Iklan

Iklan

,

Iklan


Berbekal Petunjuk Nabi Gapai Ampunan Allah dibulan Ramadhan

Republiknews
Senin, 18 April 2022, April 18, 2022 WIB Last Updated 2022-04-18T16:49:28Z

 


Republiknews.com – Ramadhan, Di dalam Dinul Islam (Agama Islam) terdapat satu perintah yang wajib dilaksanakan oleh seorang Mu’min yakni berpuasa dibulan Suci Ramadhan, dikatakan Bulan Suci karena pada bulan tersebut diturunkannya Al qur’an nul karim oleh Allah Swt. Malam diturunkannya Al qur’an tersebut inilah yang dinamakan dengan Lailatul Qadar.


Diturunkannya Lalatul Qadar


Qs : Al Qadr Ayat 1-5


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ


Artinya :


Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.


Firman Allah tersebut diatas inilah yang sangat jelas menjelaskan kepada kita, pada ayat yang pertama perhatikan kalimat : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” Dari kalimat ini kita mendapatkan pelajaran dimana Allah Swt telah menurunkan Al Qur’an pada malam tersebut yang dinamakan dengan malam kemuliaan. Kemudian pada ayat yang kedua Allah bertanya perhatikan : “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” ini adalah pertanyaan Allah sekaligus dijawab oleh Allah Swt pada ayat ketiga perhatikan kalimat : “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Kalimat ini sangat jelas, bahwasannya malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Selanjutnya perhatikan ayat keempat : “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” Lalu pada ayat terakhir : “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” Dari ayat tersebut kita mendapatkan pelajaran dimana pada malam itu jugu turun para malaikat yang dipimpin oleh penghulu para malaikat yakni Namusul Akbar (Jibril) bersama Nurul Qur’an, sehingga yang menjadi juara pada Ramadhan tersebutlah yang akan mendapatkan Lailatul Qadar, selain memperoleh ampunan dari Allah juga memperoleh derajat yang tinggi dari Allah Swt. 


Dibukanya Pintu Surga serta ditutupnya Pintu Neraka dan Para setan dibelenggu


Hadits :

اِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ اَبْوَابُ النَّارِوَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ.

Artinya :

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu (Sahih, R. Muslim: 1793).


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya Pintu-pintu surga dibuka oleh Allah serta pintu neraka akan ditutup ketika datangnya Bulan Suci Ramadhan, juga para syaithan dibelenggu. Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu”


Harumnya bau mulut orang yang berpuasa pada sisi Allah


Hadits :

Artinya :

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat dari pada bau misk atau kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita dimana aroma dari mulut orang yang berpuasa sangatlah harum pada sisi Allah. perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat dari pada bau misk atau kasturi.” Subhanaullah, lebih harim dari minyak wangi aroma mulut orang yang berpuasa kelak pada yaumil akhir.


Pahala Puasa Hanya Allah Yang mengetahuinya


Hadits :

Artinya :

”Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku memberikan balasan kepadanya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya karena Aku’.” (Hadist riwayat Muslim).


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya pahala puasa hanya Allah yang mengetahuinya. Perhatikan kalimat pertama : “Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda.” Maksud kalimat tersebut segala kebajikan yang dilakukan oleh anak adam akan dilipat gandakan sebanyak 10 hingga 700 kali lipat. Kemudian kalimat selanjutnya : “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku memberikan balasan kepadanya” kalimat ini sangat jelas, Allah sendiri yang memberikan pengecualian yakni Puasa, kenapa ? perhatikan kalimat selanjutnya : “karena dia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya karena Aku.” Maka menjadi jelas, orang yang berpuasa karena Lillahita’ala. Benar-benar akan mendapatkan balasan dari Allah langsung. (hanya Allah yang mengetahuinya).


Puasa Dapat Memberikan Syafaat 


Hadits :

Artinya :

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Al-Qur’an pula berkata, ‘Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya’. Beliau bersabda: ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan’.” (HR. Ahmad, Hakim dan At- Thabrani).


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya Puasa dapat memberikan syafa’at kepada seseorang. Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat” kalimat ini sangatlah jelas bahwasannya Puasa dapat memberikan syafa’at kepada seseorang kelak diyaumil hizab nanti. Kemudian kalimat selanjutnya : “Puasa akan berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya” sangat jelas. Bahwasannya Puasa akan meminta kepada Allah Swt. 


Jibril Bertadarus bersama Rosulullah dibulan Ramadhan pada setiap malamnya 


Hadits :

Artinya :

Jibril menemuinya (nabi) pada tiap malam-malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya. (HR. Bukhari No. 3220).


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya pada setiap malam dibulan Ramadhan Jibril as datang bertadarus bersama Rosulullah Saw. Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Jibril menemuinya (nabi) pada tiap malam-malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya”


Orang Yang berpuasa Do’anya tidak tertolak


Hadits :

ثَلاَثَةٌ لاَتُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَاْلإمَامُ الْعَادِلُ وَالْمَظْلُوْمُ.

Artinya :

Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doanya mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’anya orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).


Dari keterangan hadits tersebut diatas inilah kita mendapatkan pelajaran dimana do’a bagi orang yang berpuasa dikabulkan oleh Allah Swt. Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doanya mereka” kemudian kalimat : “orang yang berpuasa hingga berbuka,”


Disunnahkan berbuka puasa dengan Kurma atau Air Putih. 


Hadits :

Artinya :

"Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya hendaknya ia berbuka dengan air karena air itu suci. “Barang siapa lupa sedangkan ia dalam keadaan puasa. kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah puasanya disempurnakan, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita dimana Rosulullah mengsunnahkan kita untuk berbuka puasa dengan Kurma atau air putih. Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma” kemudian kalimat : “jika tidak mendapatkannya hendaknya ia berbuka dengan air karena air itu suci.” 


Fadhilah bagi orang yang berpuasa dibulan Ramadhan


- Menghapuskan Dosa yang telah lalu


Hadits :

حدثنا ابن سلام قال أخبرنا محمد بن فضيل قال حدثنا يحيى بن سعيد عن أبي سلمة عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم  : ( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ) ( رواه البخاري )

Artinya: 

Ibn Salam menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Fudhail menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya ibn Said menceritakan kepada kami dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR : Bukhari).


Hadits :

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بنِ عَلِيّ بنِ أبِي طالبٍ سِبْطِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ» رواه الترمذي والنسائي وقال الترمذي: حديث حسن صحيح.

Artinya :

Dari Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya, berkata: Aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” (Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2518), Sunan an-Nasa`i (VIII327-328), Musnad Ahmad (I200), Sunan ad-Darimi (II245), Mushannaf Abdurrazzaq (no. 4984), Musnad ath-Thayalisi (no. 1274), al-Mustadrak (II13, IV99), dan Sunan al-Baihaqi (V335).


Kedua hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita dimana berpuasa dibulan ramadhan dapat menghapuskan dosa yang telah lalu. Perhatikan kalimat pada hadits yang pertama : “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” kalimat ini sangat jelas orang yang berpuasa dengan keimanan serta mengharapkan pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni Allah. kemudian keterangan pada hadits yang kedua perhatikan kalimat : “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” Kalimat ini sangat jelas dimana Nabi mengatakan tinggalkan apa yang meragukan kita, lantas apakah keterkaitannya dengan hadits pertama? Perlu dijelaskan bahwasannya orang yang akan mendapatkan pengampunan dosanya yang telah lalu dari Allah, bagi yang berpuasa dengan Keimanan yang dimilikinya. Keimanan ataupun keyakinan seseorang merupakan sesuatu yang tidak bisa tergoyahkan, nah keterangan pada hadits yang kedua ini dimana Nabi memberikan petunjuk ketika ada sesuatu yang meragukan kita didalam melakukan amalan dibulan suci Ramadhan, maka tinggalkan hal tersebut, lakukan sesuatu yang tidak meragukan hati kita. Kenapa demikian ? karena sesuatu yang tidak meragukan kita datangnya dari Allah, sedangkan sesuatu yang meragukan kita didalam beramal adalah dari syaithan.


- Dijauhkan Dari Api Neraka


Hadits :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

Artinya :

“Tidak seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali, karena (amalannya pada) hari itu, Allah akan menjauh­kan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan) selama tujuh puluh tahun.” 


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya orang yang berpuasa dibulan ramadhan akan dijauhkan dari api neraka, perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Tidak seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali, karena (amalannya pada) hari itu, Allah akan menjauh­kan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan) selama tujuh puluh tahun.” Kalimat ini sangatlah jelas seseorang yang berpuasa satu hari karena Lillahi ta’ala, maka dikarenakan amalnya tersebut Allah Swt akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Ini merupakan gambaran yang diberikan Rosulullah tentang Jaraknya.


- Menjadi Perisai dari Neraka


Hadits :

الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

Artinya :

“Puasa merupakan tameng terhadap neraka, seperti tameng salah seorang dari kalian pada peperangan.”


Hadits diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya puasa merupakan tameng bagi api neraka, perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Puasa merupakan tameng terhadap neraka, seperti tameng salah seorang dari kalian pada peperangan.”


- Mendapatkan Surga Dari Allah


Hadits :

يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمُرْنِيْ بِعَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ . قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ.

Artinya :

“Wahai Rasulullah, perintahlah saya untuk mengerjakan suatu amalan, yang dengannya, saya dimasukkan ke dalam surga. Beliau bersabda, ‘Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada bandingannya.”


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya berpuasa mampu mengantarkan seseorang sampai kedalam surga. Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “Wahai Rasulullah, perintahlah saya untuk mengerjakan suatu amalan yang dengannya saya dimasukkan ke dalam surga.” Kemudian kalimat yang merupakan jawaban dari Nabi : “Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada bandingannya.” 

Dua kebahagiaan bagi yang berpuasa


Hadits :

للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه

Artinya :

“Bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan: yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan ketika berjumpa Rabbnya bahagia karena puasanya.”


Dari hadits tersebut diatas kita mengetahui dimana dua kebahagiaan yang akan diperoleh bagi orang yang berpuasa. Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “Bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan” kemudian kalimat : “yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan ketika berjumpa Rabbnya bahagia karena puasanya.” Sangatlah jelas termasuk kebahagiaan bagi orang yang melakukan puasa dibulan Ramadhan adalah tatkala menghadapi Sakaratul maut.


Pahala bagi orag yang memberikan makanan berbuka puasa


Hadits :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya :

Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang itu.


Hadits diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya orang yang memberikan makanan untuk orang yang akan berbuka puasa akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa secara utuh. Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu.”


Bersegera dalam Berbuka puas dan akhir dalam sahurnya


Hadits :

كان أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم أعجل الناس إفطارا وأبطأهم سحورا

Artinya :

Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya.


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita agar bersegera dalam berbuka puasa dan akhir dalam sahurnya. Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya.”


Barokah terdapat pada Makan Sahur


Hadits :

Artinya :

“Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Hendaklah kamu bersahur karena dalam bersahur itu ada keberkatannya” [Bukhari-Muslim]


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita dimana Barokah Puasa diletakkan didalam makan sahur, sehingga wajib bagi orang yang akan berpuasa melakukan makan sahur. Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Hendaklah kamu bersahur karena dalam bersahur itu ada keberkatannya”


Sia-sia Dalam berpuasa


Hadits :

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya :

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja.


Hadits :

Artinya :

“Dari Abu Hurairah ra: katanya Rasulullah saw berabda: “Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat jahat (padahal dia puasa), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum” [Bukhari]


Kedua hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita tentang puasa yang hanya mendapatkan lapar dan haus semata. Perhatikan kalimat pada hadits pertama : “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja.” Kenapa nabi mengatakan hal tersebut ? perhatikan kalimat pada hadits yang kedua : “Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat jahat (padahal dia puasa)” dari kalimat ini kita mendapatkan pelajaran bahwasannya bila seseorang berpuasa lantas dia tidak meninggalkan ucapan dusta (Putarbale) kemudian berbuat jahat. Maka puasanya sia-sia tidak dihitung oleh Allah. perhatikan kalimat selanjutnya dari hadits kedua : “maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum” sangat jelas, Allah tidak butuh puasanya alias puasanya sia-sia. 


Katakan Aku Sedang Berpuasa


Hadits :

Artinya :

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seseorang daripada kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah berbicara tentang perkara yang keji dan kotor. Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata: Sesungguhnya hari ini aku berpuasa” [Bukhari-Muslim]


Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “Apabila seseorang daripada kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah berbicara tentang perkara yang keji dan kotor.” Dari kalimat ini kita mendapatkan pelajaran ketika sedang berpuasa, maka janganlah mengatakan seuatu yang kotor serta keji. Kemudian kalimat : “Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata” kalimat ini jelas, sekalipun dia dicaci maki kemudian diajak berkelahi, tetapi diperintahkan Nabi untuk mengucapkan perhatikan kalimat selanjutnya : “Sesungguhnya hari ini aku berpuasa” nah, inilah yang harus diucapkannya apabila dia benar-benar mau menjaga puasannya, terkecuali bila ada yang datang ingin membunuhnya.

 

Perihal Lailatul Qadar.


- Karena Percekcokan akhirnya Waktu Lailatul Qadar Menjadi Misteri


Hadits : 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepada kami Anas dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau. Akhirnya Beliau berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) “. (HR : Bukhari no. 1883).


Hadits tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita Bahwasannya waktu Lailatulqadar menjadi misteri dikarenakan percekcokan para sahabat. Perhatikan kalimat hadits tersebut diatas : “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar.” Kalimat ini sangat jelas dimana nabi keluar hendak memberitahukan kepada kaum muslimin tentang Lailatul qadar. Kemudian kalimat selanjutnya : “Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau.” Kalimat ini juga sangat jelas, dimana ada dua orang muslimin pada waktu itu membantah Nabi, lalu kalimat selanjutnyaperhatikan : “Akhirnya Beliau berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui)”. Dari kalimat ini kita mendapatkan pelajaran bahwasannya Nabi pada waktu itu hendak memberitahukan kepada mereka waktu dari lailatul qadar tersebut, dikarenakan kedua orang muslim tersebut menyanggah rosul sehingga waktu lailatul qadar tersebut dijadikan misteri oleh Allah. kemudian kalimat selnjutnya : “Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) “. Kalimat ini sangat jelas, meskipun Allah telah menjadikan misteri dari waktu lailatul qadar tersebut akan tetapi Nabi masih memberikan kemudahan buat kita untuk bisa mencari Malam lailatul qadar tersebut pada 10 malam terakhir dibulan Ramadhan terutama pada waktu ganjil. 


Kencangkan Sarung ketika masuk pada 10 malam terakhir dibulan ramadhan


Hadits : 

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ya’fur dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. (HR : Bukhari no. 1884).


Hadits inilah yang menjelaskan kepada kita untuk mengencangkan sarung ketika masuk pada 10 malam terakhir pada bulan ramadhan, bila sekirannya ingin mencari lailatul qadar. Maksud kencangkan sarung tidak usah jamak dengan isteri ketika masuk pada 10 hari terakhir pada bulan ramadhan. Perhatikan kalimat : “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau” kemudian kalimat : “menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau” jelas, rosul menghidupakan malam tersebut dengan membangunkan keluargannya serta meningkatkan peribadatan kepada Allah Swt. 


I’Tikaf pada 10 Malam Terakhir dibulan Ramadhan 

Hadits : 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي حَازِمٍ وَالدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي رَمَضَانَ الْعَشْرَ الَّتِي فِي وَسَطِ الشَّهْرِ فَإِذَا كَانَ حِينَ يُمْسِي مِنْ عِشْرِينَ لَيْلَةً تَمْضِي وَيَسْتَقْبِلُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَجَعَ إِلَى مَسْكَنِهِ وَرَجَعَ مَنْ كَانَ يُجَاوِرُ مَعَهُ وَأَنَّهُ أَقَامَ فِي شَهْرٍ جَاوَرَ فِيهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ يَرْجِعُ فِيهَا فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَمَرَهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ قَدْ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَثْبُتْ فِي مُعْتَكَفِهِ وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ فَاسْتَهَلَّتْ السَّمَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَأَمْطَرَتْ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فِي مُصَلَّى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ فَبَصُرَتْ عَيْنِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ انْصَرَفَ مِنْ الصُّبْحِ وَوَجْهُهُ مُمْتَلِئٌ طِينًا وَمَاءً

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Abu HAzim dan Ad-Darawardiy dari YAzid bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘i’tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu Beliau datang kembali ke tempat khusus i’tikaf Beliau begitu pula mereka yang sebelumnya beri’tikaf bersama Beliau. Pada malam ketika Beliau kembali beri’tikaf di bulan tersebut, Beliau menyampaikan khuthbah di hadapan orang banyak dan memerintahkan mereka menurut apa yang Allah kehendaki, lalu Beliau bersabda: “Aku sudah melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir, maka siapa yang telah beri’tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri’tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud diatas air dan tanah (yang becek) “. Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor mengenai posisi tempat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku melihat Beliau setelah Shubuh dengan wajah Beliau yang penuh dengan tanah dan air”. (HR : Bukhari No 1879).


Hadits : 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوا حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَقُولُ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Carilah”. Telah menceritakan kepada saya Muhammad telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapakku dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan dan bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”.(HR : Bukhari no. 1880)


Hadits : 

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى تَابَعَهُ عَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. Berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan, pada sisa malam kesembilan, pada yang ketujuh, pada yang kelima”. Hadits ini dikuatkan pula oleh ‘Abdul Wahhab dari Ayyub. (HR : Bukhari no. 1881).


Hadits : 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ وَعِكْرِمَةَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ هِيَ فِي تِسْعٍ يَمْضِينَ أَوْ فِي سَبْعٍ يَبْقَيْنَ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَعَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ الْتَمِسُوا فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abu Al Aswad telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Abu MijlAz dan ‘Ikrimah berkata, bahwa Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia terjadi pada sepuluh malam terakhir, juga pada sembilan hari yang terakhir atau pada yang ketujuh, yaitu terjadinya Lailatul Qadar”. Dan dari Khalid dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma; “Carilah pada malam kedua puluh empat”. (HR : Bukhari no. 1882).


Hadits :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ أَنَّ نَافِعًا أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Abdullah berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Wahab dari Yunus bahwa Nafi' mengabarkannya dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua berkata: " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan". (Shahhih bukhari no.1885).


Semoga bisa bermanfa’at (talia)

Iklan