Iklan

Iklan

,

Iklan


Apakah Benar Rukun Islam Hanya dapat ditegakkan oleh orang yang berharta

Republiknews
Jumat, 11 Maret 2022, Maret 11, 2022 WIB Last Updated 2022-03-12T05:06:31Z


Republiknews.com – dialog, seorang sahabat lama lulusan salahsatu perguruan tinggi Islam datang silaturahmi, sebelum dialog, narasumber mengatakan kalau pembicaraan tersebut resmi, sehingga nara sumber membuat suatu bentuk karya tulis yang dimuat di media online Republiknews.com.


(FL), nama samaran sahabat tersebut yang enggan namanya disebutkan bertanya, menurut pandangannya rukun yang ada didalam DINUL ISLAM khususnya Rukun Islam, hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki harta, sehingga orang-orang miskin, tidak akan bisa meraih pahala Rukun Islam yang sama dengan orang yang memiliki harta.


Narasumber mendebatnya dengan dalil-dalil Al qur’an serta sunnah Nabi, yangmana pemahaman yang selama ini dimiliki oleh (FL) keliru, Islam merupakan Agama yang terakhir yang dibawa oleh Nabi/Rasul terakhir Muhammad SAW, yang merupakan Rahmatan Lilalamiin, artinya menjadi rahmat buat seluruh manusia.


Sehingga ajarannyapun bisa diterima oleh seluruh manusia baik yang meiliki pendidikan yang formal ataupun nonformal. Kenapa demikian? Karena ajarannya langsung dari Sang Pencipta Jagad semesta ini, yang mampu dijalankan oleh manusia tanpa merasa terbebani. 


Ingat! Didalam Islam siapa saja yang bertaqwa kepada Allah maka merekalah yang mulia disis Allah, tidak melihat siapa yang paling berharta, semoga sahabat saya (FL) bisa membaca tulisan ini yang dipaparkan beserta dasar hukumnya. 



Dinul Islam (Agam Islam) dengan ketiga muatannya.



Hadits :

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيضاً قَال: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إَذْ طَلَعَ عَلَيْناَ رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثّياب، شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنا أحَدٌ حَتى جَلَسَ إلَى النبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذِيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إلَه إلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله، وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً» قَالَ: صَدَقْتَ. فَعجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرِنيْ عَنِ الإِيْمَانِ! قَالَ: «أَنْ تُؤمِنَ بِالله، وَمَلاِئكَتِه، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَومِ الآَخِر، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ فَأخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ! قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ! قَالَ: «مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها! قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ» ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: «يَا عُمَرُ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلَّمُكُمْ دِيْنَكُمْ» رواه مسلم.  

Artinya :

Dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga, berkata: pada suatu hari kami duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau. Dia bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh danmuhammadur rasûlûllâh,menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan,dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus yang mengoreksinya. Lelaki itu bekata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!” Beliau menjawab, “Anda beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!” Beliau menjawab, “Anda menyembah Allah seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda. ”Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin,dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.” Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai ‘Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu? Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Shahih Muslim (no. 8), Sunan Abu Dawud (no. 4695), Sunan at-Tirmidzi (no. 2610), Sunan Ibnu Majah (no. 63), Sunan an-Nasa`i (VIII97-101), dan Musnad Ahmad (I27, 28, 51, 52), Musnad ath-Thayalisi (no. 21), dan Musnad Abu Ya’la (no. 237).


Hadits inilah yang menjelaskan kepada kita bahwa (Dinul Islam) atau Agama Islam memiliki 3 rukun utama, perhatikan hadits tersebut diatas yang menjadi pertanyaan Malaikat kepada Rosulullah khusus pada kalimat : “Dia bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Kalimat ini sangat jelas dimana orang yang datang kepada Rosulullah adalah Namusul Akbar atau Malaikat Jibril, bertanya kepada Rosul tentang ISLAM. Lantas dijawab oleh Nabi, perhatikan kalimat selanjutnya : “Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh danmuhammadur rasûlûllâh,menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan,dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.” Sangat jelas. Inilah yang dikatakan Nabi bahwa Islam memiliki 5 arkanil yakni :


- Syahadah

- Sholat

- Puasa

- Zakat

- Haji.


5 arkanil inilah yang menjadi Pilar didalam Rukun Islam yang masuk kedalam DINUL ISLAM atau Agama Islam. Orang yang mengaku beragam Islam wajib hukumnya melaksanakan ke-5 rukun yang ada didalam dinul Islam, apakah orang tersebut dari kalangan pejabat, menteri, TNI, POLRI, Pedagang kaki lima dll, semuannya pasti akan menjalankan kelima rukun yang ada didalam Agama Islam tersebut. 


Untuk jelasnya akan ditambahkan sebuah hadits Nabi 


Hadits :

Artinya :


Islam dibagun di atas lima hal: syahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” (Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 8), Shahih Muslim (no.16), Sunan at-Tirmidzi (no. 2609), Sunan an-Nasa`i (VIII107-108), dan Musnad Ahmad (II26, 93, 120, 143), dan Musnad al-Humaidi (no. 703).


Hadits tersebut diatas merupakan hadits shohih, sehingga menjadi suatu kewajiban bagi kita selaku Umat Islam untuk menjalankan ke-5 perintah tersebut yang terdapat dalam Agama Islam, baik yang berharta maupun tidak berharta. 


Syahadah


Syahadah merupakan perintah pertama yang terdapat didalam Rukun Islam, siapa saja orang yang ingin menjadi seorang Muslim maka wajib hukumnya mengucapkan kalimat Syahadah yakni : 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah". Yang artinya : "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah".


Inilah yang disebut dengan kalimat syahadah, siapapun dia pasti bisa menyebutnya baik sikaya ataupun simiskin.


Sholat


Sholat merupakan perintah kedua yang terdapad dalam Rukun Islam, seorang muslim berkewajiban untuk melaksanakan sholat Wajib yang sudah ditentukan sesuai syariat Islam. Didalam sehari sholat wajib yang dilakukan adalah 5 kali dengan waktu yang berbeda-beda seperti yang sudah diketahui bersama. 


Untuk pahala sholat tergantung kepada masing-masing Individu didalam melaksanakannya, kenapa ? karena didalam sholat tersebut dibutuhkan Ke Khusyukan. Nilainya mutlak dari Allah. dan ini dapat dilakukan oleh semua manusia yang beragama Islam, baik miskin ataupun kaya, mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau sekirannya ada yang tidak memiliki kedua kaki, berarti dia tidak bisa meraih pahala Sholat?.


Disinilah letak dari nilai Islam yang merupakan Agama yang bersumber dari Allah SWT. Sehingga siapa saja makhluk Allah yang berada dimuka bumi ini yang akan melaksanakan sholat bisa dijalani dan perolehan pahalanya tidak melihat sikaya dan simiskin. Perhatikan hadits nabi dibawa ini.

 

Hadits :

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Artinya: 


“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu shalatlah dengan duduk, jika tidak mampu shalatlah dengan berbaring”. (Shahih Bukhari, No. 1117., Sunan Abi Daud, No. 953).


Dari hadits tersebut diatas inilah sehingga kita bisa menyimpulkan orang yang sholat berdiri sama dengan orang yang sholatnya duduk atau berbaring, siapa yang Khusyuk dialah yang terbaik, tidak memandang kaya dan miskin atau pejabat dengan pemulung. Yang memiliki kaki ataupun tidak memiliki kaki. 


Puasa


Perintah Puasa merupakan urutan ke-3 dalam Rukun Islam, perintah tersebut dapat dilakukan oleh seluruh manusia yang beragama Islam, seseorang yang memiliki kakayaan wajib melakukan puasa atau seseorang yang sangat miskin sekalipun wajib untuk menjalankan Ibadah Puasa Romadhan (Puasa Wajib). Selain hal tersebut Allah SWT meringankan bagi orang yang benar-benar tidak mampu melakukan puasa dengan ketentuan. 


Yang perlu digaris bawahi adalah, sekalipuan dia orang yang memiliki banyak harta bila dia mampu menjalankan puasa lantas dia meninggalkannya tanpa alasan jelas, maka dia terkena hukum dari Allah, yakni orang yang meninggalkan puasa dengan terang-terangan. Siapa saja orang yang dibenarkan meninggalka puasa? Perhatikan hadits tersebut dibawa ini :


Hadits :

Artinya :

“Mereka berpendapat, bagi yang mempunyai kekuatan lalu puasa, maka itu baik. Bagi yang mendapati kelemahan lalu tidak puasa, maka itu baik.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 3/92 no. 712 dan beliau katakan, “Hasan sahih.”)


Hadits ini jelas, ketika para sahabat syafar dibulan ramadhan maka diantara mereka ada yang fisiknya lemah, sehingga tidak kuat untuk berpuasa. Orang yang melakukan perjalanan jauh (Musyafir) dibulan Ramadhan mereka tidak diwajibkan untuk berpuasa akan tetapi jika fisiknya kuat lalu dia berpuasa, maka itu baik dihadapan Allah. 


Meskipun demikian orang tersebut harus mengganti puasanya dibulan yang lain, dan dia berkewajiban mengeluarkan Kaffarat (memberi makan orang miskin). Untuk jelasnya kami akan menambahkan sebuah hadits nabi :


Hadits :

Artinya :


“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan dalam keadaan sangat panas, sampai-sampai salah seorang dari kami meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panasnya. Tidak ada yang berpuasa di antara kami kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abdullah bin Rawahah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2687 dan Muslim no. 2687)


Hadits ini sangat jelas, dimana Rosulullah membolehkannya.


Hadits :

Artinya :


Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang sudah tua yang tidak sanggup lagi berpuasa. Sebagai gantinya, dia memberi makan setiap harinya satu orang miskin setengah sha’ (kurang lebih 1,5 kg) hinthah (gandum). (HR. ad-Daraquthni dalam Sunan-nya, 2/207 dan dinilai sahih olehnya).


Zakat.


Perintah keempat didalam Rukun Islam adalah mengeluarkan zakat dari hasil yang diperoleh dari seseorang dengan jumlah 2,5 %. Mungkin ada yang bertanya lantas bagaimana dengan orang yang tidak memiliki penghasilan ?, orang yang tidak memiliki penghasilan didalam islam hukumnya dia wajib menerima Zakat. Berarti dia tidak akan pernah mendapatkan Pahala dalam bentuk ZAKAT yang termasuk dalam rukun Islam ke-4.?


Untuk menjawabnya maka silahkan perhatikan hadits dibawa ini :


Hadits :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلُّ يَومٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ: تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ في دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَو تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ الأَذى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ» رواه البخاري ومسلم.

Artinya :


“Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari di mana matahari terbit di hari itu : engkau mendamaikan antara dua orang adalah sedekah, engkau menolong seseorang untuk menaiki tunggangannya atau menggangkutkan barangnya ke atas tunggangannya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang engkau ayunkan menuju shalat adalah sedekah, engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2707, 2891, 2989), Shahih Muslim (no. 1009), Musnad Ahmad (II312, 316, 374), dan Sunan al-Baihaqi (IV187-188).


Hadits inilah yang menjelaskan tentang Ragam Sedekah. Perhatikan kalimat “engkau mendamaikan antara dua orang adalah sedekah,” kita mendamaikan kedua orang yang bertikai, maka itu menjadi sedekah buat diri kita nilainya setara dengan orang yang bersedekah dengan mengeluarkan harta bendanya. Kemudian kalimat selanjutnya “engkau menolong seseorang untuk menaiki tunggangannya atau menggangkutkan barangnya ke atas tunggangannya adalah sedekah,” kalimat ini juga jelas, kita menolong orang nilainya setara dengan bersedekah. Lalu kalimat “kalimat yang baik adalah sedekah,” jelas berbicara dengan sahabat kita atau siapa saja kemudian kita menggunakan kalimat yang baik dalam berbicara, maka itu akan menjadi sedekah buat diri kita, nilainya setara dengan orang yang bersedekah harta. Kemudian kalimat selanjutnya perhatikan “setiap langkah yang engkau ayunkan menuju shalat adalah sedekah,” kalimat ini juga jelas setiap langkah yang kita ayunkan menuju kepada suatu kebaikan nilainya setara dengan bersedekah harta.kemudian perhatikan kalimat terakhir dari hadits tersebut diatas “engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” Sangat jelas, kita menyingkirkan ganguan dijalan dengan niatan agar jangan terkena orang yang akan melewati jalan tersebut, maka nilainya setara dengan kita bersedekah harta. Untuk jelasnya silahkan pehatikan hadits tersebut dibawa ini :


Hadits :

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: sekelompok manusia dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 عَنْ أَبي ذَرٍّ رضي الله عنه أَيضَاً: أَنَّ نَاسَاً مِنْ أَصحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالوا للنَّبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَارَسُولَ الله! ذَهَبَ أَهلُ الدثورِ بِالأُجورِ، يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّيْ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ: «أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُوْنَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَة، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمَيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٍ بالِمَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ» قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فَيْ حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فَي الحَلالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.


Artinya :

“Ya Rasulullah! Orang-orang kaya memborong banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, tetapi mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap memerintah yang ma’ruf adalah sedekah, setiap melarang kemungkaran adalah sedekah, dan pada senggama kalian ada sedekahnya pula.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah! Benarkah salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya lantas dia mendapat pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian, jika dia melampiaskannya pada yang haram, bukankah dia akan mendapat dosa? Begitu pula, jika dia melampiaskannya pada yang halal, maka dia mendapat pahala.” (Shahih Muslim (no. 1006), Sunan Abu Dawud (no. 5243,5244), Musnad Ahmad (V167, 168), al-Adab al-Mufrad (no. 227), dan Musnad al-Bazzar (no. 3917, 3918).

  

Dari hadits tersebut diatas ini maka kita bisa mengetahui bahwa ternyata banyak sekali perihal yang setara dengan sedekah, sehingga kita tidak perlu khawatir bila kita tergolong orang yang tidak berharta. Perhatikan kalimat “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah,” sangat jelas mengucapkan kalimat Baqiyyatusholihat merupakan sedekah yang nilainya setara dengan bersedekah harta. Perhatikan lagi kalimat selanjutnya “setiap memerintah yang ma’ruf adalah sedekah” bila kita tidak memiliki harta untuk disedekahkan, maka perintahkan kepada anak kita berbuat kebaikan, sehingga nilainya setara dengan bersedekah harta. Kalimat selanjutnya perhatikan “dan pada senggama kalian ada sedekahnya pula.” Sangat-sangat jelas. Bahkan hubungan kita dengan isteri kita nilainya adalah sedekah. 


Hajji


Ibadah Hajji menjadi perintah yang kelima didalam Rukun Islam, perintah tersebut yang kebanyakan manusia berpendapat bahwa sulit untuk dilakukan karena tidak memiliki harta. Apakah benar perintah Ibadah Hajji tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki harta, dan bagaimana bila sekirannya dia tidak memiliki harta. Perhatikan hadits dibawa ini :


Hadits :

Artinya :

Diriwayatkan oleh At Turmudzi, dan ia mengatakan ini adalah hadits hasan marfu’, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, lalu ia sholat dua raka’at dhuha, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Rasulullah kemudian berkata: “Sempurna… sempurna….. sempurna…”


Hadits :

Artinya :

Dalam riwayat At Thabrani disebutkan, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir di tempatnya sampai matahari terbit setinggi tombak maka ia akan memperoleh kedudukan orang yang melakukan haji dan umrah secara sempurna.” Berkata Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah saw bila melakukan sholat subuh, ia tidak berdiri dari tempat duduknya sampai tiba waktu sholat dhuha.


Kedua hadits tersebut dibawah ini yang menjelaskan kepada kita sekalipun tidak memiliki Harta kita bisa melakukan Ibadah Haji dan Umrah. 


Perhatikan kalimat pada hadits yang pertama “Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah” kalimat ini sangat jelas orang yang melakukan sholat subuh secara berjama’ah. Lalu kalimat “kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari,” kalimat ini maksudnya setelah orang tersebut selesai sholat subuh berjama’ah, dia tidak berdiri akan tetapi melanjutkan dengan berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari.


 Kemudian kalimat selanjutnya “lalu ia sholat dua raka’at dhuha,” kalimat ini juga jelas, setelah matahari terbit setinggi tombak kemudian dia langsung berdiri mengerjakan sholat sunnah Dhuhah. Kemudian kalimat hadits selanjutnya perhatikan “maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Sangat jelas. 


Inilah perolehannya, dia akan dipahalai setara dengan orang yang melakukan Ibadah Haji dan Umrah secara sempurna.


 Perhatikan kalimat pada ujung hadits tersebut “Sempurna… sempurna….. sempurna…” ini adalah ucapan nabi. nabi yang mengatakannya Hajji dan Umrohnya secara sempurna. Bila seseorang melakukan hal tersebut. Semoga dengan kajian ini sahabat saya bisa memahaminya. (talia)

Iklan