Iklan

Iklan

,

Iklan


Pentingnya Sifat Amanah

Republiknews
Jumat, 03 Desember 2021, Desember 03, 2021 WIB Last Updated 2021-12-04T07:53:11Z


Republiknews.com -, Amanah secara etimologis berasal dari bahasa Arab amina – ya`manu- amanatan yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Ada tiga kata serupa yang semuanya dibentuk dari huruf alif, mim dan nun yaitu aman, amanah dan iman. Ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu menunjukkan kepada ketenangan atau tuma’ninah, Sabtu (04/12/2021).


Sehingga dengan adanya keterangan diatas tentang makna kata Amanah, menjadi wajib bagi kita selaku orang beriman untuk melaksanakan apa yang sudah diamanahkan kepada diri kita, Istiqomah serta mengedepankan amanah merupakan langkah wajib bagi orang beriman.


Qs : Al Anfal Ayat 27

يا ايها الذين امنوا لا تخونواالله والرسول وتخونواأمنتكم وانتم تعلمون

Artinya: 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui". 


Qs : An Nisa ayat 58

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya: 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.


Qs : Al Anfal Ayat 58 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” 


Ketiga firman Allah diatas inilah yang menejelaskan kepada kita tentang Amanah, perhatikan kalimat pada firman Allah yang pertama “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,” kalimat ini sangat jelas ditujukan kepada kaum Mu’minin yakni orang yang beriman jangan mengkhianati Allah dan Rosulunya. Kemudian kalimat “janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,” sangat jelas dimana Allah melarang orang beriman untuk berkhianat terhadap Amanah yang sudah diberikan kepada diri kita. Kemudian pada kalimat yang terakhir dari firman tersebut diatas perhatikan “sedang kamu mengetahui". Sangat jelas mereka sangat mengetahui apa yangsudah diamanahkan kepada mereka.


Selanjutnya pada firman Allah yang kedua khusus pada kalimat “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat” kalimat ini sangat jelas bahwasannya Allah Swt perintahkan kepada orang beriman untuk menyampaikan amanah, bagi orang yang beriman sebelum kematian menjemput mereka, mereka akan memberikan amanah kepada rang yang dianggap bisa melaksanakan amanah tersebut, setelah amanah diberikan maka tugas selanjutnya adalah mereka yang menerima amanah tersebut untuk dilakukan, dan bila mereka tidak melaksanakannya, maka sudah pasti akan mendapatkan ganjaran dari Allah.


Kemudian pada firman Allah yang ketiga perhatikan kalimat “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” Jelas Allah tidak menyukai orang yang berkhianat alias tidak melakukan amanah yang diberikan kepada mereka, sementara mereka mampu untuk melaksanakan amanah tersebut. Sejalan dengan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dimana tidak sempurnah Imannya seseorang bila dia tidak Amanah. Perhatikan hadits tersebut dibawa ini.


Hadits :

Rasulullah SAW bersabda: 

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

Artinya :

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji (HR Imam Ahmad bin Hambal).


Selanjutnya dijelaskan pada ketiga hadits dbawa ini terkait amanah 

Hadits :

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

Tunaikanlah amanah terhadap orang yang memberi amanah padamu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang telah mengkhianatimu (HR. Ahmad dan Abu Daud).


Hadits :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَثَ كَذِبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanat ia berkhianat.” (Muttafaq Alaihi).


Di riwayat lain ditambahkan,

وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

Artinya :

“Walaupun ia berpuasa dan shalat serta mengklaim dirinya muslim.”


Pada hadits yang pertama perhatikan kalimat “Tunaikanlah amanah terhadap orang yang memberi amanah padamu” kalimat ini sangat jelas dimana Nabi perintahkan kepada kita untuk menunaikan apa yang sudah diamanahkan oleh seseorang kepada kita, apalagi orang tersebut sudah memberikan kebaikan pada diri kita. Kemudian kalimat selanjutnya perhatikan “dan janganlah berkhianat terhadap orang yang telah mengkhianatimu” kalimat ini sangat jelas dimana nabi melarang kita untuk berkhianat kepada orang yang telah mengkhianati kita. 


Selanjutnya pada hadits pendukung yang kedua perhatikan kalimat “Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanat ia berkhianat.” Khusus pada kalimat “jika diberi amanat ia berkhianat” kalimat ini sangat jelas, orang yang tidak melaksanakan yang sudah diamanahkan kepada dirinya, maka ole nabi orang tersebut tergolong dalam kaum Munafik yang kelak tempatnya dineraka. Walaupun orang tersebut melakukan sholat puasa dan peribadatan yang lain bila dia tidak melaksanakan apa yang dimanahkan kepada drinya maka dia masuk golongan orang yang munafiq. Pehatikan hadits dibawa ini.

 

Di riwayat lain ditambahkan,

وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

Artinya :

“Walaupun ia berpuasa dan shalat serta mengklaim dirinya muslim.”


Jabatan Merupakan Amanah


Hadits :

يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلْنِيْ؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبَيَّ ثُمَّ قَالَ : يَا أَباَ ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وإَنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَومَ الْقِيَامَةِ حِزْيٌ وَنَداَمَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَى الَّذِى عَلَيْهِ فِيْهَا

Artinya :

Suatu hari, Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)? Lalu, Rasul memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya).” (HR Muslim).


Hadits :

Rasulullah SAW bersabda:

من استعمل رجلا من عصابة و في تلك العصابة من هو أرضى لله منه فقد خان الله و خان رسوله و خان المؤمنين

Artinya :

Barangsiapa mengangkat seseorang untuk suatu jabatan karena ada tali kekeluargaan, padahal ada orang yang lebih disukai Allah daripadanya, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman” (HR. Hakim).


Kedua hadits diatas inilah yang menjelaskan kepada kita tentang jabatan adalah amanah, perhatikan kalimat pada hadits yang pertama “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)?” kalimat tersebut maksudnya bahwa Rosulullah telah mengangkat abudzar al ghifari menjadi pemimpin kemudan kalimat selanjutnya perhatikan ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah.” Dari kalimat ini kita mendapatkan pelajaran bahwasannya jabatan sebagai pemimpin merupakan amanah bagi setiap diri. Lalu kalimat selanjutnya “ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat,” kenapa demikian, amanah akan menjadi kehinaan dan penyesalan terhadap seseorang ? perhatikan kalimat selanjutnya “kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya).” Jelas kehinaan serta penyesalan akan berlaku bdiagi orang yang tidak melaksanakan apa yang telah diamanahkan kepada dirinya.


Kemudian pada hadits selanjutnya perhatikan kalimat “Barangsiapa mengangkat seseorang untuk suatu jabatan karena ada tali kekeluargaan, padahal ada orang yang lebih disukai Allah daripadanya, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman” dari kalimat pada hadits tersebut diatas kita mendapatkan pelajaran bahwasannya jabatan haruslah diberikan kepada seseorang yang ahli dibidang tersebut sehingga dia bisa bekerja sesuai kemampuan yang dimilikinya. 


Ada suatu kelompok dimana mereka ketika akan melakukan sesuatu hal yang besar seperti contoh membangun sebuah mesjid, maka mereka akan menunggu tentang petunjuk yang datang dari Allah melalui Mubashiroh (Mimpi yang benar). Apakah boleh dikerjakan atau tidak, dan hal tersebut ternyata didukung oleh hadits yang kita kaji sekarang ini perhatikan lagi kalimat pada hadits tersebut “Barangsiapa mengangkat seseorang untuk suatu jabatan karena ada tali kekeluargaan,” kemudian kalimat “padahal ada orang yang lebih disukai Allah daripadanya,” kalimat ini sangat jelas bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ada orang diantara kita yang lebih disukai oleh Allah” caranya cuman satu dimana kita bisa mengetahui orang tersebut melalui Mubasyiroh (Mimpi yang benar yang datangnya dari Allah).


Selanjtnya Nabi menjelaskan tentang yang dimaksud dengan amanah perhatikan hadits dibawa ini.


Hadits :  

Rasulullah SAW sebagai berikut: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

Artinya :

Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang membicarakan sesuatu kepada orang lain (sambil) menoleh kanan kiri (karena yang dibicarakannya itu rahasia) maka itulah amanah (yang harus dijaga) [HR. Abu Daud].


Selanjutnya nabi menjelaskan tempat yang tidak trdapat amanah didalamnya, yakni ditempat pertumpahan darah yang dilarang, ditempat perzinahan serta tempat perampokan. Perhatikan hadits dibawa ini.


Hadits :

الْمَجَالِسُ بِالْأَمَانَةِ إِلَّا ثَلَاثَةَ مَجَالِسَ سَفْكُ دَمٍ حَرَامٍ أَوْ فَرْجٌ حَرَامٌ أَوْ اقْتِطَاعُ مَالٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Artinya :

Majelis pertemuan itu harus dilandasi sifat amanah, kecuali pada tiga majelis, yaitu: di tempat pertumpahan darah yang dilarang, di tempat perzinaan dan perampokan. (HR. Abu Daud).


Kemudian Nabi menjelaskan tentang orang yang tidak amanah.


Hadits :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

 لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ

Artinya :

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memmegang janji.” (HR. Ahmad).

 

Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah” kemudian kalimat “dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memmegang janji” perlu dijelaskan bahwa Amanah dan Janji merupakan kalimat sepasang. Semisalnya seseorang diakhir hayatnya memberikan amanah kepada seseorang, secara spontanitas orang yang menerima amanah tersebut akan berjanji melaksanakan apa yang diamanahkan kepada dirinya, baik secara langsung disampaikan atau dalam tasdiq qalbi (dalam hati) hal tersebut inilah yang dimaksud hadits sehingga bagi orang yang tidak menjalankan amanah yang diberikan kepada dirinya oleh Nabi orang terseut telah keluar dari Islam. Perhatikan sekali lagi kalimat pada hadits tersebut diatas “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah” maksudnya orang yang tidak amanah mereka tidak beriman. Kemudian kalimat selanjutnya “dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memmegang janji.” Jelas orang yang tidak menepati janji menjalankan apa yang diamanahkan kepada dirinya maka orang tersebut tidak beragama.


Selanjutnya Nabi menjelaskan dimana orang yang menjaga amanah artinya melaksanakan apa yang diamanahkan kepada dirinya mereka tidak akan merugi sekalipun kehilangan dunia. Perhatikan hadits tersebut dibawa ini.


Hadits : 

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيْكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا:حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيْثٍ، وَحُسْنُ خُلُقٍ، وَعِفَّةُ طُعْمَةٍ

Artinya :

“Empat hal jika dia ada dalam dirimu, engkau tidak merugi walupun kehilangan dunia: Menjaga amanah, berkata dengan jujur, berakhlak yang mulia dan menjaga makanan (dari yang haram).” (HR. Ahmad).


Amanah terbesar disisi Allah pada Yaumil akhir nanti


Hadits :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَمَانَةِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Artinya :

“Sesungguhnya amanat yang paling besar di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah seseorang yang bersetubuh dengan istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian dia (suami)   rahasianya.” (HR. Muslim).


Hadits diatas inilah yang menjelaskan kepada kita tentang amanah yang paling besar disisi Allah kelak. Perhatikan kalimat “Sesungguhnya amanat yang paling besar di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah seseorang yang bersetubuh dengan istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian dia (suami) menyebarkan rahasianya.” Inilah amanah terbesar kelak yakni hubungan antara suami istri yang merupakan rahasia antara keduanya. Sehingga ada aliran tasawwuf dalam susunan keilmuannya yang tertinggi adalah “Ilmu Nisa’” dan hal tersebut merupakan rahasia antara keduanya ketika melakukan hubungan suami istri.

Selanjutnya pada hadits yang terakhir.

  

Hadits : 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْنَارٌ فِي رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَـارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَـى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا، اَلَّذِيْ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Artinya :

“Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim).


Perhatikan kalimat hadits tersebut ‘Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin” kalimat ini jelas. Dimana kita menyedekahkan satu dinar dijalan Allah, satu dinar untuk membebaskan seorang budak dan satu dinar lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Kemudian kalimat selanjutnya “dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” Kenapa demikian ? karena pahal terbesar diberikan kepada keluarga ada nilai amanahnya disitu. Keluarga merupakan Amanah Allah kepada kita, baik isteri serta anak-anak yang kita miliki. Semoga ada manfaatnya. (talia)

Iklan