Naturalisasi Pertanyakan Timnas Indonesia -->

Naturalisasi Pertanyakan Timnas Indonesia

Jumat, 28 Agustus 2020, Agustus 28, 2020

mBah Coco, hari ketiga, melakukan riset naturalisasi, diberi kesempatan membedah dan mendata, para pemain yang masih memiliki darah Indonesia. Hanya saja, mereka-mereka yang ditemui mBah Coco dan kawan-kawan, menanyakan prestasi dan karakter pelatih nasional Indonesia.

Saat menunggu sesi latihan di delapan (8) lapangan milik sekolah Ajax, Brian Roy, dengan setia mau memberi masukan banyak, dan bahkan mantan sayap tim nasional Belanda berujar.

Dirinya juga masih ada darah Ambon. Saat usia muda, dirinya pernah mendengar, Simon Tahamata, yang juga legenda Ajax, pernah ditolak pemerintah Indonesia, jaman Ali Sadikin.

Salah satu pemain nasional Belanda di World Cup 1994 dan 1998 bertutur, bahwa jika ada tim pemandu asal Indonesia, sudah masuk Belanda tahun awal tahun 2000, mungkin bisa merayu Robin van Persie.

Menurut Brian Roy, saat itu kondisi van Persie sedang labil dalam usia 17 tahun, bahkan kondisi psikologis mimbang mau bermain bola, atau terjerat dalam dunia kenakalan gank anak-anak muda di Rotterdam.

Sebelum dipilih KNVB sebagai young guns terbaik 2001, van Persie adalah bagian dari kumpulan anak- gandk kota besar seperti Rotterdam. Di mana pergaualannya bersama anak-anak imigran dari Suriname, Maroko, Nigeria dan kawasan imigran Karibia.

Masih menurut Bryan Roy, yang ditunjuk saat itu menjadi pelatih Jong Ajax U-13, ternyata KNVB lebih jeli ketimbang scouting klub-klub besar. Dengan taktik memberi gelar sebagai pemain berbakat. Dampak positifnya, pemain sekaliber van Persie, termotivasi, dan talenta keluar semua, dan mentalnya semakin percaya diri.

Sayang sekali, dari pengamatan mBah Coco, selama berada di sekitar sepak bola nasional, jarang PSSI memberi penghargaan secara benar kepada pemain berbakat.

Karena kompetisi usia muda, tidak dibangun dengan benar. Harusnya, PSSI dengan mudah mencontoh sistem pembinaan yang sudah mapan, seperti KNVB, atau PSSI-nya Belanda.

Bryan Roy, sebagai salah satu pelatih pemula, dengan sertifikat D-3, khusus anak-anak berbakat di Ajax, menanyakan tentang masalah keseriusan tim mBah Coco dkk selama di Belanda, jika serius tujuannya me-naturalisasi.

Salah satu pemanda tim mBah Coco, Polly Roemloes, saat menterjemahkan dialognya dengan Brian Roy menyebutkan, bahwa salah satu hal yang terpenting bagi pemain naturalisasi, jika diinginkan sebuah Negara. Maka pertanyaan yang penting adalah mengenai data – data Timnas Indonesia, lima (5) tahun terakhir.

Contohnya :
1. Melawan siapa saja Timnas Indonesia selama 5 tahun terakhir? Dan berapa skor nya?
2. Tournament atau kualifikasi apa saja yang sudah dilakoni Timnas Indonesia selama lima (5) tahun terakhir ini ?
3. Hasil apa saja yang sudah diraih Timnas selama lima (5) tahun terakhir ?
4. Siapa pelatihnya ? Dan, bagaimana track record pelatih, selama pegang di klubnya, termasuk menjuarai apa saja, selama jadi arsitek klubnya, sekaligus latar belakang track record pelatih Timnas Indonesia?
5. Apakah PSSI memiliki profil pelatih yang diusulkan untuk melatih Timnas Indonesia ?
6. Progam latihan apa saja yang didapat sama pemain – pemain yang ada di Indonesia?
7. Apakah rencana PSSI membangun infrastruktur Timnas lima (5) sampai 10 tahun ke depan, termasuk target-target yang diinginkan PSSI?

Karena mBah Coco, sudah siapkan, Brian Roy membaca dengan hati-hati, melihat data-data yang diberikan. Lantas, apa jawab Brian Roy, “Lebih baik ada tim PSSI, datang ke Ajax untuk konsultasi,” tegasnya.

Gambaran, yang ada, hubungan Belanda – Indonesia, punya ikatan, 100 tahun. Gara-gara “dosa” Belanda kepada Indonesia.

Menurut Brian Roy, Indonesia bisa meminta bantuan kepada pemerintah Belanda, agar ada instruktur – kepelatihan didatangkan ke Indonesia setiap tahunnya. Semuanya, untuk pengetahuan – ilmu sepak bola, yang bisa ditularkan ke sekolah-sekolah sepak bola, atau pun pembinaan klub usia muda (maksudnya SSB).

mBah Coco, teringat dengan wejangan Henk Wullem, mantan pelatih Bandung Raya, saat menjuarai Liga Indonesia 1995-96. Jika Indonesia bareng PSSI, serius ing9in membangun pembinaan sepakbola moderen, pemerintah Belanda pasti membantu secara gratis.

Pemerintah Belanda, punya hutang dosa, kepada pemerintah Indonesia. Penggatinya, semua ilmu pengetahuan, di segala bidang, dikerahkan untuk Indonesia, jika Indonesia mau mengambil hutang dosa tersebut.

Saat itu, Tri Goestoro, Sekjen PSSI di jaman Agum Gumelar, sudah menyurati pemerintah dalam hal ini menteri luar negeri Indonesia. Namun, hanya saja, tak ada tanggapan dan sia-sia. Padahal, sampai saat ini, hutang dosa ini, masih berlaku, jika mau G to G, atntara Indonesia dan Belanda.

Menurut Brian Roy, setelah membaca sepak terjang dan prestasi tim nasional selama lima (5) tahun terakhir. Disarankan, bertemu dengan Simon Tahamata.

Karena dia, satu-satunya pemain berdarah Ambon, yang peduli dengan pemerataan sepak bola di negara dunia ketiga, seperti Indonesia.

Dan, Simon Tahamata, memang di plot untuk membantu semua negara-negara yang sulit memajukan sepak bolanya. Mungkin di tahun 70-an mirip peran Wiel Coerver.

Ketika ditanya tentang anak-anak keturunan berdarah Indonesia, yang bermain di Ajax. Brian Roy menyebutkan, dua musim lalu ada dua pemain, yaitu Michael Timisela dan Christian Supusepa.

Namun, musim ini (2009) hanya Christian Supusepa yang naik menjadi pemain reserve (pemain muda yang disiapkan menjadi pemain utama, di saat ada pemain inti Ajax Amsterdam yang cedera).

Sedangkan Michael Timisela, sudah pindah ke VVV Verlo, anggora Divisi Satu Liga Belanda.

Menurut Bryan Roy, Michael Timisela, dulu seingatnya di posisi bek tengah, bisa bermain sebagai libero, juga mampu bermain stopper. Usianya juga sudah 23 tahun. Mungkin, karena merasa sulit bersaing dengan pemain lainya, Michael Timisela pindah.

“Kalau mau melihat raport-nya ada di database Ajax, dan bisa diminta jika diperlukan,” kata Bryan Roy.

Sedangkan Christian Supusepa, sepertinya masih dipertahankan oleh pelatih senior Ajax. Karena di posisi bek kiri, Ajax Amsterdam sepertinya masih membutuhka tenaga Supupesa, walaupun posisinya sebagai tim reserve.

Bryan Roy, juga mengatakan nanti malam, ada pertandingan Ajax Reserve bertandingan dengan salah satu tim reserve sesama anggota Liga Belanda.

“Silahkan nonton aksi-aksi Christian Supusepa di lapangan utama,” lanjutnya.
Setiap tim reserve (tim cadangan) di Belanda, diwajibkan bertanding dengan sesama tim reserve, agar kondisinya dan mental bertandingnya tetap bertanding.

Kalau Di Inggris, justru tim reserve Manchester United yang dilatih Ole Gunnar Solkjaer, justru ada kompetisinya hanya di sekitar propinsinya saja.

Tim Reserve, adalah bagian sebuah klub, yang penting dalam menjaga stabilitas teamwork tim utamanya. Sebagian tim reserve ini, pemain yang dalam rangka penyembuhan cederanya. diberi kesempatan pemulihannya masuk dalam skuad tim reserve.

mBah Coco teringat, tim reserve di setiap klub anggota Super Liga Indonesia, tidak terlihat melakukan cara-cara seperti klub Eropa. Karena, pasti tak punya pengetahuan dan wawasan seperti itu dalam ofisial timnya.

 Jika, punya wawasan pun, tak punya anggaran untuk memutar kompetisi tim reserve seperti itu.

Tahun 2009, rata-rata pemain Super Liga Indonesia (SLI), didaftarkan ke BLI, 24 pemain. Seingat mbah Coco, Persiwa Wamena, hanya punya 22 pemain.

Sedangkan Persiwa U-21 yang juga diputar kompetisinya, hanya punya 20 pemain.
Jika, tim Persiwa sedang berlaga ke daerah lain, maka tim yang dibawa hanya 18 pemain.

Berarti, pemain yang ditinggal di kota Wamena hanya 6 pemain, kalau ada yang cedera bisa jadi tinggal 4 pemain. Maka, tak mungkin empat (4) pemain yang tersisa bertanding di level lokal, agar kondisi, skillnya terjaga seperti skuad intinya. Lha, wong pemainnya hanya empat (4).

Bagaimana bisa bermain, sebagai tim reserve? Katakanlah, sisa pemain U-21, juga ada yang tertinggal akibat cedera, maka jumlahnya hanya 2 pemain. Jadi, tetap tak mampu membuat tim reserve.

Ini hanya contoh kecil, dalam membangun sebuah klub di Indonesia. Pengamatan mBah Coco, semua klub SLI, bermental amatir. Karena, sejak didirikan berbadan hukum,tak punya modal dana, tapi, hanya minta APBD. Maka, dijamin tak punya bikin tim reserve, tak punya stadion, dan hanya punya fanatisme sempit dalam suporternya.

Mental suporternya, dari pengamatan mbah Coco, maunya hanya ingin menang melulu, tak mau melihat kekalahan. Artinya, mental penonton ini, jauh dari dewasa, walaupun ada beberapa kelompok suporter yang mau diajak dewasa. Butuh proses panjang.

Bicara klub-klub elit, seperti Ajax Amsterdam, banyak cerita yang asyik-asyik, dan banyak nambah wawasan, serta bisa belajar tentang sifat-sifat klub. Maklum, mBah Coco dan kawan-kawan, berpikir, sifat dan karakter membangun sepakbola, sekadar hobi ketimbang, membangun membangun bisnis dan industri.

Bahkan, saat itu, ketum PSSI, mantan narapidana, masih ngotot dipertahankan, 108 anggotanya.

Kembali ke kawah candradimuka, academy Ajax Amsterdam. Hari kelima, mBah Coco penasaran, ingin melihat penampilan Christian Supusepa.

 Siapa tau bisa ngbrol atau mungkin bisa menggali lebih banyak tentang konsep bermain sepak bola, dalam usia yang benar-benar matang.

 Sambil “cem ombak” cita-citanya dan masa depannya?
Menurut Polly Roemloes, yang sering mondar-mandir, sebagai orang yang terbiasa ngurus imigran-imigran gelap di Belanda dari Indonesia. Menjelaskan dengan gamblang, apa saja yang menjadi pilihan hidup anak-anak keturuan asal Indonesia.

Jika, seorang berdarah Indonesia, punya tekad dan ambisi sebagai pemain bola profesional. Maka, urusannya adalah berkompetisi dan mengadu skill, wajib berkerja ekstra keras, di usia muda. Karena KNVB, selalu punya tim telent, untuk kandidat skuad timnsas Belanda U-17, U-19, U-21,di level Eropa ataupun dunia.

Khusus, Christian Supusepa, adalah usia genting untuk memilih dan melihat kompetitornya di posisinya. Christian Supusepa, bernomor punggung 42 di Ajax reserve, punya kemampuan bermain di bek kiri dan bek kanan. Bahkan, nyaman jika bermain di sayap kanan ataupun sayap kiri. Mbah Coco teringat penampilan kapten Belanda, Giovanni van Bronckhorst, yang juga sangat kental darah Ambon-nya.

Dari database yang didapat mBah Coco, posisi Christian Supusepa, ada 20 pemain berbakat yang diincar, bisa masuk dalam seleksi tim nasional Oranye U-21. Dalam kondisi seperti itu, menurut Polly, pemain kayak Christian Supusepa bisa grogi, atau pun bisa semakin percaya diri. Karena, faktanya dalam dua dekade ini, tim Oranye selalu punya pemain berdarah Indonesia (khususnya Ambon).

Menurut bapaknya, Christian Supusepa, dari cerita Polly, pilihan sebagai pemain nasional Indonesia, isa jadi pilihan terakhir. Artinya sampai usia 22 tahun nanti, Christian Supusepa masih punya peluang, sama bagusnya dengan pemain asli Belanda, memperkuat tim Oranye.

Dengan tinggi ideal 180 cm, Christian Supusepa memang layak memilih jalan hidupnya untuk timnas Belanda, ketimbang timnas Indonesia. Tapi, menurut Polly, siapa tau Christian Supusepa, bisa dibujuk PSSI, dan mau bermain membela ‘Merah Putih”?

Semuanya tergantung Christian sendiri, dan sejauh mana PSSI serius mengurus semua perijinan, yang dinginkan Christian Supusepa. Apalagi bicara melepas status kewarganegaraan. Karena PSSI, tidak bisa leyeh-leyeh,wajib fakus membujuk anak-anak berdarah Indonesia, yang bermain di kawasan Belanda.

Tim yang digalang Yesayas Oktoavinus, di kota-kota yang berbeda dengan mbah Coco, untuk meriset pemain ‘naturalisasi, memberi kabar, sebagian pemain yang bisa ditemui, rata-rata, bersemangat, mengisi formulir, untuk siap menjadi warga negara dan siap memperkuat tim nasional Indonesia.

mBah Coco, merasa senang, bisa meriset data pemain naturalisasi. Jalan-jalan dengan biaya murah, dapat pengalaman baru, wawasan baru. Tak lagi gunakan “kacamata kuda”, seperti kebanyakan pengurus dan ofisial bola di Tanah Air.
Harus diakui, sepak bola, memang bukan milik asli bangsa Indonesia. Jadi, perlu dapat pengatahuan, tentang bola tidak hanya lewat internet, televisi ataupun denger-denger.

 Tapi, bisa langsung mendata, melihat dan mendengar sendiri. Cukup bermodal 20 juta rupiah, dapat ilmu manajemen klub-klub Belanda, sama seperti ambil gelar S-2 dengan harga segitu.

Cerita besok, ada cerita baru, kebetulan diundang gerombolan pemain bola, yang bermain di klub-klub sekitar kota Eindhoven, bersama orang tuanya. Katanya, kami akan disambut oleh Mohamad Rigan Agachi, asli anak Indonesia yang main bola di Geldrop AEK, liga amatir kota Eidhoven, Belanda. (mBah Cocomeo/TOR-06/ Tamrin Lahiya)

TerPopuler