SANG PEMBANGKIT (Wali Allah Di Tanah Toar Lumimuut) -->

SANG PEMBANGKIT (Wali Allah Di Tanah Toar Lumimuut)

Kamis, 05 November 2020, November 05, 2020
Imam Awal, Pendiri Jamaah Laduna Ilma Indonesia


Republiknews.com, - Kisah ini diawali  seorang pejuang kemerdekaan angkatan 45, juga pemegang bintang gerilya berjuang bersama Panglima besar Jenderal Sudirman diwilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Dimana pada akhir masa kemerdekaan, beliau tergabung dalam korps – Polisi Militer detasemen V/2, berkedudukan dikota Surabaya.


Putra sulung beliau terlahir dengan nama Syamsudin Bin Syahlian Syahri, selanjutnya anak sulung ini menikmati masa kanak-kanaknya dikota Surabaya. Pendidikan SD dan SMPnya di selesaikan di Sekolahan Persit Kartika Chandra Kirana Gunung Sari, Surabaya, dilanjutkan dengan Sekolah Menegah Atas (SMA-3) Genteng Kali, Surabaya.


Setelah menyelesaikan Studi SMAnya, Syamsudin berprofesi sebagai pemain Band dengan kehidupan sekuler, yang artinya permasalahan keagamaan, ketuhanan, kehidupan akhirat serta dunia ghaib tidak diyakininnya dengan benar. Sebagai seorang pemain Band, kehidupan Syamsudin senantiasa berpindah-pindah dari satu pesta ke pesta lainnya. Selama menjalani kehidupannya di kota Surabaya, ia melihat serta mengalami beberapa peristiwa yang diluar nalar manusia pada umumnya, yakni peristiwa supranatural. 


Diantaranya, ada seorang anak gadis dalam keadaan Tranc atau kerasukan setan, adapun yang tidak masuk akal adalah suara anak gadis tersebut berubah menjadi parau seperti suara seorang kakek-kakek tua. Dan gadis tersebut tidak bisa diangkat dari tempat tidurnya, tempat tidurnya pun seperti tertancap kedalam bumi hingga tak satupun orang mampu mengangkatnya. Tumit gadis tersebut menempel pada kemalauannya, berbagai upaya pengobatan sudah dilakukan namun gagal.


Seiring berjalannya waktu, ibunda kandung Syamsudin yang mengalami masa kehamilan 8 bulan kala itu, tentunya mendapatkan pengawasan langsung dari seorang dokter ahli, karena keluarga mereka cukup mumpuni pada saat itu. Pada saat siang hari, sang ibu tertidur seraya bermimpi, dalam mimpinya si ibu diperintahkan oleh seseorang untuk memakan sepotong daging ayam, akan tetapi si ibu menolak memakan daging ayam tersebut, langsung saja orang yang memerintah beliau bertindak, memaksa  untuk memakan daging ayam yang diberikannya dengan  membuka mulut si ibu. Alangkah terkejutnya si ibu, karena paksaan sedemikian rupa hingga akhirnya membangunkannya dari tidur.


Tetapi yang lebih terkejutnya lagi, ibunda Syamsudin ketika menyadari, ternyata bayi yang dikandungnya  telah lenyap hilang entah kemana. Tidak menunggu waktu lama, saking penasaran mereka segera menemui dokter ahli kandungan untuk mengkonsultasikannya. Akan tetapi sebagai seorang dokter berpengalaman, tidak mampu untuk menjelaskan permasalahan tersebut secara medis ataupun logika sehat, yang mana kehamilan sudah memasuki usia 9 bulan, hilang hanya karena sebuah mimpi. 


Setelah menyaksikan peristiwa tersebut, akhirnya Syamsudin berkesimpulan, bahwa ternyata ada faktor  X pada alam raya ini yang mampu merusak tatanan kehidupan Manusia. “ Apakah mungkin faktor “ X “ yang disebut dengan syaithan atau Iblis “ ? tanya Syamsudin dalam hatinya. 


Maka akhirnya beliau mengambil sikap berfikir “ kalau sekiranya Iblis itu ada, maka besar kemungkinan Tuhan juga pasti ada “,  yang selama ini beliau tidak pernah meyakininya. Kemudian pada akhirnya Syamsudin pun mulai mempelajari tentang Islam secara bersungguh-sungguh. Setelah mempelajari Ilmu Islam tersebut melalui buku-buku yang di dapatnya dari toko-toko buku, beliau mendapatkan hasil nihil alias “ Kebingungan “ karena isi buku yang satu dengan yang lainnya saling tolak belakang,  karena kebingungan tersebut ia mulai melepaskan diri dari pergaulan masyarakat.


Dia mulai menyendiri seraya mendatangi makam-makam keramat serta makam para pahlawan, dan hal tersebut dilakukannya selama 4 tahun sambil bermohon kepada Tuhan agar senantiasa diberikan pemahaman tentang Ilmu Agama secara benar. 


Olah Rohani yang dilakukan Syamsudin selama 4 tahun akhirnya membuahkan hasil, dengan seizin Tuhan, seorang Wali Allah dari Tanah Jawa yang bernama Sunan Kali Jaga bersedia mengangkat beliau sebagai muridnya selama 9 tahun, setelah terjadi proses pembelajaran dari Sunan Kali Jaga beliaupun dinyatakan lulus oleh Kanjeng Sunan. 


Syamsudin memiliki kemampuan menerima petunjuk dari Tuhan yang hal tersebut termaktub dalam Al Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 73 yang artinya : " Kami telah menjadikan mereka itu sebagai Imam-Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami Wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah. "


Adapun petunjuk yang diterima beliau diantaranya : mengajak manusia kejalan kebenaran dengan mengajarkan Ilmu-Ilmu Laduni yang didapat dari sisi-Nya, kemudian menghimpun manusia dalam satu jama’ah yang diberi nama Jama’ah Laduna Ilma , para jama’ah memanggilnya dengan sebutan Imam Awal. Kemudian diperintahkan kepada beliau untuk mendirikan Pusat Pendidikan Islam yang berlokasi dibawah kaki gunung Dua Sudara Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. 


Dengan seizin Tuhan Yang Maha Esa kini telah dibeli sebidang tanah seluas (-+2 ha) untuk sarana pembangunan Pusat Pendidikan Islam, Pusat Pengobatan Alternatif denga metode Ilmu Al Qur’an, Balai Nikah dll. Hal ini merupakan bentuk realisasi pembuktian Firman Allah dalam Al Qur’an Muhammad Ayat 7 yang artinya : Hai orang-orang yang beriman , jika kamu menolong Agama Allah niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu. “ 


Harapan dari Sang Pembangkit agar kiranya semua Pihak terutama Jama’ah Laduna Ilma yang tersebar diseluruh wilayah Nusantara ini agar kiranya dapat mewujudkan terlaksananya pembangunan Pusat Pendidikan Islam tersebut. (T.L)




Artikel ini telah terbit di Koran Suara Indonesia edisi bulan Oktober 2016, Oleh: Tezar Basalamah, disadur kembali  : Tamrin Lahiya


TerPopuler