TAJJALI DILARANG DALAM ISLAM -->

TAJJALI DILARANG DALAM ISLAM

Kamis, 10 September 2020, September 10, 2020
gambar ilustrasi, sumber: blogmuslimbekasi.com

Sebelum kita membahas lebih kedalam tentang perihal Tajjali yang akan kita bahas kali ini, yang dilarang didalam Islam adalah Tajjalinya seseorang yang menyatu dengan Ruhnya Para Wali.

Tajjali yang seperti inilah yang dimaksud. Apakah Tajjali memiliki banyak Ragam ? pada Dunia Tasawwuf ada yang memahami tentang Tajjali dalam hal Pengenalan antara hamba dengan Sang Khaliq ,seperti contoh disadur dari Kompasiana.com oleh Muhsin Assegaf pada tanggal 14 Agustus 2010 kemudian diperbarui pada 26 Juni 2015, tentang tajjali yang dipahami dalam dunia Tasawwuf adalah :

Tajalli berasal dari kata dalam bahasa Arab, yang biasa diartikan dengan bahasa kita dengan manifestasi. Manifestasi sendiri berarti penampakan atau perwujudan dari sesuatu yang tidak kelihatan. Jadi, apabila ada yang menampakkan siapa dirinya dalam suatu media tertentu, media tersebut dikatakan manifestasi atau tajalli. Paling mudah kita bisa menemukan penampakan diri kita di dalam sebuah cermin di hadapan kita. Apa yang kita saksikan pada cermin sungguh seratus persen sama dengan seperti apa tubuh dan fisik kita, tidak sedikit pun meleset, kecuali kenyataan bahwa kita dalam cermin hanya terbentuk dari dua dimensi saja.

Tajjali seperti ini yang dipahami dalam dunia tasawwuf adalah sah. Kenapa ? karena bila disimpulkan tulisan tersebut diatas, adalah cara seseorang dalam hal pengenalan terhadap Tuhannya. Karena dalam dunia tasawwuf sendiri terdapat pelajaran tentang LADUNI. atau yang lazim disebut dengan Ilmu Laduni . kita tidak akan membahas tentang Ilmu Laduni tersebut. Akan tetapi hanya sekedar masukan saja bagi para pembaca, bahwasannya Laduni terbagi menjadi dua bagian. 1.Laduni yang bisa di ajarkan kepada orang lain (Kaum Muslimin) 2. Laduni yang tidak bisa diajarkan kepada orang lain. Laduni yang bisa diajarkan kepada orang lain, manakala Laduni tersebut yang diterima oleh seseorang yang bila diimplementasikan kedalam Rumusan Al Qur’an dan Hadits, kemudian Laduni tersebut sejalan. Maka Laduni semacam inilah yang bisa diajarkan kepada orang lain (kaum Muslimin), sedangkan Laduni yang tidak bisa diajarkan kepada orang lain, manakala laduni tersebut yang diterima oleh seseorang , kemudian tidak terdapat dalam Rumus-rumus didalam Al Qur’an dan Hadits Nabi. Itu artinya Laduni tersebut hanya bisa digunakan oleh orang yang menerimanya. Tidak bisa diajarkan.

Kenapa Tajjali Kemasukan Ruh Para Wali dilarang didalam Agama Islam ? , karena hal seperti itu tidak ada Didalam Al Qur’an dan Hadits Nabi, dengan kata lain Nabi Tidak mengajarinya.

Kemudian Fitnanya lebih besar, kenapa ? karena siapakah yang bisa mengetahui bahwa Ruh yang masuk kejasadnya seseorang adalah benar-benar Ruhnya Para wali ? kemudian Dia mengaku bahwasannya dirinya adalah Wali ini dan itu, untuk membuktikan bahwa yang bertajjali dengan dirinya adalah benar-benar Wali yang diucapkannya, maka orang yang hadir disitu akan bertanya kepada yang bertajjali tersebut , tentunya pertanyaan yang dilemparkan adalah pertanyaan yang ada hubungannya dengan wali Allah yang disebutkan bertajjali dengan diri seseorang, bila orang yang bertajjali itu , tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan atau jawabannya berbeda dengan kebiasaan dari seorang wali yang katanya bertajjali dengan dirinya, maka DIPASTIKAN yang bertajjali dengan dia adalah Ruh lain. Bukan Ruhnya Para wali . 

Apakah Ada Ruh lain yang bisa Masuk kedalam dirinya seseorang ?

Qs : Al-Baqarah Ayat 275

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya :

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Firman Allah inilah yang menjelaskan kepada kita tentang Ruh lain yang bisa masuk kedalam diri seseorang. Siapakah Ruh tersebut ? perhatikan kalimat pada Firman Allah diatas khusus pada kalimat : “ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri “ kalimat ini sangat jelas , bahwa orang yang memakan uang Riba (Hasil rente) membungakan uang dengan tidak jelas maka sesungguhnya mereka tidak akan dapat berdiri. Kenapa mereka tidak bisa berdiri , maksud kalimat ini berdirinya seperti apa ? maka perhatikan kalimat selanjutnya : “ melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” Kalimat ini sangat jelas maksudnya berdirinya seperti orang yang kemasukan setan, badannya seperti lumpuh,kemudian dia akan menjadi orang gila. Kalimat yang menjadi pelajaran kepada kita adalah kalimat : “ orang yang kemasukan syaitan “ . kalimat ini sangat jelas , Muhkamat. Orang yang kemasukan setan. Yang mengatakannya adalah Allah di dalam Al Qur’an itu artinya ada ruh lain yang bisa masuk kedalam diri kita yakni Ruhnya Syaithan. Kami tidak akan berasumsi kenapa sampai syaithan bisa masuk kedalam diri seseorang

Hadits :
 اللهم إني أعوذ بك من التردي والهرم والغرق والحرق وأعوذ بك أن يتخبطني الشيطان عند الموت

Artinya :

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung padamu dari bencana jatuh dari tempat yang tinggi, bencana pikun, bencana tenggelam dan terbakar, Aku berlindung padamu agar jangan dirasuki syaitan ketika akan mati”.

Hadits inilah yang menjelaskannya bahwa setan bisa masuk kedalam diri kita . perhatikan kalimat ini adalah doa Rosul yang diajarkan kepada kita selaku Umatnya. Perhatikan kalimat khusus pada kalimat : “ Aku berlindung padamu agar jangan dirasuki syaitan ketika akan mati”. Kalimat ini sangat jelas bila Rosulullah saja berdo’a kepada Allah agar dilindungi dari masuknya setan ketika menghadapi sakaratul maut , apa lagi kita yang bukan nabi pasti sangat muda bagi setan untuk bisa merasuk kedalam diri kita. Sehingga kita banyaklah memohon do’a kepada Allah sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Rosulullah Saw.

Hadits :
 عن عثمان بن أبي العاص قال استعملني رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أصغر الستة الذين وفدوا عليه من ثقيف وذلك أني كنت قرأت سورة البقرة فقلت يا رسول الله إن القرآن ينفلت مني فوضع يده على صدري وقال ياشيطان اخرج منصدرعثمان فما نسيت شيئا أريد حفظه ) صححه الالباني في السلسلة

Artinya :

Dari Utsman bi Abi al-Ash dia pernah berkata:”Rasulullah—shallallahu ,alaihi wa sallam –menugaskanku menjadi pegawainya padahal aku yang paling kecil dari enam orang yang menjadi utusan Tsaqif, hal itu disebabkan aku hafal surat Al-Baqarah, maka aku berkata:”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Al-Quran hilang dariku, maka beliau meletakkan tangannya diatas dadaku dan berkata:”Wahai syaitan, keluarlah dari dada Utsman, maka sejak itu aku tidak lagi lupa hafalanku. Hadis ini di sahihkan al-Alabani dalam silsilah shahihah.

Perhatikan kalimat pada hadits yang kedua : “ hal itu disebabkan aku hafal surat Al-Baqarah,” kalimat ini sangat jelas, kenapa Rosul memerintahkan sahabatnya Utsman bi Abi al-Ash, Karena Dia Menghafal Surah Al Baqarah jelas. Kalimat selanjutnya : “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya Al-Quran hilang dariku,” ini adalah ucapan dari Utsman bi Abi al-Ash kepada Rosulullah, dia merasa khawatir ditugaskannya oleh Nabi karena merasa Al Qur’an yang dihafalnya sudah hilang. Lantas apa yang dilakukan Nabi ? perhatikan kalimat selanjutnya :  ”Wahai syaitan, keluarlah dari dada Utsman” kalimat ini juga sangat jelas ,dimana syaithan bisa merasuk kedalam diri manusia tanpa permisi, kalau pada sahabat Nabi syaithan bisa melakukan hal tersebut, apalagi hanya kepada diri kita yang bukan merupakan sahabat Nabi, perlu diketahui bahwasannya setan sudah bersumpah dihadapan Allah Swt untuk menyesatkan anak cucu Adam, sehingga dengan adanya kekuatan setan yang mampu merasuki manusia kapan saja dan dimanapun orang tersebut , sehingga ajaran Tajjali dilarang didalam Islam.
Hadits :

 رأيت من النبي صلى الله عليه وسلم عجبا خرجت معه في سفر فنزلنا منزلا فأتته امرأة بصبي لها به لمم ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أخرج عدو الله أنا رسول الله ، قال : فبرأ فلما رجعنا جاءت أم الغلام بكبشين وشيء من أقط وسمن ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : يا يعلى ! خذ أحد الكبشين ، ورد عليها الآخر ، وخذ السمن والأقط ، قال : ففعلت ) رواه البخاري في دلائل النبوة

Artinya :

Aku melihat Nabi—shallahu ‘alaihi wa sallam—hal yang aneh, yaitu ketika dalam suatu perjalanan bersamanya, kami singgah di suatu tempat, maka datanglah seorang wanita membawa anaknya yang kecil dalam keadaan sakit. Maka berkata Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—;”Keluarlah –musuh Allah—aku adalah Rasulullah. Berkata (Ya’la): maka seketika dia sembuh. Tatkala kami berangkat pulang, maka ibu anak tersebutkan membawakan untuk kami dua ekor kambing dan sebagian susu kering dan minyak samin. Maka Rasulullah berkata:” Wahai Ya’la !ambillah seekor kambing saja dan kembalikan yang satu lainnya, dan ambillah susu kering dan samin tersebut”. Yala berkata:” Akupun mengambilnya. HR. Bukhari dalam Dalail an-Nubuwwah.

Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas dimana setan bisa masuk kepada siapa saja : “ datanglah seorang wanita membawa anaknya yang kecil dalam keadaan sakit.” Kalimat ini jelas bahwasannya ada seorang ibu yang datang kehadapan Rosul dengan membawa anaknya yang sedang sakit . kemudian kalimat : “ Maka berkata Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—;”Keluarlah –musuh Allah—aku adalah Rasulullah.” Kalimat ini sangat jelas bahwa Anak tersebut sakit dikarenakan Setan masuk merasukinya.

Sebelum kita membuat suatu kesimpulan perhatikan kalimat dari Ibnu Taimiyah
Berkata Syikhul Islam Ibnu Taimiyah:”

 ” ثبوت الجن ثابت بكتاب الله وسنة رسوله واتفاق سلف الأمة وأئمتها ، وكذلك دخول الجني في بدن الإنسان ثابت باتفاق أئمة أهل السنة والجماعة ” مجموع الفتاوى 25/246

Artinya :

Adanya jin adalah perkara yang ditetapkan dalam kitab Allah dan Sunnah NabiNya, serta disepakati oleh para salaf dari umat ini dan para Ulamanya, demikian juga dengan jin yang merasuki badan manusia adalah hal yang disepakati para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.(Majmu al fatawa 25/246.)
Kalau kita melihat ucapan dari syekhul Islam ini maka bisa disimpulkan bahwa kebanyakan yang yang dirasuki oleh Jin adalah Manusia. Sehingga berhati-hatilah . perhatikan sebuah hadits yang menjadi kunci kenapa Tajjali dilarang didalam Islam .

Hadits :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya :

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)
Dan BerTajjali tidak diajarkan oleh Rosulullah Saw .


(T.L)

TerPopuler