Iklan

Iklan

,

Iklan

Dibalik Vaksinasi dan Penanganan Covid-19 WHO Khawatirkan Ribuan Ton Limbah Medis

Republiknews
Kamis, 03 Februari 2022, Februari 03, 2022 WIB Last Updated 2022-02-03T14:48:08Z

 


Republiknews -    Serbuan Vaksinasi dan Penanganan pasien, limbah medis Covid-19 menjadi kekawatiran yang serius serta mengancam kesehatan manusia dan lingkungan.


Alat Pelindung Diri (APD), jarum suntik bekas, alat uji bekas dan botol vaksin bekas di perkirakan mencapai ribuan ton dan dipastikan menjadi limbah medis yang mengawatirkan.


Kekawatiran global ini disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) barang - barang limbah medis tersebut berpotensi membuat penyebaran kuman peyebab penyakit bila tidak ditangani dengan benar .


Petugas teknis WHO , Maggie Montgomery, menyatakan kepada wartawan yang berbasis di Jenewa, seperti dikutip AFP, Rabu (02/02/ 2022).


"Kami menemukan bahwa covid-19 telah meningkatkan beban limbah perawatan kesehatan di fasilitas hingga 10 kali lipat,”ungkapnya.


“Risiko terbesar bagi masyarakat yang terkena dampak adalah polusi udara yang disebabkan oleh pembakaran sampah pada suhu yang tidak cukup tinggi yang menyebabkan pelepasan karsinogen,” tambahnya


Menurut laporan WHO, memperkirakan bahwa sekitar 87.000 ton alat pelindung diri (APD) atau setara dengan berat beberapa ratus paus biru,  telah dipesan melalui portal PBB hingga November 2021.  Sebagian besar diperkirakan APD itu berakhir sebagai limbah.


Tak hanya itu , laporan yang lain menyebutkan, sekitar 140 juta alat uji dengan potensi menghasilkan 2.600 ton sebagian besar sampah plastik dan limbah kimia yang cukup untuk mengisi sepertiga kolam renang Olimpiade.


WHO juga  menyampaikan,  diperkirakan bahwa sekitar 8 miliar dosis vaksin yang diberikan secara global telah menghasilkan tambahan 144.000 ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman.


Dan ini merupakan limbah medis global yang sangat signifikan .


Meggie Montgomery mengatakan, kesalahan persepsi tentang tingkat infeksi covid-19 dari permukaan harus disalahkan atas apa yang disebutnya "penggunaan berlebihan" alat pelindung, terutama sarung tangan.


"Kita semua pernah melihat foto pakaian kesehatan, kita semua pernah melihat foto orang yang divaksinasi dengan sarung tangan," ujarnya 


"Tentu saja secara keseluruhan orang-orang memakai APD yang berlebihan," tambahnya.


Laporan WHO tidak menyebutkan contoh spesifik di mana penumpukan paling mengerikan terjadi, tetapi merujuk pada tantangan seperti pengolahan dan pembuangan limbah yang terbatas di pedesaan India. Termasuk juga sejumlah besar lumpur tinja dari fasilitas karantina di Madagaskar.


“Bahkan sebelum pandemi, sekitar sepertiga fasilitas kesehatan tidak dilengkapi untuk menangani beban limbah yang ada. Angka itu setinggi 60 persen di negara-negara miskin,” pungkas WHO


Kekawatiran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO ) ini memang perlu di perhitungkan oleh Negara ataupun Daerah yang penanganan limbah medisnya tidak profesional.


Bila limbah medis tersebut tidak mendapat perhatian  serius dari pihak yang terkait,  tidak menutup kemungkinan ancaman kesehatan manusia dan linkungan semakin mengerikan.

(**)

Iklan


Iklan


iklan