Iklan

Iklan

,

Iklan

iklan

Mempertahankan Keimanan Serta Tawadhu Terkait Raih Tropi Lailatul Qadar Dipenghujung Ramadhan

Republiknews
Jumat, 23 April 2021, April 23, 2021 WIB Last Updated 2021-04-23T17:11:17Z
Ilustrasi


Republiknews.com – Bulan Ramadhan merupakan Bulan yang sangat dinantikan bagi Kaum Muslimin diseantero Jagad semesta ini. kenapa tidak, dibulan tersebut Sang Maha Pencipta Jagad semesta ini menyiapkan Trophi yakni Lailatul Qadar didalamnya, serta tidak melihat apakah dia seorang berilmu (Alim) ataupun Muslim (yang beserah diri) serta Mukmin (yang beriman) semuannya berkompetisi untuk bisa meraih Tropi tersebut, Sabtu (24/4/2021).


Dalam Kompetisi tersebut masing-masing manusia berupayah dengan amalannya masing-masing, siapa yang Pendekatannya (Irji’i Illah Robbi) nya paling sempurnah, maka dia sangat berpeluang untuk bisa meraih Lailatul Qadar yang disiapkan oleh Sang Robbuljalil.


Hadits :


حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَفِظْنَاهُ وَإِنَّمَا حَفِظَ مِنَ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَابَعَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, kami telah menghafal darinya, dia menghafalnya dari Az Zuhriy dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. (HR : Bukhari No 1875),Hadits ini dikuatkan pula oleh Sulaiman bin Katsir dari Az Zuhriy.


Perhatikan kalimat khusus pada kalimat : “ Barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya), dari kalimat tersebut kita bisa mendapatkan pelajaran Bahwasannya dalam melaksanakan Saum (Puasa) intinya terdapat dua cara yakni “ IMAN “ serta berharap “ Pahala Hanya dari Allah” artinya melakukan Saum dengan benar-benar berserah diri Hanya kepada Allah Swt semata. 


Bila kita melakukan dua kriteria tersebut dalam melaksanakan Saum maka apa yang akan kita peroleh ?, maka perhatikan kalimat selanjutnya dari Hadits tersebut diatas : “ maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya “. Nah ini sangat jelas yakni mendapakan Pengampunan dari Allah Swt. Kemudian kalimat selanjutnya perhatikan kalimat : “ dan barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. Kalimat tersebut maksudnya bila kita mengerjakan Saum (Puasa) dengan keimanan yang benar serta benar-benar Tawakal (Berserah diri Hanya kepada Allah), maka dengan dua hal tersebut sangat mungkin bisa memperoleh Trophi dari Allah yakni Malam Kemulyaan Lailatul Qadar.


Hadits :


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma bahwa ada seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir”. (HR : Bukhari No. 1876)


Mari kita perhatikan tentang hadits kedua khusus pada kalimat : “ ada seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh hari terakhir.” Bila kita perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas, maka kita mendapatkan pelajaran bahwasannya Lailatul Qadar bisa ditemui dalam “MIMPI”. Dan kejadian tersebut diperoleh pada 7 malam terakhir. Kemudian kalimat selanjutnya dari hadits kedua diatas perhatikan kalimat : “ maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir”. Khusus pada kalimat : “ siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya “ dari kalimat tersebut, kita dapatkan pelajaran bahwasannya ada yang berpuasa tetapi “ Tidak Mau Memperoleh Lalatul Qadar, dia berpuasa tidak dengan keimanan alias tidak benar-benar dekatkan dirinya kepada Allah, sehingga Saumnya hanya sekedar menahan Haus dan Lapar semata, sehingga Nabi Menjelaskan Siapa yang Mau.


Hadits :


حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ وَكَانَ لِي صَدِيقًا فَقَالَ اعْتَكَفْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ فَخَرَجَ صَبِيحَةَ عِشْرِينَ فَخَطَبَنَا وَقَالَ إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ فَرَجَعْنَا وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً فَجَاءَتْ سَحَابَةٌ فَمَطَرَتْ حَتَّى سَالَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ وَكَانَ مِنْ جَرِيدِ النَّخْلِ وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِي الْمَاءِ وَالطِّينِ حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّينِ فِي جَبْهَتِهِ


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku bertanya kepada Abu Sa’id Al Khudriy yang merupakan salah seorang sahabat karibku. Maka dia berkata: ” Kami pernah ber’i’tikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian Beliau keluar pada sepuluh malam yang akhir lalu memberikan khuthbah kepada kami dan berkata: “Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud diatas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu siapa yang sudah beri’tikaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka pulanglah”. Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) selesai aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud diatas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi Beliau. (HR : Bukhari No. 1877). 


Pada Hadits yang ke tiga dimana Nabi Bertemu Lailatul Kadar Didalam Mimpinya serta menganjurkan kepada yang mau mendapatkan Malam Lailatul qadar tersebut, perhatikan kalimat : “Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti “. Yang perlu digaris bawahi pada kalimat tersebut diatas adalah : “ namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti “ dari kalimat ini, maka akan muncul pertanyaan, kenapa Allah lupakan waktunya yang pasti kepada Nabi ? ini artinya menjadi tugas bagi para Alim Pewaris Nabi untuk menyampaikan kepada Manusia tentang Tanda serta suasana alam dimalam tersebut, apakah itu secara langsung ataupun melalui Ru’yatun Sholiha (Mimpi yang Benar).


Setiap Para Guru Pembimbing spiritual pasti akan memberikan pertanda serta fenomena alam yang terjadi pada malam tersebut. Berdasarkan penyampaian pribadi Penulis yang mendapatkan pertanda tentang fenomena alam dimalam tersebut dari Pembimbing spiritualnya mengatakan :


“ Kenalilah Bahwasannya Allah Swt menyediakan Lailatul Qadar tersebut menjadi 9 tingkatan, bila kamu ingin meraih tingkatan pertama, maka amalannya, kamu harus benar-benar tawadhu kepada Allah dengan sebuah ritual khusus terkait masalah berpakaian yakni menggunakan baju koko putih,putih serta benar-benar menjaga aurot agar tidak kelihatan, baik dirumah ataupun diluar rumah “ Dan Puncak Amal Sholeh yang akan dilakukan dimulai semenjak 10 malam terakhir, dan hal tersebut cukup kuat karena didukung oleh sebuah Hadits.


Hadits :


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Abu Suhail dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan” (HR : Bukhari No. 1878). (T.L)

Iklan

iklan