Iklan

Iklan

,

Iklan

iklan

Pentingnya Nilai Keimanan Dalam Menuntut Keilmuan

Republiknews
Sabtu, 10 April 2021, April 10, 2021 WIB Last Updated 2021-04-11T11:36:58Z


Republiknews.com –Silaturahmi yang digelar secara rutin oleh Laduna Ilma Majelis Pengkajian Ilmu Al-Qur’an yang bertempat dirumahnya Imam Haris Wibowo, merupakan Silaturahmi terakhir, dikarenakan akan masuk Bulan Ramadhan sehingga Kegiatan Silaturahmi rutin setiap bulannya di hentikan sementara, Minggu (04/4/2021).


Seperti biasanya sebelum Silaturahmi dimulai akan dilakukan do’a pembuka, pada kesempatan tersebut diberikan kepada salah satu Imam yang dituakan yakni Imam Lajuru, yang segera memandu do’a pembukaan sekaligus hajatan Do’a dari salah seorang jama’ah yang berhajat.


Kemudian dilanjutkan dengan Hikmah atau penyampaian dari setiap Imam yang hadir pada pertemuan tersebut yang langsung di sampaikan oleh Imam Lajuru, dalam menyampaikan hikmah tersebut beliau lebih cenderung membagikan tentang pengalaman spiritualnya ketika awal mula menuntut Ilmu kepada Imam Awal yang merupakan Pendiri dari Jama’ah Laduna Ilma Indonesia.


Setelah satu persatu Para Imam yang hadir dalam Pertemuan Silaturahmi tersebut mendapatkan Giliran menyampaikan Hikmah kepada yang hadir, tuan rumah akan menyimpulkan setiap hikmah yang disampaikan oleh Para Imam, sebagai bekal bagi para Murid-muridnya.


Keimanan serta Kesabaran yang sempurna menjadi pokok serta bekal bagi kita didalam menuntut Ilmu, dari kesimpulan hikmah yang disampaikan oleh Imam Abdul Haris merupakan ajaran yang bersumber dari Al Qur’an melalui lisan Nabi kepda Manusia.


Lebih lanjut Imam Abdul Haris menyampaikan bahwa Dinul Islam dibangun dalam 3 Pilar, pertama adalah ISLAM yang kedua IMAN dan yang ketiga adalah IHSAN, ISLAM sendiri memiliki 5 muatan yakni : Syahadah, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji Kebaitullah jika kita mampu, Syahadah merupakan kesaksian atau pengakuan sempurnah dari ke Absolutan Allah Azzawajallah.


Didalam Bahasa Al Qur’an ada Kalimat IMAN yang artinya Percaya, ada Kalimat KAFIR yang artinya Ingkar Iman, Kepercayaan yang merupakan peruntukan kepada Urusan Ilahi. bila sekirannya kita tidak percaya kepada seseorang itu artinya bukan orang tersebut tidak beriman “ Saya tidak Beriman kepada si Fulan “ maka bahasa tersebut Tidaklah tepat. Karena Bahasa IMAN peruntukannya hanya Kepada Allah Swt. Sebaliknya denga Kafir yakni perbuatan Ingkar yang dilakukan seseorang yang berurusan langsung dengan Allah Swt.


Qs : Ali Imran Ayat 18


شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١٨﴾


Artinya :

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” 


Qs : Ali Imran Ayat 81


وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ﴿٨١﴾


Artinya :


”Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah Kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (QS. Ali Imran: 81).


Hadits :


أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْحُسَيْنِ الْقَاضِيْ بِمَرْوَ، ثَنَا الْحَارِثُ بْنُ أَبِيْ أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا يُوْنُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، حَدَّثَنِيْ عَامِرُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمنِ الْمُعَافِرِيِّ الْحُبُلِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – : ” إِنَّ اللهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَ تِسْعِيْنَ سَجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ هذَا، ثُمَّ يَقُوْلُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِيْ الْحَافِظُوْنَ؟ فَيَقُوْلُ: لَا يَا رَبِّ، فَيَقُوْلُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ؟ فَيَقُوْلُ: لَا يَا رَبِّ، فَيَقُوْلُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَ إِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ، فَيُخْرِجُ بِطَاقَةً فِيْهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إلِاَّ اللهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ، مَا هذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هذِهِ السِّجِّلَّاتِ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِّلَّاتِ فِيْ كِفَّةٍ، وَ الْبِطَاقَةُ فِيْ كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِّلَّاتِ و ثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ، وَ لَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ”.


هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ لَمْ يُخَرَّجْ فِي الصَّحِيْحَيْنِ، وَ هُوَ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَقَدِ احْتَجَّ بِأَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، وَ عَامِرُ بْنُ يَحْيَى مِصْرِيٌّ ثِقَةٌ، وَ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ إِمَامٌ، وَ يُوْنُسُ الْمُؤَدِّبُ: ثِقَةٌ، مُتَّفَقٌ عَلَى إِخْرَاجِهِ فِي الصَّحِيْحَيْنِ.


Artinya :


‘Abdullāh bin Ḥusain al-Qādhī mengabarkan kepada kami di Marwā, al-Ḥārits bin Abū Usāmah menceritakan kepada kami, Yūnus bin Muḥammad menceritakan kepada kami, al-Laits bin Sa‘d menceritakan kepada kami, ‘Āmir bin Yaḥyā menceritakan kepadaku dari Abū ‘Abd-ir-Raḥmān al-Mu‘āfirī al-Ḥubulī, dia berkata: Aku pernah mendengar ‘Abdullāh bin ‘Amr bin al-‘Ash berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan memilih seorang dari umatku di antara manusia pada Hari Kiamat, lalu menyebarkan 99 buku catatan amal, setiap bukunya seperti ini, kemudian berfirman: “Apakah kamu mengingkari ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku telah berbuat zhalim terhadapmu?” Orang tersebut menjawab: “Tidak, wahai Tuhan”. Allah bertanya lagi: “Apakah kamu punya alasan (ingin mengajukan keberatan?)”. Orang tersebut menjawab: “Tidak, wahai Tuhan”. Allah lalu berfirman: “Baik, sesungguhnya kamu mempunyai kebaikan di sisi Kami, tidak ada yang menzhalimimu pada hari ini.” Lalu dikeluarkanlah kartu yang berisi tulisan asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Orang tersebut kemudian bertanya: “Wahai Tuhanku, apa hubungannya kartu ini dengan buku-buku catatan itu?” Allah menjawab: “Sesungguhnya kamu tidak berbuat zhalim.”


Nabi s.a.w. lanjut bersabda: “Lalu diletakkanlah buku-buku catatan amal di piring timbangan dan kartunya di piring timbangan yang lain. Ternyata buku-buku catatan amal menjadi ringan, sementara kartunya menjadi berat. Tidak ada sesuatu yang berat jika disertakan dengan nama Allah.” ( Adz-Dzahabī berkata dalam at-Talkhīsh: “Hadits ini sesuai syarat Muslim.” Al-Ḥāfizh bin Nashīruddīn (al-Itḥāf, 10/564) berkata: “Kami mengatakan bahwa ‘Āmir bin Yaḥyā bin Jusyaib al-Mu‘āfirī al-Mishrī, hanya diriwayatkan oleh Muslim. Abū Dāūd menilainya tsiqah, sehingga ‘Āmir berada dalam tingkatan shaḥīḥ. Namun, dia termasuk periwayat yang meriwayatkan dari al-Ḥubulī, dari ‘Abdullāh bin ‘Amr.” H.R. Az-Zubaidī (Itḥāf-us-Sādāt-il-Muttaqīn dengan sanad-nya, 10/562-563); At-Tirmidzī (Sunan-ut-Tirmidzī); Aḥmad (al-Musnad, 2/213); dan Ibn-ul-Mubārak (az-Zuhd, 2/109). At-Tirmidzī berkata: “Ini adalah hadits ḥasan gharīb.”


Kedua Firman Allah dan satu Hadits inilah yang menjelaskan kepada kita tentang Syahadah yang merupakan Keabsolutan Allah Swt, yang menjadi pilar dari rukun ISLAM, Selanjutnya Imam Abdul Haris melanjutkan penjabarannya terkait Rukun Iman.


Iman adalah dimensi kepercayaan tentang ke Tuhanan serta tatacara agar kita bisa sampai kehadirat-Nya, dilanjutkan dengan IHSAN yang memiliki 3 rukun. Berbicara tentang ISLAM kita harus bersyukur karena kita terlahir dalam keadaan Islam, akan tetapi IMAN haruslah kita upayahkan, dan Iman akan menjadi tidak berarti manakala tidak adanya Amal Sholeh atau kebajikan yang sudah dijelaskan didalam 77 cabang Iman, Iman tanpa Amal sholeh adalah sia-sia, semuannya itu merupakan prasarana agar kita bisa meraih tingkatan Ihsan sehingga kesempurnaan Islamul Khaffah bisa diraih. 


Qs : An Nahl Ayat 97


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Artinya :


“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”


Lebih lanjut Imam Haris menjelaskan, Sangat mustahil bagi seseorang untuk meraih Keilmuan tanpa Keimanan, Karena Keimanan tersebut menjadi dasar untuk bisa meraih Keilmuan, Bila sekirannya ada seseorang dengan daya Nalarnya yang tinggi yang mampu merekam setiap ajaran dari seorang guru serta mampu menyampaikannya kepada orang lain, bila tidak memiliki Pondasi Iman yang memadai maka itu tidak akan berarti apa-apa, Karena orang tersebut hanya mampu menyampaikan berdasarkan daya Intelektualnya, sementara Isi dari Penyampaiannya tersebut tidak mampu dilaksanakannya, Inilah yang dimaksud dengan Imannya tidak memadai. 


Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hadits :


لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ


Artinya :


“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Bila Kita memperhatikan seluruh kalimat pada Hadits Nabi Diatas, maka sebuah pelajaran bisa kita dapatkan “ Semua, termasuk Ilmu akan ditanya kelak, yang tidak akan ditanya hanyalah IMAN “. Billahi Fisabillilhaq Wassalam.  (T.L)

Iklan

iklan