, dan saya akhirnya nikah dengan wanita Belanda,” demikian tutur Yoenoes.

Bahkan, kata Yoenoes, dirinya sering bolak-balik belanda – Indonesia, tapi tidak ke Ambon, melainkan ke Surabaya. “Ada adik dan ibu saya tinggal di Surabaya, jadi kami dikit-dikit juga akhirnya bisa bahasa Jawa Surabaya,” tambah Yoenoes.

Yoenoes bercerita, Lim Duan, sudah pasti tak bisa membela timnas Belanda. Karena usianya sudah 24 tahun. Tapi, melihat bakat dan skill-nya, masih mampu bersaing dengan pemain-pemain Asia, jika Indonesia menghadapi tim–tim Asia, dalam event Asian Games, pra-Olimpiade, atau SEA Games.

“Anak kami juga butuh CAP, jika tetap menjadi andalan Zwolle, jika mampu masuk ke divisi utama Belanda musim depan,” tegasnya. Saat itu posisi Zwolle urutan ke-4 Divisi Satu Liga Belanda.

Hunting naturalisasi bagi mBah Coco, yang baru dua tiga hari di belanda, ada yang menarik dari usulan ketua pemandu. Isu dan gosip, serta rumor warga Indonesia di Belanda. Jika melihat orang Indonesia, berdarah Maluku, pasti dianggap Republik Maluku Selatan (RMS).

Namun, warga Maluku di Belanda, lebih realistis bahwa masalah RMS, tidak pernah lagi menjadi topik utama bagi komunitas masyarakat Ambon di Belanda. Sebut saja, Chris Patipana, sebagai tokoh – sesepuh sepak bola Belanda asal Ambon. Chris, sangat kenal baik dengan semua pengurus klub-klub Liga Belanda, baik divisi utama atau divisi satunya.

Menurut Chris Patipana, sebetulnya masalah naturalisasi, sudah mencuat sejak Simon Tahamata, asli berdarah Ambon 100% dari bapak dan ibunya. Saat berminat, masuk tim nasional Indonesia, justru terganjal. Ali Sadikin, sebagai ketum PSSI yang anti RMS. Akhirnya Simon Tahamata, memilih tim oranye Belanda sebagai legenda.

Chris Patipana memberi ilustrasi kepada mBah Coco, masalah naturalisasi, yang paling penting, sebetulnya out-put-nya. Ketika Habibie sebagai wakil presiden dan presiden, tak ada berita tentang Habibie yang menyangkut keduakewarganegaraan Jerman dan Indonesia. Pasalnya, output-nya Habibie, mengharumkan nama bangsa dan negara RI.

Chris yang bekerja, untuk masalah kewarganegaraan orang-orang Ambon dan suku lainnya di Belanda, juga menjelaskan, ketika Alan Budikusuma, meraih emas Olimpiade 1992, hampir tidak ada yang mempermasalahkan sah atau tidak emasnya Alan Budikusuma, karena saat itu Alan tidak punya kewarganeraan Indonesia.

Semua warga Indonesia, taunya hanya bangga, Alan meraih emas olimpiade.
Artinya, output kedua orang itu, hanya satu kebanggan negara RI.

Weleh-weleh bicara warganegara ganda atau tidak, mBah Coco dapat infonya dari orang RMS yang cinta Indonesia, Chris Patipana.

mBah Coco tanya ke Chris. Kenapa kalau RMS tidak lagi bicarakan tentang RMS, tidak pulang ke Indonesia? Trus dijawab, “Saya sudah tidak perlu, tapi anak dan cucu saya masih sering mondar-mandir ke Jakarta dan Ambon, biarkan mereka bisa melihat langsung tanah leluhurnya, dan bisa memilih, Apakah mereka mau jadi warga negara Indonesia atau Belanda, saya tidak memaksa?” jawabnya.

Masih menurut Chris, nikmatnya dan rejekinya orang-orang berdarah Indonesia dari suku mana pun, mendapat keistimewaan yang berbeda dengan orang-orang yang berasal dari Asia mau pun Afrika.

“Saya nggak tau, ini masalah historisnya Belanda dan Indonesia,” kata Chris. Kalau ada orang berdarah Indonesia di tengah usianya memilih jadi warga negara Indonesia, dan nanti kalau ujug-ujug, ingin kembali menjadi warga negara Belanda, diterima dengan tangan terbuka.

Weleh-weleh sopan banget, bangsa belanda yang pu’kimak-nya itu.
Bagi mBah Coco, pengalaman meriset data naturalism, hanya sebatas menambah wawasan.

 Toh, keputusannya, bukan domain mBah Coco. Naturalisasi bisa dilakoni atau tidak, semua berpulang kepada keputusan pengurus PSSI.

Jika, saat itu, Nirwan Bakrie, minta mBah Coco, ditawari membuat konsep membangun pembinaan dan kompetisi di PSSI. Bisa jadi, saat itu, permintaan riset ke Belanda, untuk meriset naturalisasi, ditolak.

mBah Coco, saat itu, tak punya ambisi, jadi pengurus PSSI. mBah Coco, ditakdirkan hanya menjadi pengamat sepak bola nasional, dan bisa bekerja untuk sepak bola di luar PSSI. Kebetula, dapat kesempatan untuk meriset, awal gagasan untuk naturalisasi pemain sepakbola, dengan tujuan jangan pendek.

Jika naturalisasi disalah-artikan, sebagai pembinaan jangka panjang. Maka, menurut mBah Coco, sepak bola Indonesia akan semakin sulit bersaing dengan negara-negara kasawan Asia Tenggara. Apalagi ke level Asia. Itu yang diwanti-wanti, saat berangkat ke Belanda.mBah Cocomeo/TOR-06


Tamrin Lahiya

TerPopuler