Mencari Malam Kemuliaan Pada Malam Ganjil Dipenghujung Ramadhan -->

 


Mencari Malam Kemuliaan Pada Malam Ganjil Dipenghujung Ramadhan

Selasa, 04 Mei 2021, Mei 04, 2021

 


Hadits :


حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي حَازِمٍ وَالدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي رَمَضَانَ الْعَشْرَ الَّتِي فِي وَسَطِ الشَّهْرِ فَإِذَا كَانَ حِينَ يُمْسِي مِنْ عِشْرِينَ لَيْلَةً تَمْضِي وَيَسْتَقْبِلُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَجَعَ إِلَى مَسْكَنِهِ وَرَجَعَ مَنْ كَانَ يُجَاوِرُ مَعَهُ وَأَنَّهُ أَقَامَ فِي شَهْرٍ جَاوَرَ فِيهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ يَرْجِعُ فِيهَا فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَمَرَهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ قَدْ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَثْبُتْ فِي مُعْتَكَفِهِ وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ فَاسْتَهَلَّتْ السَّمَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَأَمْطَرَتْ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فِي مُصَلَّى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ فَبَصُرَتْ عَيْنِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ انْصَرَفَ مِنْ الصُّبْحِ وَوَجْهُهُ مُمْتَلِئٌ طِينًا وَمَاءً


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Abu HAzim dan Ad-Darawardiy dari YAzid bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘i’tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu Beliau datang kembali ke tempat khusus i’tikaf Beliau begitu pula mereka yang sebelumnya beri’tikaf bersama Beliau. Pada malam ketika Beliau kembali beri’tikaf di bulan tersebut, Beliau menyampaikan khuthbah di hadapan orang banyak dan memerintahkan mereka menurut apa yang Allah kehendaki, lalu Beliau bersabda: “Aku sudah melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir, maka siapa yang telah beri’tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri’tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud diatas air dan tanah (yang becek) “. Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor mengenai posisi tempat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku melihat Beliau setelah Shubuh dengan wajah Beliau yang penuh dengan tanah dan air”. ( HSR : Bukhari No 1879).


Hadits tersebut diatas merupakan Pedoman Bagi kita untuk bisa menemukan Lailatul Qadar pada Malam Ganjil Dipenhujung Bulan Suci Ramadhan. Perhatikan kalimat : “  ‘i’tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan.” Kalimat ini sangat jelas dimana Nabi perintahkan untuk I’tikaf di 10 malam Pertengaan Bulan. Kemudian kalimat : “Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu Beliau datang kembali ke tempat khusus i’tikaf Beliau.” Keterangan pada hadits tersebut menjelaskan ketika melewati malam yang ke 20 yakni masuk pada malam ke 21 Rosulullah akan kembali beri’tikaf pada tempat awal ketika beliau melakukan I’tikaf, ini artinya Nabi tidak melakukan I’tikaf dengan berpindah tempat. Kemudian kalimat selanjutnya : “ “Aku sudah melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir, “ nah, kalimat ini Nabi menyampaikan kepada para sahabat ketika berkhutbah kepada mereka bahwasannya di 10 malam pertama Nabi telah memperoleh Petunjuk dari Allah, untuk melanjutkan I’Tikhaf beliau pada 10 malam terakhir. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, bila sekirannya seseorang akan ditakdirkan oleh Allah bertemu dengan Malam Kemulyaan (Mendapatkan Lailatul Kadar), maka pada 10 malam pertama orang tersebut sudah memperoleh Petunjuk dari Allah untuk bisa melanjutkannya pada 10 malam terakhir, dan ini merupakan pelajaran yang bisa kita ambil dari keterangan Hadits tersebut diatas, perhatikan kalimat selanjutnya dari Hadits tersebut : “ maka siapa yang telah beri’tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri’tikaf.” Kalimat ini sangat jelas bahwasannya Nabi menegaskan agar Jangan berpindah tempat dimana tempat awal Kita sudah memulai I’tikaf tersebut. Kemudian kalimat selanjutnya : “ Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil.” Keterangannya sangat jelas.


Hadits :


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ وَعِكْرِمَةَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ هِيَ فِي تِسْعٍ يَمْضِينَ أَوْ فِي سَبْعٍ يَبْقَيْنَ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَعَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ الْتَمِسُوا فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abu Al Aswad telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Abu MijlAz dan ‘Ikrimah berkata, bahwa Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia terjadi pada sepuluh malam terakhir, juga pada sembilan hari yang terakhir atau pada yang ketujuh, yaitu terjadinya Lailatul Qadar”. Dan dari Khalid dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma; “Carilah pada malam kedua puluh empat”.( HSR : Bukhari No 1882).

 

Hadits tersebut diatas ini, juga menjelaskan kepada kita untuk mencari Malam Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir. Kemudian perhatikan kalimat : “ juga pada sembilan hari yang terakhir atau pada yang ketujuh.” Kalimat ini juga sangat jelas, dimana bisa jadi pada 9 hari terakhir atau 7 hari terakhir, bagi yang memiliki Guru pembimbing spiritual, tentu angka-angka tersebut bukan hanya sekedar angka biasa saja akan tetapi memiliki nilai serta kepastian yang sangat kuat kenapa harus 9 dan kenapa pula harus ada angka 7. Hanya orang yang belajar saja yang bisa memecahkan misteri dari deretan angka-angka tersebut, yang merupakan Petunjuk yang diberikan oleh Nabi bagi mereka.


Hadits :


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepada kami Anas dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau. Akhirnya Beliau berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) “. (HSR : Bukhari No 1883).


Pada hadits yang ke 3 menceriterakan Dimana Nabi Hendak memberitahukan kepada para sahabatnya tentang kapan waktunya Lailatul Qadar akan terjadi, akan tetapi ada dua orang kaum muslimin yang membantah alias tidak percaya sehingga Nabi tidak jadi untuk memberitahukan kapan waktunya. Dari kejadian tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwasannya, bila kita memiliki seorang Guru Pembimbing, kemudian beliau perintahkan kepada kita terkait Pelaksanaan Bulan Ramadhan mulainya kapan, serta Kita Fokus pada malam-malam tersebut, maka selaku seorang Murid haruslah “ Sami’nah Wa’atho’nah” dengar dan laksanakan, jangan kita membantahnya seolah-olah pikiran kitalah yang paling benar, bila hal itu terjadi, maka anda tidak akan menemukan Malam tersebut. Perhatikan kalimat selanjutnya : “ Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) “. Dari kalimat tersebut diatas kita menemukan petunjuk dari Nabi yakni pada malam ke 9, Ke 7 serta Ke 5. Sekali lagi kita diperhadapkan dengan deretan angka ganjil, bila kita cermati dengan benar maka Insya Allah kita akan mendapatkan Petunjuk dari Allah, karena Lailatul Qadar Juga Bisa dijumpai lewat Ru’yatun Sholiha atau Mimpi Yang benar dari Sisi Allah.


Hadits :


حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ


Artinya :


Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ya’fur dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. (HSR : Bukhari No 1884).

  

Pada Hadits yang terakhir perhatikan kalimat : “ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau,” kalimat tersebut perlu diberikan Ilustrasi agar lebih jelas, yang dimaksud Nabi mengencangkan Sarung Beliau pada 10 Malam terakhir bagi yang ingin menemukan Lailatul Qadar, adalah Tidak usah Jamak dengan Isteri. Sarungnya dikencangkan, kemudian kalimat : “ menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau.” Sangat jelas inilah yang dilakukan Nabi pada 10 malam terakhir bila ingin menemukan Malam Kemulyaan Lailatul Qadar. (T.L)

TerPopuler