Iklan

Iklan

,

Iklan


Oleh Aktivis Batabual Alfian Hulihulis

Republiknews
Senin, 11 Juli 2022, Juli 11, 2022 WIB Last Updated 2022-07-11T10:55:24Z
Foto: Aktifis Batabual, Alfian Huluhilus. 


Republiknews, Ambon - Gerakan massa merupakan upaya dalam mengeluarkan akumulasi frustasi atas ketidak perhatian pemimpinnya.


Hal ini terkait penyampaian Gubernur Maluku, pada Sabtu(09/07/22) di Pantai Merah Putih, Kabupaten Buru,   yakni mengajak masa aksi untuk berkelahi (Bakalae) atas tindakan masyarakat yang mendemonstrasinya.


Tindakan orang nomor satu di Maluku, yang berlokasi di Kabupaten Buru adalah sikap yang arogan, pempertunjukan sikapnya dan tidak pantas dicontohi oleh masyarakat, generasi dan para pemimpin di Maluku.


" Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh rekan-rekan mahasiswa yang tergabung dalam pergerakan Mahasiswa Kecamatan Batabual ialah upaya mereka dalam memperoleh keadilan sebagai tercantum dalam falsafah bangsa, yang mestinya orang nomor satu di Maluku itu menggubrisnya Lewat pembahasan maupun hak prerogatif nya. Apalagi status jalan Kecamatan Batabual adalah status provinsi.!"jelas Alfian. 


Bagi kami tindak yang dilakukan oleh Gubernur Maluku adalah realitas ketidakpedulian  Gubernur Maluku dalam melihat penderitaan dan ketertindasan dari masyarakatnya. 


Ada beberapa catatan buruk mengenai Gubernur Maluku dalam dunia demonstrasi. Beberapa tahun yang lalu beliau juga pernah menyampaikan " pukul massa aksi lalu ikat buang ka laut"!, hal ini terindikasi jelas bahwa Gubernur Maluku adalah anti kritik dan tidak mau dikritik, tentu ini akan memperlambat proses demokrasi dalam menuju keadilan dan kesejahteraan masyarakat.


" Bagaimana mau menciptakan Good Governance sementara karakter orang nomor satu di Maluku itu tidak mencerminkan seorang pimpinan. Ingat bahwa ini bukan kali pertama beliau melontarkan hal demikian. " cetus Alfian 


Dikatakan, sangat ironis penyampaian beliau dibenarkan oleh beberapa oknum, bahwa itu sapaan, itu biasa. Kami tidak bisa membayangkan bila mana penyampaian itu dibuktikan dengan tindakan.


" Wajah demokrasi semakin kusam dan Good Governance tidak mungkin terjadi. Bila mana orang yang melakukan kritikan dianggap sebagai musuh, tentu ini akan memperlambat Kesejahteraan masyarakat. Dan Kesejahteraan masyarakat hanyalah utopia yang berkembang didalam pikiran." ujarnya. 


" Kami senantiasa mendoakan beliau semoga kesadaran terhadap penderitaan sipil selalu di gubris olehnya.  " Tutup Alfian di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Patimura, Ambon. Senin(11/07/22). 

Laporan wartawan : Dewi

Iklan