Hilangkan ke Aku-an Diri Penyempurnaan Akidah Dinul Islam -->

Hilangkan ke Aku-an Diri Penyempurnaan Akidah Dinul Islam

Kamis, 25 Maret 2021, Maret 25, 2021

Republiknews.com – Hikmah dari Majelis Ilmu yang disampaikan oleh Imam  Haris Wibowo yang menjadi jadwal pada setiap malam juma’at , di gelar di kediamannya dengan Tema Penyempurnaan Akidah, dihadiri oleh segenap jama’ahnya, pada kamis (25/3/2021), selepas ba’da isya.


Membuka percakapan, Hikmah yang disampaikan  tentang Iman, yakni melaksanakan apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan apa yang menjadi larangan-Nya, memiliki dasar hukum yang pasti di dalam Al Qur’an karim.  


Qs : An Nur Ayat 55


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ


Artinya :

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.


Hadits :


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:


 اِتَّقِ الْمَحَارِمَ، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ


Artinya :


Takutlah engkau kepada hal-hal yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling hebat ibadahnya ( HR Ahmad, V/276-277, 282. Ad-Darimi, I/168, dan Ibnu Majah, no. 277, dari jalur Salim bin Abu al-Ja’d, dari Tsauban. Hadits tersebut dishahîhkan al-Hakim (I/130) dan disepakati adz-Dzahabi. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, V/282 dan ad-Darimi, I/168, dari jalur al-Walid bin Muslim, ia berkata, Ibnu Tsauban berkata kepadaku, Hasan bin Athiyah berkata kepadaku, bahwa Abu Kabsyah as-Saluli berkata kepadanya, bahwa ia mendengar Tsauban berkata dan seterusnya.)


Kedua Firman Allah dan satu hadits diatas inilah yang menjelaskan tentang orang yang beriman senantiasa melaksanakan perintah Allah serta menjauhi segala yang dilarang Allah, perhatikan kalimat pada firman Allah yang pertama khusus pada kalimat “ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh “ kalimat ini sangat jelas, dimana Allah SWT telah berjanji kepada orang-orang yang beriman. Siapakah mereka ? perhatikan kalimat selanjutnya : “ di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh “ maka menjadi jelas yang orang-orang diantara manusia yang senantiasa mengerjakan perintah Allah “ Amal Sholeh “.


Pada keterangan hadits pendukung perhatikan seluruh kalimatnya : “ Takutlah engkau kepada hal-hal yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling hebat ibadahnya “ kalimat ini juga sangat jelas “ orang yang takut melakukan perbuatan haram, maka orang tersebut pasti akan melakukan apa yang diperintahkan Allah dikarenakan Keimanan yang dimiliknya.


Selanjutnya beliau menjelaskan tentang Iman yang memiliki 77 cabang, diantaranya bagi orang yang melaksanakannya akan mendapatkan kunci yang disebut dengan berakhlak yang bisa meraih akhlakul karimah, " karena dia akan menjadi orang yang tidak sombong, tidak boros, tidak meremehkan orang lain, tidak gibah, tidak membicarakan keburukan orang, tidak su’udzon, tidak iri, tidak dengki dan lain sebagainya."


Hadits :


اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً ، اَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَاَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ . رَوَاهُ الْمُحَدِّثُوْنَ 


Artinya :


Iman itu tujuh puluh tujuh cabangnya. Cabang yang paling utama adalah mengucapkan kalimah “Laa ilaaha illallaah” dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan. Dan malu berbuat maksiat adalah salah satu cabang dari iman. (HR : Bukhari Muslim)


Lebih lanjut beliau menjelaskan,  dampak dari Iman tersebut yang mampu mencapai tingkat kewalian, serta mencapai Insanul Kamil. Buah dari Iman akan melahirkan Akhlakul Karimah serta buah dari Ilmi adalah Karomah yang akan berbuah kembali yakni Nurul Kamila (Insanul Kamil) yakni Kesempurnaan. 


Dengan tidak adanya perihal tersebut, maka kita sulit untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk yang datangnya dari Allah dikarenakan tidak ada lagi yang namanya Rodiah wa Mardhiah. 


Dirinya mengatakan "seperti yang kita ketahui bersama didalam Islam yang harus diutamakan adalah yang berilmu, bila tidak ada yang berilmu maka utamakanlah yang tua, dengan kita memperhatikan hal tersebut maka akan lahir Rodiah wa Mardiah, mencintai yang tua serta menyayangi yang lebih muda, yang bisa mendatangkan keterpautan ruh yang mendatangkan keterpautan hati sehingga akan turun petunjuk yang merupakan kebenaran dari Sang Robbul Jalil."


Sekarang ini dengan kurangnya perihal tersebut sehingga sangat sulit kebenaran dari sisi Allah akan kita dapati, dikarenakan tidak adalagi rasa saling sayang antar sesama, ada saudarah kita yang tertimpa musibah berat bagi kita untuk membantu, tidak adalagi kepedulian terhadap sesama makhluk ciptaan Allah, tidak adalagi rasa untuk saling menghormati, padahal didalam Rasa sayang tersebut ada Cinta, yang pada hakikatnya Islam itu seperti sebuah Tubuh meskipun memiliki beberapa anggota namun ketika ada anggota didalam tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh tersebut akan merasakannya. 


Hadits :


لا تحسدوا بعضكم البعض ، تخدعوا بعضكم البعض ، توبيخ بعضكم البعض وتكرهوا بعضكم البعض. مسلم واحد من أقرباء مسلم آخر. وعليه ألا يسيء إليه ولا يتغاضى عنه أو يهينه. التقوى هنا [يشير رسول إلى صدره ثلاث مرات]. يعتبر الإنسان سيئا بما فيه الكفاية إذا أهان أخيه المسلم. كل مسلم على مسلم آخر حرام أن يتدخل في دمه وماله وعرضه.


Artinya :


Janganlah kamu sekalian saling mendengki, saling menipu, saling memarahi dan saling membenci. Muslim yang satu adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Oleh karena itu, ia tidak boleh menganiaya, membiarkan, dan menghinanya. Takwa itu ada di sini [Rasul menunjuk dadanya tiga kali]. Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim yang satu terhadap Muslim yang lain itu haram mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR : Muslim).


Yang perlu diingat terkait dalam meraih kesempurnaan Dinul Islam, adalah Ujian yang pasti akan datang kepada kita dalam berbagai bentuk, disamping itu kita pasti akan mendapatkan serangan dari Iblis laknatullah yang sudah pasti akan menghalangi seseorang untuk bisa meraih kesempurnaan didalam Dinul Islam tersebut.


Qs : Al Baqarah Ayat 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


Artinya :


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.


Qs : Al Isra Ayat 53


وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا


Artinya :


Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.


Disamping itu masih berkaitan dengan pemurnian keimanan, agar kita senantiasa menjauhkan diri dari sifat muda tersinggung, bila kita memiliki hutang kepada seseorang, kemudian yang memberikan pinjaman mengingatkan tentang hutangnya maka kita jangan tersinggung, karena menagih atau mengingatkan tentang hutangnya merupakan kewajiban bagi yang meminjamkan pinjaman tersebut.  


Hadits :


Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى


Artinya :


“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)


Seorang Imam selaku Guru Spiritual sudah selayaknya berprilaku seperti Rosulullah yakni menebarkan kebaikan kepada Manusia karena mengikuti Nabi yang diutus Allah sebagai pembawa Rahmat bagi seluruh alam, yang mampu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. 


Qs : Al Anbiya Ayat 107


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ


Artinya :


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.


Qs : Ibrahim Ayat 1


الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ


Artinya :


Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.


Sebagai penutup beliau memaparkan tentang Do’anya Nabi Yunus as tentang prilaku keimanan, bahwa orang yang keimanannya benar, maka dia tidak akan menyakiti orang lain ini merupakan ajaran Islam “ Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin”. (Artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya). (T.L)

TerPopuler