Babad Tanah Jawa -->

Babad Tanah Jawa

Sabtu, 16 Januari 2021, Januari 16, 2021

 

Busana gadis penari Gending Sriwijaya yang raya dan keemasan menggambarkan kegemilangan dan kekayaan Sriwijaya.

Bag. 3/5


Raja yang memerintah 


Republiknews.com, Minggu (17/1/2021), Dapunta hyang atau Sriwijaya memerintah pada tahun 671 di ibukota Srivijaya Shih-li-fo-shih, Catatan perjalanan I Tsing pada tahun 671-685, Penaklukan Malayu, penaklukan Jawa, Prasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo (684), Kota Kapur (686), Karang Brahi dan Palas Pasemah.


Rudra Wikrama atau Liu-t'eng-wei-kung memerintah pada tahun 728-742 diibukota Sriwijaya Shih-li-fo-shih, Utusan ke Tiongkok 728-742.

Sedangkan ditahun 743-774 belum ada berita.

Sri Indrawarman atau Shih-li-t-'o-pa-mo memerintah pada tahun 702 diibukota Sriwijaya Shih-li-fo-shih,  Utusan ke Tiongkok 702-716, 724. 


Sri Maharaja memerintah pada tahun 775 diibukota Sriwijaya kemudian Pindah ke Jawa (Jawa Tengah atau Yogyakarta), Prasasti Ligor B tahun 775 di Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand dan menaklukkan Kamboja dan wangsa Sailendra mengantikan Wangsa Sanjaya.

Dharanindra atau Rakai Panangkaran memerintah pada tahun 778 di Jawa, Prasasti Kelurak 782 di sebelah utara kompleks Candi Prambanan, Prasasti Kalasan tahun 778 di Candi Kalasan.


Samaragrawira atau Rakai Warak memerintah pada tahun 782 di Jawa, Prasasti Nalanda dan prasasti Mantyasih tahun 907.

Samaratungga atau Rakai Garung memerintah di tahun 792 di Jawa, Prasasti Karang Tengah tahun 824, 825 menyelesaikan pembangunan candi Borobudur.

Pada tahun  840 merupakan Kebangkitan Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan.


Balaputradewa memerintah pada tahun 856 di Suwarnadwipa, Kehilangan kekuasaan di Jawa, dan kembali ke Suwarnadwipa Prasasti Nalanda tahun 860, India.

Sampai pada tahun 861-959 Belum ada berita pada periode ini

Sri Udayaditya atau Warmadewa Se-li-hou-ta-hia-li-tan memerintah di tahun 960 di Sriwijaya San-fo-ts'i, Utusan ke Tiongkok 960, & 962.


Pada tahun 980 tercatat Utusan ke Tiongkok 980 & 983: dengan raja, Hie-tche (Haji)

Sri Cudamani Warmadewa atau Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa memerintah di tahun 988 di Sriwijaya Malayagiri (Suwarnadwipa) San-fo-ts'i, 990 Jawa menyerang Sriwijaya, Catatan Atiśa, Utusan ke Tiongkok 988-992-1003, pembangunan candi untuk kaisar Tiongkok yang diberi nama cheng tien wan shou.


Sri Mara-Vijayottunggawarman atau Se-li-ma-la-pi memerintah pada tahun 1008 di San-fo-ts'i

Kataha, Prasasti Leiden & utusan ke Tiongkok 1008.

Haji Sumatrabhumi atau Ha-ch'i-su-wa-ch'a-p'u memerintah pada tahun 1017, Utusan San-fo-ts'i ke Tiongkok 1017: dengan raja, Ha-ch'i-su-wa-ch'a-p'u (Haji Sumatrabhumi (?)); gelar haji biasanya untuk raja bawahan.

Sangrama-Vijayottunggawarman memerintah di tahun 1025 di Sriwijaya Kadaram, Diserang oleh Rajendra Chola I dan menjadi tawanan, Prasasti Tanjore bertarikh 1030 pada candi Rajaraja, Tanjore, India.


Pada tahun 1030 Dibawah Dinasti Chola dari Koromandel kemudian pada tahun 1079 Utusan San-fo-ts'i dengan raja Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) ke Tiongkok 1079 membantu memperbaiki candi Tien Ching di Kuang Cho (dekat Kanton), ditahun 1082 Utusan San-fo-ts'i dari Kien-pi (Jambi) ke Tiongkok 1082 dan 1088 sedangkan pada tahun 1089-1177 Belum ada berita.nanti pada tahun 1178 Laporan Chou-Ju-Kua dalam buku Chu-fan-chi berisi daftar koloni San-fo-ts'i.


Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa memerintah di tahun 1183 di Dharmasraya, Dibawah Dinasti Mauli, Kerajaan Melayu, Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand.


Warisan Sejarah 


Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan keberadaanya sempat terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya, penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berjaya pada masa lalu.[butuh rujukan]


Pada abad ke-14 meskipun pengaruhnya telah memudar, wibawa dan gengsi Sriwijaya masih digunakan sebagai sumber legitimasi politik. Sang Nila Utama yang mengaku sebagai keturunan bangsawan Sriwijaya dari Bintan, bersama para pengikut dan tentaranya yang terdiri dari Orang Laut, telah mendirikan Kerajaan Singapura di Tumasik. Menurut Sejarah Melayu dan catatan sejarah Tiongkok yang ditulis Wang Ta Yuan, disebutkan bahwa Kerajaan Siam sempat menyerang kerajaan Singapura pada kurun tahun 1330 hingga 1340. Serangan Siam ini berhasil dipukul mundur.[butuh rujukan]


Warisan terpenting Sriwijaya mungkin adalah bahasanya. Selama berabad-abad, kekuatan ekononomi dan keperkasaan militernya telah berperan besar atas tersebarluasnya penggunaan Bahasa Melayu Kuno di Nusantara, setidaknya di kawasan pesisir. Bahasa ini menjadi bahasa kerja atau bahasa yang berfungsi sebagai penghubung (lingua franca) yang digunakan di berbagai bandar dan pasar di kawasan Nusantara. Tersebar luasnya Bahasa Melayu Kuno ini mungkin yang telah membuka dan memuluskan jalan bagi Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Malaysia, dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu Indonesia modern. Adapun Bahasa Melayu Kuno masih tetap digunakan sampai pada abad ke-14 M.dilansir dari wikipedia.org


Kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia. Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk kota Palembang, Sumatra Selatan. Keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat selatan Thailand yang menciptakan kembali tarian Sevichai yang berdasarkan pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.[butuh rujukan]


Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, dan nama ini juga digunakan oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula Kodam II/Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatra Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang). Semuanya dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang. Pada tanggal 11 November 2011 digelar upacara pembukaan SEA Games 2011 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Upacara pembukaan ini menampilkan tarian kolosal yang bertajuk "Srivijaya the Golden Peninsula" menampilkan tarian tradisional Palembang dan juga replika ukuran sebenarnya perahu Sriwijaya untuk menggambarkan kejayaan kemaharajaan bahari ini. (T.L)

TerPopuler