Mengenali WARA Di Dalam Dinul Islam -->

Mengenali WARA Di Dalam Dinul Islam

Kamis, 21 Januari 2021, Januari 21, 2021


Republiknews.com – ) Didalam Pencapaian bagi seorang Muslim yang menempuh Jalan Spirualitas, maka berkewajiban bagi orang tersebut untuk bisa menempuh Jalan Kewaraan yang lazim disebut Berhati-hati didalam perihal yang Subhat apalagi yang Haram. Kajian tersebut di sadur dari Kitab Laduna Ilma Jilid ke-3 karya Imam Awal.


Hadits  :


يا أبوذر ، الدين هو مفصل وراء اعتن ، كن على دراية بشيء ما) والمقصود هو تعات


Artinya  :


Hai Abudzar , sendi Agama ialah Wara ( Jaga diri , waspada terhadap sesuatu yang subhat ) dan pokoknya ialah Ta’at . ( Dikutip dari kitab wasiat Rosulullah kepada Abudzar ra , hal . 56 )


Hadits  :


يا أبوذر ، كن رجلاً ، بحيث تصبح رجلاً عبادةً جداً وأفضل ثروة (أحكام) من عالمك هو (وارا).


Artinya  :


Hai Abudzar ,jadilah seorang yang wara , supayah menjadi manusia yang sangat ibadah dan sebaik-baik kekayaan (Bekal) duniamu ialah (Wara) . ( Dikutip dari kitab , Wasiat Rosulullah kepada Abu Dzar ra hal .56 )


Hadits  :


يا أبوذر ، إن تفوق المعرفة أفضل من فائض العبادة واعلم أنه إذا كنت تصلي حتى تنام وتنتهي الصيام مثل الخيط ، فلن يكون مفيدًا مثل ذلك إلا بالألوان


Artinya  :


Hai Abudzar , kelebihan ilmu lebih baik dari kelebihan ibadah dan ketahuilah andaikan kamu sembahyang hingga bungkuk dan puasa hingga kurus kering bagaikan tali senar , maka tidak akan berguna yang demikian itu kecuali dengan wara “( Dikutip dari kitab Wasiat Rosulullah kepada Abudzar ra hal . 57 )


Hadits  :


يا أبوذر ، حقاً الأشخاص الذين هم من الحرب والزهور في هذا العالم ، إنهم والي الله الذين هم حقاً


Artinya  :


Hai Abudzar , sesungguhnya orang-orang yang wara dan zuhud didunia ini , merekalah para Waliyullah yang benar-benar . ( Dikutip dari kitab Wasiat Rosulullah kepada Abu dzar ra hal . 57)


Hadits  :


يا أبوذر ، من لم يفعل الأنواع الثلاثة ، فسوف يخسر يوم القيامة ، فما هي الثلاثة؟ أجاب النبي ورءا الذي يمكن أن يمنع من ما يحرم الله ، والصبر ، أن يرفض حماقة الحمقى ، والأخلاق ، لربط مع إخوانهم من البشر


Artinya  :


Hai Abudzar , siapa yang tidak melakukan tiga macam , maka ia pada hari kiamat akan rugi , saya bertanya , apakah yang tiga ? , Jawab Nabi Saw , “ Wara , yang dapat mencegah dari apa yang diharamkan olh Allah , dan Kesabaran , untuk menolak kebodohan orang yang bodoh , dan Akhlak budi , untuk bergaul dengan sesame manusia . ( Dikutip dari kitab ,Wasiat Rosulullah kepada Abu ra  hal . 57) 


Hadits  :


يا أبوذر ، لا يوجد سبب لأن الذكاء يحكم وليس هناك لون ، مثل الامتناع عن النجاسة وليس هناك مجد مثل الأخلاق الحميدة


Artinya  :


Hai Abudzar , tidak ada akal sebagaimana kepandaian mengatur dan tidak ada wara ,seperti menahan diri dari yang haram dan tidak ada kemulyaan seperti baik budi pekerti . ( Dikutip dari Kitab wasiat Rosulullah kepada Abudzar ra , hal .84-85)


Hadits  :


يا علي ، من لا يريد أن يحمي نفسه ورءا  من الفجور ، فمن الأفضل أن يكون في أحشاء الأرض منه على الأرض ، لأنه ليس لديه إيمان في قلبه


Artinya  :


Hai Ali , Barangsiapa yang tidak mau menjaga diri (Wara) dari maksiat , maka lebih baik berada didalam perut bumi dari pada dimuka bumi , sebab ia tidak ada Iman didalam Hatinya ( Dikutip dari kitab Wasiat Rosulullah kepada Ali ra  hal. 53 )


Hadits  :


يا علي ، الشيء الرئيسي للحفاظ على نقاء الذات (الوارة) هو أن تترك غير الشرعي وهذا أمر محظور من قبل الله ، في حين أن ذروة الشرف هي التخلي عن الأفعال غير الأخلاقية


Artinya  :


Hai Ali , pokok menjaga kesucian diri itu (Wara) adalah meninggalkan yang haram dan yang diharamkan Allah , sedang puncak kehormatan itu adalah meninggalkan perbuatan maksiat ( Dikuti dari kitab Nasihat Rosulullah kepada Ali ra . hal . 54 )


Hadits  :


الخوف من الله هو موضوع كل الحكمة ووارا هي قائدة خيرية


Artinya  :


Takut kepada Allah adalah pokok segala hikmah dan Wara adalah pemimpin amal ( HR . Qudla’I dari Anas , dikutip dari kitab Al jamius sagir II hal . 515 )


Sembilan hadits inilah yang menjelaskan sekaligus memberikan pembelajaran kepada kita tentang apa yang dimaksud dengan wara. pada hadits pertama perhatikan kalimat : “ hai Abudzar, sendi Agama ialah wara “ ( Jaga diri Waspada terhadap sesuatu yang subhat) dan kalimat : “ pokoknya ialah ta’at “  hadits ini merupakan nasihat Rosulullah kepada sahabatnya yang bernama Abu dzar  beliau mengatakan : sendi agama ialah wara, maksudnya agara muda difahami bila diibaratkan (agama) seperti (manusia), maka sifat wara ( berhati-hati terhadap yang subhat) adalah persendiannya kita bisa membayangkan semisalnya ada manusia yang (tanpa) persendian maka dia tidak bisa disebut sebagi manusia, demikian juga dengan agama, yang menjadi persendiannya kata Nabi adalah “ wara” sehingga bisa dipastikan tanpa sikap wara ini, maka mustahil bagi seseorang itu untuk bisa menegakkan agamanya.


kemudian kalimat : “ dan pokoknya ialah ta’at “ kalimat ini sangatlah jelas. bahwa Nabi mengatakan pokok dari agama itu ialah keta’atan, tanpa keta’atan maka agama tidak bisa ditegakkan. seorang yang mengaku beragama Islam kemudian dia tidak memiliki keta’atan, maka tidak ada Islam bagi dirinya sekalipun dia mengaku sebagai seorang muslim, Nabi yang mengatakannya silahkan perhatikan lagi kalimat pada hadits tersebut dengan seksama : ketaatan adalah pokok dari suatu Agama, dengan kata lain inti dari pada Agama itu adalah ketaatan. 


Pada hadits yang kedua  perhatikan kalimat :“jadila seorang yang wara” dan kalimat:  “ supaya menjadi manusia yang sangat Ibadah “ juga kalimat : ” dan sebaik-baik kekayaan (bekal dunia) “ serta kalimat : “ ialah wara.“ alim pada hadits ini sangatlah jelas , bahwa Nabi memerintahkan kepada seluruh manusia, untuk menjadi orang yang wara. 


kenapa Rosul memerintahkan agar manusia harus memiliki sifata wara ini ? maka perhatikan kalimat selanjutnya : “ Agar supaya bisa menjadi manusia yang kuat (tegar) tangguh di dalam melaksanakan perintah Allah.” inilah akibat atau dampak bagi seorang muslim bila memiliki sifat wara. kemudian kalimat : ” sebaik-baik kekayaan atau bekal dunia” adalah Wara. dan ini petujuk dari Nabi bagi kita. bahwa bekal terbaik hanyalah wara bagi kita manusia dalam mengarungi hidup di dunia ini.


Pada hadist ketiga , perhatikan kalimat,“ kelebihan Ilmu lebi baik “ dan kalimat : “ dari kelebihan Ibadah.“ kalimat ini sangat jelas dimana Nabi menjelaskan kepada kita sebaiknya berkelebihan dalam hal Imu ketimbang dalam peribadatan.   kalimat selanjutnya : “ dan ketahuila “ juga kalimat : “ andai kamu sembahyang hingga bungkuk “ serta kalimat : “ dan puasa hingga kurus kering bagaikan tali senar.“  kalimat ini sangatlah jelas merupakan penegasan yang di berikan Rosulullah kepada kita, yakni perumpamaan orang yang melakukan (peribadatan) sampai berlebihan baik itu dalam (Sholatnya) ataupun (puasanya) kemudian kalimat :“ maka tidak akan berguna “  juga kalimat : “ kecuali dengan wara.” maka menjadi jelaslah apa yang di sampaikan oleh Nabi.  apapun yang akan kita lakukan dalam hal peribadatan, sekalipun sholat sampai bungkuk, puasa sampai kurus kering bagaikan tali senar, semuannya itu akan menjadi sia-sia belaka dihadapan Allah Swt tanpa ada sifat Wara (sangat berhati-hati dalam hal-hal yang subhat apalagi yang diharamkan). 


Karena untuk apa sholat sekalipun bungkuk,  puasa sekalipun sampai kurus kering seperti tali senar bila kita tidak cermat menganalisa hukum-hukum Al qur’an, serta hukum-hukum yang diajarkan oleh Nabi. maka berhati-hatilah pada ayat-ayat Al qur’an, yang berbunyi : “ bukan umatku orang yang begini dan begini, “ neraka jahanam bagi orang-orang yang begini dan begini “  serta kalimat-kalimat seperti “ laknat Allah bagi ini dan ini “  kenapa demikian,? karena kalimat-kalimat seperti contoh diatas menunjukkan ketidak wara’an dari seseorang, sehingga berhati-hatilah. 


Pada hadits selanjutnya, khusus pada kalimat :“ tidak ada Agama bagi orang yang tidak ta’at melaksanakan Agama.“ maksudnya adalah: ada orang yang sudah amanah tetapi masih kurang (berhati-hati) alias tidak (wara).


Contoh : ada orang yang titip uang kepada dia dengan pecahan (lima puluh ribu) sebanyak (lima ratus ribuh) berarti jumlahnya (sepuluh lembar) uang limaratus ribu dengan pecahan lima puluh ribu. bila anda (menukarnya) dengan pecahan (seratus ribu) sehingga menjadi (lima lembar) uang pecahan (seratus ribu), maka saudara Tidak Amanah. 


sehingga sangat di butuhkan sifat (Wara), agar kita bisa berhati-harti. jangan kita berani membuka apa yang di amanahkan kepada kita dalam arti (dititipkan), berikan kembali apa yang (dititipkan) kepada kita sebagimana keadaannya sewaktu kita menerimannya meskipun kalau dilihat tingkat (amanahnya) masih bisa ditolerir, karena jumlah totalnya tidak berkurang tetap (lima ratus ribuh) akan tetapi sudah ada indikasi memakai yang bukan haknya, sehingga sangatlah dibutuhkan sifat (wara).

 

Pada hadits ke empat perhatikan seluruh kalimat di mana Nabi menjelaskan bahwa sesungguhnya para wali Allah itulah orang-orang yang senantiasa memiliki sifat wara serta zuhud terhadap dunia,  yang sebenar-benarnya. pada hadits yang ke lima perhatikan kalimat : “ siapa yang tidak melakukan tiga macam “  dan kalimat : “ maka ia pada hari kiamat akan rugi “ dan tiga hal tersebut adalah perhatikan kalimat selanjutnya :


1. WARA, karena hanya dengan waralah manusia bisa mencega dari perbuatan yang dilarang Allah (Haram).

2 . SABAR , karena hanya dengan sifat (sabar) yang di miliki seseorang, mampu mencega dari kebodohan orang yang bodoh. maksudnya kesabaran pada seseorang bisa menjadi benteng untuk datangnya kebodohon dan orang yang akan membodohi orang yang sabar di dalam mempelajari sesuatu (belajar) maka dia tidak akan menjadi orang yang (bodoh).

3. AKHLAK (budi ) untuk bergaul dengan sesama manusia, akhlak atau budi ataupun adab adalah merupakan sesuatu sifat yang harus kita miliki dalam hal bersosialisasi dengan sesama tanpa akhlak, maka orang tersebut akan di benci oleh sesama.  


Hadits yang ke enam sama seperti pada hadits yang ke lima  redaksional kalimat berbeda tetapi memiliki arti yang sama  sudah dijelaskan. hadits yang ketujuh perhatikan seluruh kalimat di mana Nabi memberikan pelajaran khusus kepada sahabatnya Ali bin Abuthalib kw, bahwa orang yang tidak memiliki kemauan untuk menjaga dirinya dalam hal kemaksiyatan (wara), maka sebaiknya orang tersebut berada didalam perut bumi, Maksudnya sebaiknya orang tersebut Meninggal,  tidak usah dilahirkan dari pada dia dilahirkan (hidup) berada di dalam dunia tetapi tidak mau melakukan sifat wara.


pada hadits kedelapan perhatikan seluruh kalimat dimana Nabi menjelaksan bahwa pokok dari pada menjaga kesucian diri itu adalah sifat wara, karena yang memiliki sifat wara mereka memiliki kemampuan untuk bisa meninggalkan yang haram lagi diharamkan oleh Allah Swt. sedangkan puncak dari suatu kehormatan itu adalah meninggalkan kemaksiatan dalam bentuk apapun. pada hadits yang terakhir perhatikan seluruh kalimat dimana Nabi menjelaskan bahwa : “takut kepada Allah adalah inti dari segala hikmah yang ada dimuka bumi ini. “  sedang kan wara (sifat berhati-hati dalam urusan subhat), merupakan pemimpin dari seluruh amal yang kita kerjakan.   Bitung Jum’at (22/1/2021  (T.L)

TerPopuler