Iklan

Iklan

,

Iklan

iklan

Ma’rifat Kepada Allah Oleh : Imam Rustam Gorontalo

Republiknews
Jumat, 27 November 2020, November 27, 2020 WIB Last Updated 2020-11-27T08:22:23Z


Republiknews.com – Bitung , Terinspirasi dari Majelis Ilmu yang digelar oleh Jama’ah Laduna Ilma Indonesia, Kamis ( 26/11/2020 ) di Manembo-nembo atas, tentang pengenalan kepada Allah yang harus melewati beberapa tahapan kedepan, seperti melaksanakan peribadatan, memiliki keyakinan tentang diutusnya Rosulullah Muhammad sebagai Nabi dari kalangan manusia yang sama seperti kita, kemudian Wahyu dari Sang Robbul jalil. Maka kami berinisiatif untuk membuat kajian tersebut memiliki standar akademis yang jelas sehingga bisa dikonsumsi oleh Kaum muslimin pada umumnya. 


Surat Al-Kahf Ayat 110


قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا


Artinya :


Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".


Kajian Firman :


Perhatikan kalimat pertama dari firman Allah tersebut diatas : “ Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu “ kalimat ini sangat jelas diawali dengan kalimat “ KATAKANLAH “ maksudnya adalah Allah Swt perintahkan kepada Nabi untuk mengatakan kepada Manusia . apa yang harus dikatakan Nabi kepada Manusia sesuai perintah Allah ? “ Sesungguhnya Aku Ini Manusia biasa sama seperti kamu “ . inilah kalimat pertama dari firman Allah tersebut diatas. Bahwasannya Rosulullah adalah Nabi Kita yang berbentuk nyata Manusia biasa, beliau bukan dari bangsa Jin, syaithan , Malaikat , atau urusan ghaib yang lain, akan tetapi Nabi kita Nyata kelihatan , manusia bisa sama seperti kita. Untuk kejelasannya maka akan dikemukakan bebrapa hadits pendukung tentang Rosulullah adalah manusia biasa sama seperti kita .


Hadits :


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ }وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين{َ قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا 


Artinya :


“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –QS asy Syua’raa/26 ayat 214- Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata,’Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun’.” [HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]


Hadits :


عَنْ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 


Artinya :


“Dari Sa’id bin Musayyab, dari bapaknya (Musayyab bin Hazn), dia berkata: Tatkala (tanda) kematian datang kepada Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah berada di dekatnya. Lalu beliau berkata: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illa Allah, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah!” Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpali,”Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?” Rasulullah terus-menerus menawarkan itu kepadanya, dan keduanya juga mengulangi perkataan tersebut. Sehingga akhir perkataan yang diucapkan Abi Thalib kepada mereka, bahwa dia berada di atas agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan Laa ilaaha illa Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang darimu,” maka Allah menurunkan (ayatNya) “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik” –QS at Taubat/9 ayat 113- Dan Allah menurunkan (ayatNya) tentang Abu Thalib “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya”. –QS al Qashash/28 ayat 56″. [Hadits shahih riwayat Bukhari, no. 4772; Muslim, no. 24]


Kedua hadits pendukung tersebut diatas inilah yang menjelaskan kepada kita bahwasannya Rosulullah Muhammad Saw adalah manusia biasa sama seperti kita, yang jelas kelihatnnya yang pernah hidup bersama sahabat-sahabatnya, bukan bersifat ghaib atau tidak nyata. Perhatikan kalimat pada hadits pertama khusus pada kalimat : “aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. “ . kalimat ini sangat jelas, dimana Nabi menjelaskan kepada Para Bani yang mengikutinya, serta bagi kaum kerabatnya dalam hal ini adalah putrinya Fatimah, dengan kalimat “ aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun.” Ini menunjukan bahwasannya Nabi Adalah Manusia Biasa yang sama seperti kita, beliau diutus untuk megajarkan tentang Risalah yang dibawanya dari Allah untuk keselamatan umat manusia, sehingga siapa yang mengikuti anjurannya maka dia akan memperoleh kemenangan. Kemudian pada hadits yang kedua perhatikan kalimat khusus pada kalimat : “  Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illa Allah, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah! ” kemudian kalimat : “ Rasulullah terus-menerus menawarkan itu kepadanya, dan keduanya juga mengulangi perkataan tersebut.” Lalu kalimat : “Sehingga akhir perkataan yang diucapkan Abi Thalib kepada mereka, bahwa dia berada di atas agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan Laa ilaaha illa Allah. “ dari kalimat kalimat tersebut diatas, kita mendapatkan pelajaran dimana beta cintanya Rosulullah terhadap pamannya Abdul Muthalib, yang pada saat akhir hayatnya diupayahkan oleh Rosulullah untuk mengucapkan kalimat Laaillahaillaullah , kenapa kalimat tersebut ? karena dengan kalimat itu beliau akan mendapatkan jaminan dari Allah, karena Nabi hanyalah manusia biasa sama seperti kita yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Izin dari Allah. Yang pada akhirnya pamannya tidak dapat mengucapkan kalimat tersebut melainkan beliau tetap mengikuti agama orang tuannya. Sehingga Rosulullah selaku manusia mengatakan kepada pamannya perhatikan kalimat : “ Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang darimu,” kalimat ini sangat jelas menunjukan bahwasannya Rosulullah Muhammad Saw hanyalah seorang manusia biasa sama seperti kita. Silahkan perhatikan seluruh kalimat pada hadits yang kedua. 


Kita lanjut pada pembahasan kalimat selanjutnya dalam firman Allah tersebut perhatikan kalimat selanjutnya : “  yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Nah , kalimat ini jelas, bahwasannya Rosulullah mendapatkan Wahyu dari Allah lewat perantara Jibril diantara Isi dari wahyu tersebut yakni mengesakan Allah Swt. Untuk jelasnya maka kami akan menyodorkan satu buah hadits bahwasannya Nabi Muhammad Saw benar-benar menerima Wahyu dari Allah . 


Hadits :


أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ } اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ {


Artinya :


“Awal turunnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai dengan ar ru’ya ash shadiqah (mimpi yang benar dalam tidur). Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua Hira dan ber-tahannuts. Yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).


Hadits diatas inilah yang menjelaskan bagaimana proses pertama dari Nabi Muhammad Saw menerima Wahyu dari Tuhan-Nya. Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas. 


Kemudian lanjut pada firman Allah , perhatikan kalimat selanjutnya : “ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya ". kalimat ini sangat jelas, kita akan membahas terlebih dahulu adalah kalimat : “ hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh “ apakah yang dimaksud dengan amal Sholeh didalam Islam, maka silahkan perhatikan hadits pendukung tersebut : 


Hadits :


عن أبي أيوب رضي الله عنه قال: أن رجلاً جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم يسأل: يا رسول الله أرني ممارسة تقربني إلى الجنة ويقيني من نار جهنم؟ له مهما كان ، يقيم الصلاة ، ويؤدى الزكاة ، ويقيم الصداقة. "فلما غادر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:" إذا تمسك بهذا يدخل الجنة ".


Artinya :


Dari Abu Ayyub RA berkata, "Bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW seraya bertanya, 'Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari api neraka? Beliau SAW menjawab: "Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun juga, mendirikan salat, menunaikan zakat dan menyambung silaturrahim." Ketika dia pergi, Rasulullah SAW bersabda: "Jika dia berpegang teguh dengan hal tersebut, maka dia akan masuk surga'. (HR. Muslim, Hadits No 15)


Nah hadits diatas inilah yang menjelaskan kepada kita tentang amal sholeh yang dapat mempertemukan seorang hambah dengan Tuhannya. Perlu dijelaskan terdapat banyak keterangan dalam hadits Nabi maupun hadits Qudtsy, bahwasannya seseorang yang mendapatkan jaminan surga atau Masuk kedalam surga, maka salah satu nikmat bagi mereka yang berada didalam surga adalah akan melihat Wajah Allah, artinya mereka akan berjumpa dengan Allah. Sehingga amalan yang mampu menghantarkan manusia sampai kedalam surga , maka mereka pasti akan berjumpah dengan Sang Robbul jalil. Perhatikan kalimat pada hadits tersebut diatas : “ Bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW seraya bertanya, 'Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari api neraka? “ kalimat ini jelas bahwa ada seseorang yang datang menhadap kepada Nabi meminta amalan untuk bisa mendekatkan dirinya ke surga, lantas apa yang dijawab oleh nabi, perhatikan kalimat selanjutnya : “ Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun juga,” kalimat ini merupakan bentuk amalan sholeh yang paling Utama. Dan tidak semua orang mampu melakukannya, terkecuali orang-orang yang benar-benar Bertaqwa kepada Allah, sehingga penjelasannya akan di bahas pada akhir kajian. Sekarang kita masuk pada kalimat selanjutnya : “ mendirikan salat, menunaikan zakat dan menyambung silaturrahim." Kalimat ini sangat jelas, bahwasannya amalan Sholat, mengeluarkan zakat, serta menyambung silaturahmi merupakan amalan Sholeh yang mampu menghantar manusia kedalam surganya Allah. Kesimpulannya seluruh apa yang diperintahkan Allah Swt didalam Dinul Islam yakni Perintah Islam dengan kelima rukunnya serta perintah Iman dengan keenam rukunnya, akan mampu menghantarkan seseorang kedalam surgannya Allah Swt, tentunya dilakukan secara benar sesuai tuntunan Agama. Maka sekarang kita akan masuka kepada kalimat terakhir yakni : “ Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun juga,” kalimat ini nilainya sangat sangat tinggi menyembah Allah dengan memurnikan penyembahan tidak menyekutukan Allah benar-benar Ikhlas Karena Allah. Maka hal tersebut sudah bukan rananya Islam serta Iman, melainkan masuk kedimensi ILMI , yakni Ikhsan, yang didalamnya ada KETAQWAAN, IKHLAS, serta TAWAKAL . yang merupakan Maqom tertinggi didalam Dinul Islam. Untuk membahas keseluruhannya tidaklah mungkin dalam pertemuan sesingkat ini, maka satu yang harus kita ketahui yakni Ketaqwaan , perhatikan hadits tersebut dibawa ini :  


Hadits :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ - رواه مسلم


Artinya :


Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 'Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang lainnya haram; darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR. Muslim)


Hadits inilah yang menjelaskan kepada kita tentang definisi Taqwa perhatikan kalimat khusus pada kalimat : “ Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.” Kalimat ini sangat jelas diucapkan nabi sampai tiga kali sambil menunjuk ke arah dadanya. Kenapa Nabi menunjuk dadanya, ada apakah didalam dada Nabi ? , maka perlu dikemukakan satu buah Firman Allah : 


Surat Al-'Ankabut Ayat 49


بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ


Artinya :


Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.


Firman Allah diatas inilah yang menjelaskan kepada kita alasan kenapa Nabi mengatakan TAQWA sambil menunjuk dadanya. Perhatikan kalimat : “ Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” Maksudnya adalah yang dimaksud dengan ORANG ALIM berilmi adalah adanya Al Qur’an didalam Dada (Hati)nya. Hanya orang orang yang dzholim saja yang mengingkarinya. Sehingga orang BERTAQWA adalah Orang ALIM yang memiliki Al Qur’an di dalam Hatinya. Untuk jelasnya kami akan menyodorkan satu buah firman Allah :


Qs : Asy Syura Ayat 52


وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ  


Artinya : 


Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.


Firman Allah diatas inilah yang menjelaskan kepada kita Bahwa yang berada di dalam Dada Orang Alim atau ULAMA yang berfungsi sebagai ILMU terhadap mereka adalah ALQUR”AN yang berbentuk RUH serta NUR . perhatikan kalimat : “ Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran) dengan perintah kami “ kalimat ini jelas bahwa RUHnya Alqur’an yang diperintahkan oleh Allah yang menyatu dengan Nurul Insani Uthul Ilma , kemudian kalimat : “ tetapi Kami menjadikan Al Quran itu nur (cahaya),” kalimat ini juga jelas , bahwasannya sejatinya Al Qur’an adalah berbentuk RUH yang bersifat NUR artinya Kehidupan yang memiliki kemampuan Panca Indra, inilah yang menyatu dengan Ruhul Insani Uthul Ilma Orang Berilmu, Alim atau Ulama, terjadi penggabungan Dua Macam Ruh yang berbentuk Nur didalam satu wadah yakni Qalbu atau Hati Uthul Ilma yang disebut dengan ILMI sehingga mereka akan menjadi Orang yang benar-benar BERTAQWA kepada Allah . untuk definisi dari Taqwa itu sendiri maka akan disodorkan sebuah firman Allah :


Q.S. Al Baqarah ayat 282


وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ


Artinya :


Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.


Firman Allah diatas inilah yang menjelaskan kepada kita tentang Hakikat dari pada Taqwa itu sendiri . perhatikan kalimat : “ Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; “ kalimat ini sangat jelas, bahwa Orang yang bertaqwa secara otomatis akan mendapatkan Ajaran serta Bimbingan langsung dari Allah Swt . itulah alasannya kenapa Nabi mengatakan dalam Haditsnya Taqwa berada didalam dada. Diucapkan nabi sampai 3 kali (T.L)

Iklan

iklan