Iklan

Iklan

,

Iklan

iklan

Lindungi Satwa Liar Pemkot Bitung Dan Dewan Adat Lirang Deklarasikan Stop Makan Penyu

Republiknews
Senin, 01 November 2021, November 01, 2021 WIB Last Updated 2021-11-02T06:45:57Z


Republiknews, Bitung-  Budaya mengonsumsi daging penyu, Tradisi Suku Loloda  saat pesta kawin,  warga Lirang, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung, mendapatkan  sosialisasi, Balai Konservasi sumber daya alam (BKSDA) Sulawesi Utara dan Pemkot Bitung.


Spesies penyu diketahui menunjukan kelangkaan di berbagai daerah termasuk di Bitung Sulawesi Utara.


Sementara budaya adat mengonsumsi penyu saat acara pernikahan warga Lirang sudah turun - temurun  berlangsung, demi menyelamatkan kelangsungan hidup spesies langka ini,  Pemkot Bitung bekerjasama dengan Dewan Adat Lirang berkomitmen mengonsumsi spesies yang dilindungi tersebut.


Pernyataan untuk berhenti mengkonsumsi satwa liar ini di lakukan langsung oleh dewan Adat Lirang bersama pemkot Bitung pada Minggu (31/10) kemarin disaksikan oleh Walikota Bitung Ir. Maurits Mantiri, MM, Kepala BKSDA Sulut Askari Maskiki serta pihak Forum Komunikasi Pimpinan Daerah saat kegiatan Deklarasi STOP MAKAN PENYU.

 

Kegiatan ini sendiri diawali dengan prosesi adat cuci kaki Walikota Bitung sebagai perlambang penghormatan tertinggi Badan Adat dan Warga Lirang kepada Pemimpin Masyarakat Kota Bitung. 

Walikota Bitung dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas inisiatif dan komitmen Badan Adat dan seluruh warga Desa Lirang, dan bersama Balai KSDA Sulawesi Utara akan mengawal komitmen warga untuk berhenti mengkonsumsi Penyu. 


“Deklarasi ini sangat penting dalam upaya penyelamatan Penyu di wilayah ini, mengingat sebelumnya dalam setiap pelaksanaan pesta pernikahan di wilayah Kelurahan Lirang wajib menyajikan hidangan daging Penyu,” kata Mantiri yang juga pernah menjadi pengurus Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dimasa mudanya dulu.


Dalam kesempatan ini Kepala Balai KSDA Sulawesi Utara Askhari Maskiki turut memberikan sosialisasi mengenai peran penting Penyu dalam menjaga kesehatan laut, kategori keterancaman jenis-jenis Penyu menurut International Union for Conservation of  Nature berikut penyebab dan upaya konservasi yang bisa dilakukan,"

"Penghormatan pada nilai budaya dan adat sebagai bagian dari 10 cara baru kelola kawasan konservasi, serta akan menindaklanjuti komitmen Badan Adat dan warga Lirang untuk berhenti mengkonsumsi Penyu dalam kegiatan pembentukan kelompok pemberdayaan masyarakat,” ungkap Mantan Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 ini.


Di akhir sambutan,  dirinya memberikan apresiasi atas prakarsa Badan Adat Lirang dan Pemerintah Kota Bitung atas upaya konservasi Penyu di wilayahnya.


“Melestarikan alam dan makhluk hidup yang ada di dalamnya merupakan misi setiap insan di muka bumi. Setiap orang dapat mengambil peran sebagai “penjaga” alam dan berkontribusi terhadap keberlangsungan ekosistemnya serta warisan bagi generasi mendatang” paparnya. (***)

Iklan

iklan