Mengungkap Ajaran Sang Wali Di Tanah Toar Lumimuut -->

Mengungkap Ajaran Sang Wali Di Tanah Toar Lumimuut

Jumat, 28 Mei 2021, Mei 28, 2021


Republiknews.com – , Seorang Wali Allah (Aulia Hutaala) yang berasal dari Kota Pahlawan (Surabaya) yang pernah hidup ditanah Toar Lumimuut sampai sekarang berkembang di Sulawesi Utara dan bahkan diseluruh wilayah Nusantara, Seorang Alim dengan ajaran Al Qur’an dan sunnah Nabi mampu membawa pencerahan khususnya bagi umat muslim yang berada di Nusantara. 


Ajaran Sang Wali yang tidak lepas dari Al Qur’an Dan Sunnah Nabi ini, ternyata sarat dengan nilai-nilai spiritual yang lazim dikenal dengan (Tasawwuf) kehidupan para Sufi, diantara ajaran yang disampaikan yang telah diikat kedalam Kitab Laduna Ilma Jilid I dan II begitu kaya dengan nuansa spiritual serta pendalaman dengan nilai kebathinan yang terarah.


Salah satu dari kesepuluh mata kuliah yang terdapat pada Kitab Laduna Ilma Jilid I dan II yakni Ma’rifatul Ilmi atau Mengenal Ilmu, sampai sekarang menjadi kajian hangat dikalangan para Murid-muridnya, Ketika Awak Media Republiknews.com mendatangi salah seorang Murid Sang Wali Imam Abdul Haris Wibowo di kediamannya, mengatakan saat ditanyai tentang Pandangan mereka tentang Ilmu. Demikian cuplikan serta paparan tentang Ilmu yang dipelajari Imam Abdul Haris Wibowo dari Imamnya yakni Imam Awal. 


Ilmu Adalah Sunnahtullah 


Q.S. Huud ayat 14


فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُفَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَسْلِمُونَ 


Artinya :


Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka ketahuilah, Sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?


Ayat ini menjelaskan merupakan kehendak Allah dimana Al Qur’an diturunkan dengan Ilmu Allah. Perhatikan kalimat “Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah”, sesuatu yang menjadi kehendak Allah itu adalah Sunnatullah, untuk jelasnya Ilmu adalah kehendak Allah atau Sunnatullah.


Q.S. An Nisa ayat 166


لَٰكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا


Artinya :


(mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkan-Nya (Al Qur’an) dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). cukuplah Allah yang mengakuinya.


Firman Allah ini mengandung ajaran, bahwa Allah menurunkan Al Qur’an dengan Ilmu-Nya. Perhatikan kalimat “Allah menurunkan-Nya (Al Qur’an) dengan ilmu-Nya”, hal ini menunjukan, bahwa ditunkannya Al Qur’an adalah atas kehendak Allah, adapun kehendak Allah merupakan Sunnatullah, jadi pada hakekatnya Ilmu adalah kehendak Allah yaitu Sunnatullah.


Q.S. Yusuf ayat 22


وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ


Artinya :


Dan tatkala Dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya Hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.


Firman Allah ini menjelaskan bahwa, Allah memberikan Ilmu kepada Nabi Yusuf. Perhatikan kalimat “Kami berikan kepadanya Hikmah dan ilmu”, dari kalimat tersebut diatas jelas menyatakan bahwa, Nabi Yusuf mendapat Ilmu yakni pemberian dari Allah. Adapun pemberian dari Allah,merupakan kehendak Allah, dan selanjutnya kehendak Allah merupakan Sunnatullah, jadi kesimpulan akhir pemberian Ilmu dari Allah merupakan Sunnatullah.


Q.S. Al Ankabut ayat 49


بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ


Artinya :

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.


Firman Allah ini mengajarkan bahwa, didalam dada orang-orang berilmu terdapat Al Qur’an. Perhatikan kalimat “Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu”, dari kalimat tersebut dapat ditarik sebuah pelajaran bahwa, Allah memberikan Ilmu kepada orang-orang yang dikehendakinya, berupa Al Qur’an yaitu ayat-ayat yang nyata. berarti pemberian Ilmu berupa ayat-ayat Al Qur’an yang nyata didalam dada merupakan kehendak Allah, adapun kehendak Allah adalah Sunnatullah.


Setelah diberikan paparan  berupa ayat-ayat Alqur’an terkait Ilmu maka disimpulkan Bahwasannya Ilmu adalah Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada orang-orang yang dikehendakiNya, tentunya Diturunkan Oleh Allah lewat perantara Jibril as, yang masuk kedalam Kalbu orang-orang yang diberi Ilmi.


Terjadi dialog panjang dengan Imam Abdul haris Wibowo yang kebetulan perbincangan tersebut diwaktu yang pas Kamis malam, kemudian beliaupun menyodorkan beberapa buah Hadits terkait dengan ilmu yang menarik untuk di pecahkan, yang masuk kepada substansi dari Ilmu itu sendiri. Yang hebat disini Substansi dari Ilmu yang dibahas justeru bukan terletak pada Ma’rifatul Ilmi tetapi dia berada pada mata kuliah lain yakni Ma’rifatul Qur’an atau Mengenali Al Qur’an, inilah bukti karya dari Seorang Wali Allah, yang mengetahui dengan jelas setiap substansi dari Al Qur’an yang diajarkan oleh Sang Pencipta sehingga dengan daya kemampuan tersebut di karyakan dalam bentuk Kitab yang menjadi Panduan bagi murid-muridnya. 


Al Qur’an Adalah Ilmu 


Q.S. Al Ankabut ayat 49


بَلْ هُوَ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ فِى صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلظَّٰلِمُونَ


Artinya :


Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.


Q.S. Al Baqarah ayat 97


قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نزلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ 


Artinya :


Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.


Q.S Al Qiyamah ayat 16-17


لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهإِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُِ


Artinya :

16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.


17.Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.


Q.S. Asy Syuura ayat 52


وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ


Artinya :


Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Ruh (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu Nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus


Untuk mengetahui bahwa Al Qur’an adalah Ilmu, mula pertama perlu dijelaskan bahwa surat Al Ankabut ayat 49 merupakan ayat terpenting dan terjelas yang membahas tentang Al Qur’an adalah Ilmu. Perhatikan kalimat “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” , maka bila kalimat tersebut diubah menurut redaksional yang lain tetapi mempunyai makna yang sama, maka kurang lebih kalimat tersebut berbunyi “Didalam dada orang-orang yang diberi Ilmu terdapat Al Qur’an yaitu ayat-ayat yang nyata”. Maka menjadi jelas bahwa Ilmu adalah Al Qur’an yang berada didalam dada.


Untuk memperjelas hakekat Ilmu yang identik dengan hakekat Al Qur’an, maka dikemukakan surat Al Baqarah ayat 97 bahwa ayat ini memperjelas kedudukan Al Qur’an sebagai Ilmu, yaitu didalam qalbu (hati).


Untuk lebih memperjelas hakekat Ilmu yang identik dengan hakekat Al Qur’an dikemukakan pula surat Asy Syuura ayat 52. Pada ayat ini menjelaskan dengan pasti bahwa hakekat Al Qur’an adalah Nur yang bersifat Ruh. Jadi bila pada surat Al Ankabut ayat 49 dijelaskan bahwa Al Qur’an berada didalam dada orang berilmu, maka pada surat Al Baqarah ayat 97 lebih diperjelas bahwa Al Qur’an berada didalam Qalbu orang-orang berilmu.


Adapun didalam qalbu Manusia terdapat Nur yang bersifat Ruh itulah Ruh Manusia atau lazim disebut Ruhul Insani. Dan hakekat Al Qur’an adalah Nur yang bersifat Ruh, maka yang dimaksud Ilmu adalah Malaikat Jibril dengan seijin Allah menurunkan Al Qur’an yang hakekatnya adalah Nur yang bersifat Ruh, bergabung dengan Ruh Manusia yang pada hakekatnya sama dengan hakekat Al Qur’an yaitu Nur yang bersifat Ruh, bergabung pada satu tempat yaitu qalbu (hati).


Maka menjadi jelaslah apa yang dimaksud dalam pokok pembahasan yaitu Al Qur’an adalah Ilmu. Karena terjadinya interaksi tergabungnya dua Ruh. Ruh Manusia atau yang disebut Ruhul Insani diselimuti oleh Ruhul Qur’an, maka kemampuan panca indra Ruhul Insani akan menjadi lebih berkualitas. Yang pada lazimnya Manusia yang memilki Ruhul Insani hanya dapat mengfungsikan panca indranya pada batasan mengindra materi Bumi. Maka sebagai orang berilmu dimana Ruhul Insani telah bergabung dengan Ruhul Qur’an, maka orang berilmu tersebut akan memiliki panca indra yang mampu menembus alam Mukarabbun.


Fungsi kedua Al Qur’an bahwa, pada surat Fush Shilat ayat 41, diterangkan bahwa Al Qur’an adalah Kitabun Aziz atau kitab yang perkasa. Maka Ruh orang berilmu yaitu Ruhul Insani yang telah diselimuti oleh Ruhul Qur’an akan menjadi perkasa semacam Al Qur’an. Yang dimaksud perkasa bahwa orang Alim mempunyai kekuatan supranatural sehingga mampu mengalahkan hawa nafsu, mengalahkan musuh, mengalahkan penyakit dan mengalahkan Iblis La’natullah serta setan pengikutnya. Juga orang Alim perkasa dalam kecerdasan dan juga perkasa dalam keberanian, serta perkasa dalam meraih atau mendapatkan Maqomam Mahmuuda kedudukan mulia yang tertinggi disisi Allah, yaitu menjadi kekasih Allah (Wali Allah).


Pada surat yaasin dijelaskan bahwa Al Qur’an adalah Hakim, Qur’an yang mengandung hikmah. Ruh orang Alim atau orang berilmu dimana Ruh Insaninya telah diselimuti oleh Ruhul Qur’an, maka Ruh Insani orang Alim tersebut akan menjadi Hakim.

Adapun yang dimaksud Hakim, Ruhul Qur’an yang berada didalam hati bukan hanya menyelimuti ruhul insani tetapi juga menyinari akal sehingga orang Alim mempunyai kecerdasan yang tinggi. Dengan kecerdasan yang tinggi tersebut orang Alim dapat mempelajari hikmah-hikmah yang terkandung dalam Al Qur’an dengan sempurna.


Fungsi keempat Al Qur’an, pada surat Al Waqi’ah ayat 77, dijelaskan bahwa Al Qur’an adalah Karim, yaitu karomah atau keramat. Maka Ruh Insani orang Alim telah diselimuti Ruhul Qur’an akan pula menjadi Karim, yaitu karomah atau keramat.


Fungsi kelima Al Qur’an pada surat Al Buruuj ayat 21 dijelaskan bahawa Al Qur’an adalah Majid yaitu Qur’anun Majid atau Qur’an yang mulia. Ruhul Insani orang Alim yang telah diselimuti Ruhul Qur’an akan menjadi mulia semacam mulianya Al Qur’an. Untuk jelasnya orang Alim akan dimuliakan dan dicintai Allah, dimuliakan dan dicintai para Malaikat dan seluruh penduduk Mukarabbun.


Fungsi keenam Al Qur’an pada surat Al Hijr ayat 87 dijelaskan bahwa Qur’an adalah Azim atau Qur’anul Azim yaitu Qur’an yang Agung. Perlu dijelaskan bahwa Al Qur’an Agung karena ia datang dari sisi Allah dan juga sebagai Ilmu Allah. Keagungan Al Qur’an terletak pada Nur dan Ruh Al Qur’an, bahwa Nur dan Ruh Al Qur’an lebih Agung dari Ruh Manusia dan Ruh Malaikat serta lebih Agung dari Ruh-Ruh lainnya.


Hakikat Al Qur’an 


Q.S Asy Syuura ayat 52


وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ


Artinya :


Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.


Ayat ini meberikan penjelasan tentang hakekat Al Qur’an, bahwa Al Qur’an pada hakekatnya adalah Nur dan Nur Qur’an tersebut adalah berfungsi sebagai ruh. Perhatikan kalimat “Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran)” serta kalimat “Kami menjadikan Al Quran itu cahaya” , pada kalimat “Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran)” khusus pada kata “Ruh Al Qur’an” memberi pengertian bahwa ruh Al Qur’an merupakan panca indra. Jadi untuk jelasnya ruh pada hakekatnya hidup dan berfungsi sebagai panca indra, maka Al Qur’an itu hidup bisa melihat, mendengar, mencium, memiliki perasaan, yaitu perasaan pribadi semisal, marah, benci, senang, gembira dan lain-lain yang mirip dengan perasaan manusia. Untuk membuktikan bahwa Al Qur’an hidup dan memiliki panca indra akan dikemukakan beberapa hadits


Hadits :


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ


Artinya:


Dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata aku telah mendengar Rasulullah bersabda : “Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya dia datang dihari kiamat memberi syafaat bagi pembacanya. Dan bacalah Zahrawaini : Surah Al Baqarah dan surah Ali Imran, sesungguhnya keduanya datang di hari kiamat seakan-akan keduanya adalah dua awan, atau seakan-akan mendung atau seakan-akan dua kelompok burung yang mengepakkan sayapnya dan melindungi pembacanya. Dan bacalah surah Al Baqarah, maka sesungguhnya mengambilnya (membacanya) adalah barokah dan meninggalkannya adalah penyesalan. Dan tidak bisa "Al Bathlah" pada pembacanya. Muawiyah berkata : “Telah sampai kabar padaku sesungguhnya "Al Bathlah" adalah sihir. (HR Muslim Kitab Assholatul musafirii: 1337)


Hadits :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً


Artinya:


Dari Abi Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda : Al Qur’an datang dihari kiamat dan berkata : “Wahai Tuhan, Pakaikanlah dia (pembaca) kemudian dikenakanlah mahkota kemuliaan, kemudian Al Qur’an berkata : Wahai Tuhan Tambahkanlah, maka dikenakanlah pakaian kemuliaan. Kemudian Al Qur’an berkata : “Wahai Tuhan, Ridhoilah dia, kemudian Allahpun meridhoinya, kemudian dikatakan kepadanya bacalah dan mendakilah dan ditambahkan setiap satu ayat satu kebaikan. (HR Tirmidzi 2839 Kitab Fadhoilul Qur’an)


Hadits :


عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ أَنَا الَّذِي أَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَأَظْمَأْتُ نَهَارَكَ


Artinya:


Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya, dia berkata Rasulullah bersabda : “Al Qur’an datang di hari kiamat seperti lelaki kurus, kemudian dia berkata : “Akulah yang membangunkan malam-malammu dan membuat haus siang harimu. (HR Ibnu Majah 3771 Kitab Al Adab)


Hadits :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ


Artinya:


Dari Abu Huraira ra, Rosulullah Saw bersabda : "Sesungguhnya ada satu surat dari Al-Qur’an berjumlah tiga puluh ayat, dia memberi syafaat bagi laki-laki hingga dia diampuni yaitu surat Tabarakalladzi biyadihil mulku (Al- Mulk). (HR Thirmidzi 2816 kitab Fadhoilul qur’an, Abu Dawud 1192, Ahmad 7634)


Dari keempat hadits diatas jelas mewartakan bahwa Al Qur’an hidup. Perhatikan kalimat “dia datang dihari kiamat memberi syafaat bagi pembacanya”, serta kalimat, Al Qur’an datang dihari kiamat dan berkata : “Wahai Tuhan, Pakaikanlah dia (pembaca) kemudian dikenakanlah mahkota kemuliaan, kemudian Al Qur’an berkata : Wahai Tuhan Tambahkanlah, maka dikenakanlah pakaian kemuliaan.


 Kemudian Al Qur’an berkata : “Wahai Tuhan, Ridhoilah dia”, selanjutnya kalimat “Al Qur’an datang di hari kiamat seperti lelaki kurus, kemudian dia berkata”. Kalimat pertama “Al Qur’an datang dihari kiamat dan berkata”, dari kalimat tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan, suatu yang dapat berkata-kata berarti hidup.


 Selanjutnya kalimat “Wahai Tuhan, Pakaikanlah dia (pembaca) kemudian dikenakanlah mahkota  kemuliaan”, disini jelas menunjukkan bahwa Al Qur’an memiliki kehendak atau keinginan, sesuatu yang berkehendak adalah zat hidup.


 Demikian juga pada kalimat “Wahai Tuhan Tambahkanlah, maka dikenakanlah pakaian kemuliaan. Kemudian Al Qur’an berkata : “Wahai Tuhan, Ridhoilah dia”. Jelas Al Qur’an memiliki keinginan atau kehendak adalah sesuatu yang hidup. Pada kalimat ““Al Qur’an datang di hari kiamat seperti lelaki kurus, kemudian dia berkata”, pada kalimat ini harus diperhatikan bahwa Al QUR’AN MEMILIKI WUJUD “dihari kiamat yaitu lelaki kurus, dan selanjutnya lelaki kurus tersebut berkata-kata. 


Sesuatu yang memiliki wujud dan dapat berbicara berarti wujud tersebut hidup, demikian pula pada kalimat “dia memberi syafaat” tidak mungkin sesuatu yang mati dapat memberikan syafaat dihadapan Allah. Semoga kita semua Bisa dipertemukan Oleh Allah dengan Wujud ILMI yang HAKIKI. Amiin .   Jumat (28/5/2021).  (T.L)

TerPopuler