Pepatah Jawa : Siapa yang menanam akan Menuai Hasilnya -->

Pepatah Jawa : Siapa yang menanam akan Menuai Hasilnya

Minggu, 11 Oktober 2020, Oktober 11, 2020



Republiknews.com, - Unen Unen Jowo Ngunduh Wohing Pakarti Sopo sing nandur bakale ngundhuh Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashas ayat 77).


Allah menggugah hati kita untuk berbuat baik dengan mengingat, bahwa setiap hari Allah selalu mencurahkan kebaikan untuk kita. Sejak mata ini terbuka di pagi hari, Allah telah memberi kebaikan berupa udara yang segar, kekuatan untuk bangun, kemampuan untuk melihat dan semua pemberian yang mustahil dapat kita hitung.


“Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku Berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah ayat 122).


Sayangnya, manusia sering melupakan kebaikan yang selalu Allah berikan padanya dan benar-benar mengingkari atas segala kenikmatan yang ia dapati secara gratis. Manusia kudunya banyak bersyukur dan mengingat kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Kita renungkan berapa banyak kebaikan yang telah kita terima setiap hari. Kita ingat satu demi satu nikmat yang takkan mampu kita syukuri selamanya.


"Urip iku beja-cilaka, ala-becik, kabeh mung methik wohing pakarti. Sapa gawe, nganggo. Sapa nandur, ngundhuh. Supaya sarwa becik, mula aja gawe kapitunaning liyan".(Hidup itu untung-celaka, buruk-baik, semua hanya memetik buah perbuatan sendiri. Siapa berbuat ia bertanggungjawab, siapa menanam, ia menuai. Supaya semua baik, jangan berbuat hal-hal yang merugikan orang lain).


Begitulah petuah yang biasa di ajarkan oleh leluhur, orang tua, dan para sesepuh kita kepada generasi selanjutnya. Rasanya petuah seperti itu akan selalu relevan untuk selalu di ajarkan dari generasi ke generasi berikutnya. Demi kelangsungan peradaban manusia yang berkeadaban dan berkemanusiaan. Apa lagi kalau kita melihat perilaku kebanyakan dari kita yang akhir-akhir sudah tidak melihat lagi tatanan dan pakem hidup yang semestinya, apakah perbuatannya itu merugikan orang lain atau tidak?


Rasanya mayoritas dari kita, mulai dari pejabat, politisi, pekerja, dan orang awam, akhir-akhir ini sudah mulai tidak hirau dengan petuah-petuah adiluhung yang bisa menjadi penuntun jalan hidup kita. Oleh sebab itu yang terjadi adalah saling tikam, saling serang dan saling merugikan satu sama lain. Sedikit-sedikit kita mudah tersinggung, mudah menghujat, dan mudah memusuhi, bahkan mencelakai, dengan tanpa rasa takut apakah perbuatan kita itu bisa berbalik kepada diri kita lagi apa tidak.


"Sapa nandur, ngundhuh"

Begitulah pesan yang terkesan seperti membenarkan ada nya hukum karma. Petuah ini sama makna dengan unen-unen sederhana di Jawa : "Ojo njiwit, yen ora gelem di jiwit". Kalau mindset diri kita masing-masing sudah menyadari hal ini, maka kehidupan kita sehari-hari akan menjadi sebuah kehidupan yang harmonis, damai, dan saling menghargai, karena kesadaran diri kita bahwa perbuatan baik ataupun buruk yang kita lakukan, bagaimanapun akan kembali kepada kita lagi. (Yuliono)

TerPopuler