Membimbing Akal di Jalan Yang Lurus -->

Membimbing Akal di Jalan Yang Lurus

Jumat, 25 September 2020, September 25, 2020
ilustrasi. dream.co.id

Dalam kehidupan manusia, Allah memberikan hak dasar yang sama, yakni hak kebebasan memilih. Dan pilihannya pun hanya dua, yaitu :
1. Jalan hidup yang lurus ( Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm.
2. Jalan syaithan ( khutuwatisyaithan), yang diberikannya kebebasan manusia dalam memilih.

Allah mengisyaratkan kepada manusia bahwa DIALAH RAJA, Dialah Allah Tuhan yang tidak merasa rugi kalau manusia mengingkarinya.

Dan tidak pula merasa bertambah kekuasaannya bila manusia menyembah. DIALAH ALLAH yang tidak bergantung kepada makhluknya.

Setelahnya tidak ada lagi pilihan, yang ada konsekwensi(tanggung jawab) atas pilihannya tersebut.

Semua tahu bahwa pilihan tersebut, didalamnya ada janji janji dan pula ancaman ancamannya.

Dikarenakan pilihannya hanya dua, maka pilihlah salah satunya yang dianggap menguntungkan bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dan tempuhlah dengan penuh kesungguhan.

• Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
 (jalan yang lurus), sudah pasti di dunia ini tidak akan pernah bahagia, karena manusia akan mengarungi samudera ujian keimanan dari Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah dalam Quran surah Al Baqarah ayat 214 yang artinya, " Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

Tetapi yakinlah bila sabar dan shalat jadi penolongnya, pastilah kenikmatan dari Allah sebagai balasannya didunia, maupun diakhirat kelak.

• Khutuwatisyaitaan(langkah langkah syaitan) sebagai pilihan, keniscayaan ujian ujian dari syaitan akan menimpa dan ditimpakan sebagai bukti kesetiaan orang tersebut sebagai pengikutnya.

• Dan bila tidak ada lagi pilihan atau rencana ketiga, tetapi pasti pada masa sekarang ini manusia tertipu dengan fatamorgana jalan ketiga ini yaitu Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
dan khutuwatisyaitan mencampur adukkan antara hak dan bathil.

Disinilah kegelapan manusia dalam menuju Islamull Kaffah, dikarenakan jalan Tuhan(yang lurus) dikerjakan dan langkah langkah syaitan yang menyesatkan dilaksanakan jua.

Pada kehidupan sekarang ini, manusia berlomba lomba dalam meraih kemewahan walau dengan cara apapun ditempuh.

Kebenaran hanya dijadikan pakaian, agar terlihat shaleh. Sehingga yang hak dan yang bathil dikerjakan beriringan demi mendapatkan kemuliaan dunia.

Dan yang lebih parah lagi, kebenaran hanya dilihat dari penampilan ibadah, fasih dalam bacaan bacaan kitab suci, berlagak shaleh dari pandangan dzahirnya saja.

Yang demikian inilah sifat sifat orang munafik, yaitu ubuddunya(cinta dunia) didasar nerakalah tempat bagi orang orang munafik itu, naudzubillahimindzaliq.

Allah mengamanahkan akal kepada manusia, yang dengan itu membedakan manusia dengan binatang, jin dan makhluk lainnya.

Maka dari itu, bimbinglah akal untuk senantiasa mengkaji Al Quran, agar menjadi akal yang dirahmati.

Insya Allah bila akal kita sudah dirahmati, maka kita tidak akan salah dalam menentukan pilihan yang ditawarkan Allah SWT yaitu
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
(jalan hidup yang lurus) sehingga kita tidak termasuk orang orang yang merugi.

Artikel ditulis oleh : Haris Wibowo.
jumat : 25-09-2020. 

TerPopuler