Babad Tanah Jawi Bag.1 -->

Babad Tanah Jawi Bag.1

Sabtu, 21 November 2020, November 21, 2020


Republiknews.com, Babad Tanah Jawi (aksara Jawa:ꦧꦧꦢ꧀ꦠꦤꦃꦗꦮꦶ, bahasa Indonesia: "Sejarah Tanah Jawa") adalah sebutan untuk kumpulan naskah berbahasa Jawa yang berisi sejarah raja-raja yang pernah bertahta di pulau Jawa. Terdapat beragam susunan dan isi dan tidak ditemukan salinan yang berusia lebih tua daripada abad ke-18. Dibuat sebagai suatu karya sastra sejarah yang berbentuk tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan zaman Mataram, buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal hal yang terjadi di tanah Jawa. Dilansir dari id.wikpedia.org


Buku ini juga memuat silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram, yang juga unik dalam buku ini sang penulis memberikan cantolan hingga nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam.


Silsilah raja-raja Pajajaran yang lebih dulu juga mendapat tempat. Berikutnya Majapahit, Demak, terus berurutan hingga sampai kerajaan Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18.


Buku ini telah dipakai sebagai salah satu babon rekonstruksi sejarah pulau Jawa. Namun menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis.


Versi


Babad Tanah Jawi  memiliki banyak versi. Menurut ahli sejarah Hoesein Djajadiningrat, kalau mau disederhanakan, keragaman versi itu dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja ini lah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertanggal tahun 1722.


Perbedaan keduanya terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan, sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.


Babad Tanah Jawi telah menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Antara lain, H. J. de Graaf. Menurutnya, apa yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai zaman Kartasura pada abad ke-18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita setelah era itu, de Graaf tidak berani menyebutnya sebagai data sejarah karena terlalu sarat dengan campuran mitologi, kosmologi, dan dongeng.


Selain Graaf, J.J. Meinsma berada di daftar peminat Babad Tanah Jawi. Bahkan pada tahun 1874, dia menerbitkan versi prosa yang dikerjakan oleh Kertapraja. Meinsma mendasarkan karyanya pada babad yang ditulis Carik Braja. Karya Meinsma ini lah yang banyak beredar hingga kini.


Menjelang Perang Dunia II, Balai Pustaka juga menerbitkan berpuluh-puluh jilid Babad Tanah Jawi dalam bentuk aslinya. Asli sesungguhnya karena dalam bentuk tembang dan tulisan Jawa.


Penguasa Mataram


Dapunta Hyang (671 M - 702 M)

Sri Indra Warman (702 M - 775 M)

Wisnu Warman (775 M - 782 M)

Daranindra (Sri Wirarairimathana) (782 M - 812 M)

Samara Tungga (812 M - 833 M)

Pramodha Wardhani (833 M - 856 M)


Wangsa Sanjaya


Sanjaya (732-7xx)

Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (Syailendra)

Rakai Panunggalan

Rakai Warak

Rakai Garung

Rakai Patapan (8XX-838)

Rakai Pikatan (838-855), mendepak Dinasti Syailendra

Rakai Kayuwangi (855-885)

Dyah Tagwas (885)

Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)

Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)

Rakai Watuhumalang (894-898)

Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)

Daksa (910-919)

Dyah Tulodong (919-921)

Dyah Wawa (924-928)

Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)


Wangsa Medang Kamulan


Mpu Sindok (929-947)

Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)

Makutawangsawardhana (9xx-985)

Dharmawangsa Teguh Anantawikrama (985-1006)


Wangsa Kaahuripan


Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang

(Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri):

Janggala

(tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)

Kadiri

(tidak diketahui silsilah raja-raja Kadiri hingga tahun 1116)

Kameswara (1116-1135), mempersatukan kembali Kadiri dan Panjalu

Jayabaya (1135-1159)

Rakai Sirikan (1159-1169)

Sri Aryeswara (1169-1171)

Sri Candra (1171-1182)

Kertajaya (1182-1222)


Wangsa Singhasari


Ken Arok (1222-1227)

Anusapati (1227-1248)

Tohjaya (1248)

Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248-1254)

Kertanagara ( 1254-1292)


Wangsa Majapahit


Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)

Jayanagara (1309-1328)

Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)

Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)

Wikramawardhana (1390-1428)

Suhita (1429-1447)

Dyah Kertawijaya (1447-1451)

Rajasawardhana (1451-1453)

Girishawardhana (1456-1466)

Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)

Girindrawardhana Dyah Wijayakarana (1468-1478)

Singawardhana Dyah Wijayakusuma (menurut Pararaton menjadi Raja Majapahit selama 4 bulan sebelum wafat secara mendadak ) ( ? – 1486 )

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhre Kertabumi (diduga kuat sebagai Brawijaya, menurut Kitab Pararaton dan Suma Oriental karangan Tome Pires pada tahun 1513) (1474-1519)


Kerajaan Demak


Raden Patah (1478 – 1518)

Adipati Unus (1518 – 1521)

Sultan Trenggono (1521 – 1546)

Sunan Prawoto (1546 – 1547)

Arya Penangsang (1547 - 1554)


Kesultanan Pajang 


Jaka Tingkir, bergelar Sultan Hadiwijoyo (1568 – 1582)

Arya Pangiri, bergelar Sultan Ngawantipuro (1583 – 1586)

Pangeran Benawa


Kerajaan Mataram Islam


Ki Ageng Pamanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir

Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya) (1587 – 1601), menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka.

Panembahan Hanyakrawati (Raden Mas Jolang) (1601 – 1613)

Adipati Martapura (1613 selama satu hari)

Sultan Agung (Raden Mas Rangsang / Prabu Hanyakrakusuma) (1613 – 1645)

Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum/Amangkurat Agung) (1645 – 1677) menyingkir dari ibu kota Plered karena diserbu Pangeran Trunojoyo, raja dari Madura.


Kesunanan Kartasura Hadiningrat


Amangkurat II (Amangkurat Amral) (1680 – 1702), pendiri Kartasura.

Amangkurat III (1702 – 1705), dibuang VOC ke Srilangka karena kalah dari Pakubuwana I yang didukung VOC

Pakubuwana I (1705 – 1719), pernah memerangi dua raja sebelumya; juga dikenal dengan nama Pangeran Puger atau Sultan ing Alaga.

Amangkurat IV (1719 – 1726), Terjadi banyak pemberontakan, Sunan Kuning (Mas Garendi).

Pakubuwana II (1726 – 1742),

Pakubuwana III (diangkat oleh Belanda) dan hal ini ditentang oleh Mangkubumi dan Raden Mas Said. Atas ketidak puasannya Raden Mas Said mengangkat mertuanya Mangkubumi sebagai penguasa oposisi di Mataram, namun beberapa saat kemudian partai oposisi ini pecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Raden Mas Said dan kelompok Mangkubumi. Kemudian muncullah Perundingan Giyanti (13 Februari 1755)


Wangsa Baru 


Perjanjian Giyanti telah membagi Wangsa Mataram menjadi 2 keluarga besar, yaitu Hamengkubuwana dan Pakubuwana sedangkan Perjanjian Salatiga telah melahirkan satu keluarga dari Pakubuwana, yaitu Mangkunegara. Keluarga Pakubuwana dimulai dari Pakubuwana I dan Hamengkubuwana dimulai dari Hamengkubuwana I, sedangkan Mangkunegara dimulai dari Mangkunegara I.


Pakubuwana


Pakubuwana I (1705 – 1719), pernah memerangi dua raja sebelumya; juga dikenal dengan nama Pangeran Puger.

Pakubuwana II (1745 – 1749), pendiri kota Surakarta; memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745

Pakubuwana III (1749 – 1788), mengakui kedaulatan Hamengkubuwana I sebagai penguasa setengah wilayah kerajaannya.

Pakubuwana IV (1788 – 1820)

Pakubuwana V (1820 – 1823)

Pakubuwana VI (1823 – 1830), diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia; juga dikenal dengan nama Pangeran Bangun Tapa.

Pakubuwana VII (1830 – 1858)

Pakubuwana VIII (1859 – 1861)

Pakubuwana IX (1861 – 1893)

Pakubuwana X (1893 – 1939)

Pakubuwana XI (1939 – 1944)

Pakubuwana XII (1944 – 2004)

Gelar Pakubuwana XIII (2004 – sekarang) diklaim oleh dua orang, Pangeran Hangabehi dan Pangeran Tejowulan.


Hamengkubuwana 


Sri Sultan Hamengkubuwono I / Pangeran Mangkubumi (13 Februari 1755 - 24 Maret 1792 )

Sri Sultan Hamengkubuwono II / Gusti Raden Mas Sundara ( 2 April 1792 - 1810) periode pertama

Sri Sultan Hamengkubuwono III / Raden Mas Surojo (1810 -  1811) periode pertama

Sri Sultan Hamengkubuwono IV / Gusti Raden Mas Ibnu Jarot ( 9 November 1814 - 6 Desember 1823)

Sri Sultan Hamengkubuwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol (19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826) periode pertama

Sri Sultan Hamengkubuwono VI / Gusti Raden Mas Mustojo ( 5 Juli 1855 - 20 Juli 1877)

Sri Sultan Hamengkubuwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo / Sultan Sugih ( 22 Desember 1877 - 29 Januari 1921 )

Sri Sultan Hamengkubuwono VIII / Gusti Raden Mas Sujadi ( 8 Februari 1921 - 22 Oktober 1939)

Sri Sultan Hamengkubuwono IX / Gusti Raden Mas Dorodjatun( 18 Maret 1940 - 2 Oktober 1988 )

Sri Sultan Hamengkubuwono X / Bendara Raden Mas Herjuno Darpito ( 7 Maret 1989 - sekarang)


Mangkunegara


Mangkunegara I atau bernama asli Raden Mas Said dengan gelar Pangeran Samber Nyowo (1757 - 1795

KGPAA Mangkunegara II atau R.M Sulomo dengan gelar dimasa muda Pangeran Surya Mataram dan juga bergelar Pangeran Surya Mangkubumi (1795 - 1835)

Mangkunegara III (1835 - 1853)

Mangkunegara IV (1853 - 1881)

Mangkunegara V ( 1881 - 1896)

Mangkunegara VI (1896 - 1916)

Mangkunegara VII (1916 - 1944)

Mangkunegara VIII (1944- 1987)

Mangkunegara IX (1987 - sekarang) (T.L)

TerPopuler