Iklan

Iklan

,

Iklan

iklan

FITNAH (Kajian Islam)

Republiknews
Kamis, 27 Agustus 2020, Agustus 27, 2020 WIB Last Updated 2020-08-27T14:45:04Z
pic: liputanislam.com

FITNAH
(Kajian Islam)

Kata "fitnah"diserap dari Bahasa Arab (الفِتْنَةُ), dan pengertian aslinya adalah "cobaan" atau "ujian".

Hal terkait fitnah adalah Pengumuman fakta yang bersifat pribadi kepada publik, yang muncul ketika seseorang mengungkapkan informasi yang bukan masalah umum, dan hal tersebut bersifat menyerang pribadi yang bersangkutan.

Di dalam Al-Qur’an dan hadits tentang larangan fitnah sendiri ada banyak, seperti fitnah bermaksud Syirik Dalam Islam, berpaling dari jalan yang benar, sesat, pembunuhan dan kebinasaan, perselisihan dan peperangan, kemungkaran dan kemaksiatan.

Termasuk adalah menyebar berita dusta atau bohong atau mengada-ngada yang kemudian (merugikan) orang lain juga termasuk dalam fitnah.

Sebelum kita masuk lebih dalam lagi tentang bagaimanakah Fitnah serta Mengghibah , maka pertama yang harus diperhatikan agar tidak terjerumus diantara keduannya adalah :
Seseorang yang menjadi bahagian dari Timbulnya Fitnah dan Ghibah .

Hadits :
مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ  نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

Artinya :
“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci maki kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang bisa mencaci maki kedua orang tuanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, Seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang lain tersebut mencela bapaknya. Dan seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain tersebut mencela ibunya.” (HR. Muslim no. 90).

Hadits diatas inilah yang menjelaskannya tentang seseorang yang menjadi bahagian dari timbulnya Fitnah ataupun Ghibah .

Sekarang kita akan mengkaji Hadits Nabi tersebut, perhatikan kalimat pada hadits diatas : “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci maki kedua orang tuanya.”

Kalimat ini sangat jelas Termasuk dosa Besar adalah seseorang yang MENCACI MAKI kedua orang tuannya .

Ini menjadi Prinsip dalam ajaran Islam dalam setiap Aspek . kemudian kalimat : “ Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang bisa mencaci maki kedua orang tuanya?”  kalimat ini sangat jelas bahwa Para sahabat Nabi pun menjadi kebingungan , bagaimana mungkin ada seseorang yang sudah beriman (Islam) lantas mau mencaci maki Orangtuannya sendiri .

Kemudian kalimat : “Seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang lain tersebut mencela bapaknya. Dan seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain tersebut mencela ibunya.”

Maka dengan adanya kalimat ini permasalahannya menjadi jelas, bila kita mencaci maki bapak dan ibunya orang lain,kemudian mereka mencaci maki ibu dan bapak kita, maka itu samalah artinya dengan kita sendiri yang mencaci maki kedua orang tua kita sendiri .

Keterkaitannya dengan permasalahan fitnah dan Ghibah adalah , bila seseorang berupaya untuk berbuat agar aib dari seseorang tersebut diketahui khalayak ramai, maka tanpa disadarinya orang tersebut telah membuka Aibnya sendiri .

Kenapa? karena orang tersebut berupaya untuk membeberkan Aib saudaranya sendiri (sesama Muslim).

Bila sekiranya orang tersebut menahan diri tidak ingin Aib orang lain diketahui orang, maka seharusnya dia tidak melakukan tindakan untuk menyebarluaskan Fitnah ataupun ghibah tersebut.

Perlu dijelaskan,bila sekiranya yang disampaikan tersebut adalah Hal kebohongan maka itulah yang disebut dengan Fitnah dan bila sesuatu tersebut yang diupayakan untuk muncul ke publik adalah benar , maka itulah yang disebut dengan Ghibah.

Fitnah

Qs : Al Baqarah Ayat 191
وَٱقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَٱلْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَٰتِلُوهُمْ عِندَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَٰتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِن قَٰتَلُوكُمْ فَٱقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya :
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

Qs : An Nur Ayat 19
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Hadits :
المسلمون إخوة للمسلمين الآخرين ، لا يخون أحدهم الآخر ، لا يكذب أحدهم الآخر ، ولا يستخف ببعضه البعض ، فكل مسلم على غيره من المسلمين حرام ، سره ، ملكه ودمه ، التقوى هنا (في القلب) يكفي أن يقال أن هناك شخصًا قبيحًا عند النظر إليه اخو مسلم

Artinya :
"Orang Islam itu saudara bagi orang Islam lain, jangan saling mengkhianati, jangan saling membohongi, dan jangan saling merendahkan, setiap Muslim atas Muslim yang lain itu haram rahasianya, hartanya dan darahnya, taqwa itu ada disini (dalam hati) cukup seseorang dikatakan jelek jika memandang rendah saudaranya Muslim."(HR : Tirmidzi).

Hadits :
 أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ ». قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ « الْقَتْلُ »

Artinya:
 “Zaman akan semakin dekat, dicabutnya ilmu, akan timbul fitnah-fitnah, dimasukkan (ke dalam hati) sifat kikir dan akan banyak al harj”, mereka (para shahabat) bertanya: “Apakah al harj,wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Pembunuhan”. (HR. Bukhari dan Muslim.)

Hadits :
 مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً.
Artinya:
“Tidak anda berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka”. HR.Muslim.

Hadits :
 لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا بَلَاءٌ وَفِتْنَةٌ
Artinya :
“Tidaklah akan tersisa dari dunia ini melainkan cobaan dan fitnah.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits : ما تركت بعدي فتنة هي أضر على الرجال من النساء
Artinya :
“Tidak aku tinggalkan di masa setelah aku nanti fitnah yang lebih memadharati kaum lelaki dari pada fitnah wanita.” (HR Bukhari 5096, Muslim 2740).

Hadits :
تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
Artinya :
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari segala fitnah, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi” (HR Muslim : 2867).

Kedua firman Allah serta keenam hadits pendukung diatas inilah yang menjelaskan tentang fitnah .perhatikan kalimat pada firman Allah yang pertama khusus pada kalimat : “dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, “ kalimat ini sangat jelas dimana Allah menjelaskan dalam FirmanNya bahwasanya fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan.

Kenapa demikian ? karena dampak dari fitnah sangatlah Besar , bisa membuat seseorang menderita, sengsara, digunjing, terusir dari kampung serta bahkan dari keluarganya sendiri dll, penderitaan hidup yang ditimbulkan oleh fitnah yang akan berujung kepada kematian dan bahkan bisa terjadi bunuh diri disebabkan oleh fitnah itu sendiri .

Kemudian pada firman Allah yang kedua perhatikan kalimat : “ Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman,” kalimat ini sangat jelas ditujukan kepada orang yang menjadi penyebab fitnah tersebut diketahui orang banyak.

Perhatikan sekali lagi khusus pada kalimat : “ Sesungguhnya orang-orang yang ingin” kalimat inilah yang menjadi kejelasan bahwasannya yang dimaksud adalah orang yang menjadi penyebab tersiarnya fitnah .

kemudian kalimat : “ bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” Nah,inilah yang akan diterima bagi orang-orang yang menjadi penyebab fitnah bagi orang lain mereka akan menerima Azab Allah semasa didunia sampai diyaumil hizab kelak.

 Kemudian pada penghujung firman tersebut Allah memberikan staitman bahwasannya hanya Allah saja yang lebih mengetahui tenatng siapakah orang orang yang menjadi penyebab fitnah . perhatikan kalimat : “ Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”

Pada hadits pendukung yang pertama perhatikan kalimat : “ Orang Islam itu saudara bagi orang Islam lain” kalimat ini sangat jelas dimana Nabi menjelaskan bahwasannya sesama muslim itu adalah bersaudara sehingga mereka sesama muslim harus saling menjaga.

Apa yang harus dijaga ? perhatikan kalimat selanjutnya : “ jangan saling mengkhianati, jangan saling membohongi, dan jangan saling merendahkan” kalimat ini sangat jelas dengan kita saling menjaga serta menyadari bahwasanya sesama muslim adalah bersaudara,maka insya Allah akan terhindar dari pengkhianatan,saling membohongi,serta merendahkan.

 Karena perihal tersebut bisa mendatangkan fitnah. Kemudian kalimat selanjutnya : “setiap Muslim atas Muslim yang lain itu haram rahasianya, hartanya dan darahnya” kalimat ini sangat jelas dikarenakan persaudaraan didalam Akidah sehingga sesama muslim kata Nabi Haram rahasiannya artinya dilarang saling membuka Aib antara sesama muslim.

Kemudian harta dan darahnya artinya tidak dibenarkan bagi sesama muslim untuk saling menipu serta saling membunuh .

Kemudian pada hadits pendukung yang kedua dimana Nabi menjelaskan: “ Zaman akan semakin dekat” maksudnya adalah dunia ini sudah semakin tua sudah semakin dekat kepada akhir dunia dengan pertanda “ Dicabutnya Ilmu “ artinya semakin banyak para Ulama yang meninggal dunia .

 Sehingga akan banyak bermunculan “ Fitnah-Fitnah” para manusia semakin jauh dari tuntunan Agama sehingga dengan mudahnya Iblis la’natullah beserta bala tentaranya membisiki kedalam hati mereka “sifat Kikir” serta “Pembunuhan” dan ini merupakan dampak dari Fitnah itu sendiri.

Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “ Zaman akan semakin dekat, dicabutnya ilmu, akan timbul fitnah-fitnah, dimasukkan (ke dalam hati) sifat kikir dan akan banyak al harj”, mereka (para shahabat) bertanya: “Apakah al harj,wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Pembunuhan”.

Kemudian pada hadits yang ketiga dimana Nabi menjelaskan agar kita berhati hati dalam berbicara ,berbicaralah kepada seseorang sesuai dengan kecerdasan serta pemahaman mereka sehingga mereka tidak akan salah dalam memahami apa yang kita sampaikan terlebih dalam permasalahan Agama.

Jangan kita berbicara kepada mereka tentang perihal yang sama sekali tidak mereka pahami.perhatikan seluruh kalimat pada hadits yang ketiga : “Tidak anda berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka”.


Pada hadits pendukung yang keempat dimana Nabi menjelaskan bahwasannya fitnah serta cobaan merupakan sunnahtullah yang berlaku di dalam kehiupan dunia ini .

 perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “ Tidaklah akan tersisa dari dunia ini melainkan cobaan dan fitnah” . dengan adanya penjelasan dari Nabi tentang Fitnah dan cobaan tersebut lantas apakah langkah kita untuk bisa terhindar dari pada fitnah tersebut ? maka perhatikan hadits terakhir : “ Berlindunglah kalian kepada Allah dari segala fitnah, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi” nah inilah langkah kita agar senantiasa terhindar dari fitnah tersebut , yakni mohon perlindungan kepada Allah serta berupayah untuk bisa terhindar dari pada fitnah yang akan datang kepada kita.

Langkah agar kita terhindar dari Perbuatan Fitnah

Qs : Al Hujurat Ayat 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Hadits :
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya :
“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.” (HR. Muslim no.7).

Hadits :
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya :
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 74).

Hadits :
 التَّأَنِّي مِنَ اللهِ , وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Artinya :
“Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 10/104 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 3/1054).

Firman Allah serta ketiga hadits pendukung diatas inilah yang menjelaskan kepada kita agar kita terhindar dari perbuatan penyebaran fitnah terhadap seseorang .

perhatikan kalimat pada firman Allah tersebut diatas : “Hai orang-orang yang beriman “ kalimat ini merupakan warning dari Allah terhadap orang-orang yang beriman , kemudian kalimat : “  jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,” kalimat ini sangatlah jelas muhkamat , bila ada seseorang yang datang kepada kita membawa suatu berita , langkah apakah yang harus kita ambil , maka perhatikan kalimat selanjutnya : “ maka periksalah dengan teliti” yah, langkah inilah yang harus kita ambil yakni memeriksa kabar atau berita tersebut .

kenapa harus diperiksa ? perhatikan kalimat selanjutnya : “agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya” inilah alasannya kenapa harus diperiksa berita tersebut yang datang kepada kita dari seseorang , jangan sampai kita menimpakan musibah kepada seseorang atau kaum yang diceritakan oleh pembawa berita tersebut .

Bila sekirannya kita langsung menerima berita yang dibawa oleh seseorang tanpa memperhatikan dampaknya , lantas kita langsung membeberkan kepada orang tersebut kemudian dengan adanya berita tersebut hingga terjadi percekcokan ataupun pembunuhan terhadap sesama muslim , maka kita akan menjadi orang yang menyesal .

Perhatikan kalimat terakhir dari firman Allah tersebut diatas : “yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Kemudian dijelaskan pula pada hadits pendukung yang pertama dimana Nabi menjelaskan seaklipun kita mengucapkan terhadap seseorang sesuatu yang benar namun melecehkan orang tersebut maka didalam Agama kita disebut dengan Pendusta .

Perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diatas : “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar”.

Kemudian pada hadits kedua, perhatikan seluruh kalimat : “ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam”  kalimat ini juga sangat jelas bahwa Nabi menjelaskan orang beriman adalah seseorang yang berkata Baik kalau perkataannya Jelek meskipun benar , sebaiknya Diam .

Kenapa demikian ? karena manusia diberikan Akal oleh Allah yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain sekalipun Malak . sehingga sebagai seorang beriman yang berakal , ketika ada sesuatu yang datang kepadanya seaklipun itu adalah kebenaran akan tetapi dampaknya akan menimbulkan kekacauan serta kerusakan diantara sesama , maka sebaiknya tidak disampaikan atau Diam .

Dan ini merupakan langkah yang terbaik yang disampaikan oleh Nabi. Tetapi mungkin ada yang bertanya mengapa demikian ? karena bukankah kita sebagai seorang Muslim harus berupaya mengikuti apa yang disampaikan oleh Nabi kita ? .

Kenapa Rasul mengatakan : ” Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam “ pada kalimata yang pertama : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir” dua kalimat tersebut yakni Beriman kepada Allah merupakan Rukun Iman yang pertama kemudian hari akhir atau kiamat “ pun masuk dalam rukun iman . sehingga yang diberikan warning oleh nabi hanya khusus bagi orang-orang yang sudah Beriman .

Kemudian kalimat : “hendaklah berkata yang baik atau diam” nah kenapa Nabi mengatakan “ Berkata yang baik “ bukan mengatakan “ Berkata yang benar “ ?

Karena bila orang orang yang sudah masuk kepada tahapan Beriman ( Mukminin ) maka orang tersebut memiliki Kebijakan . sehingga mereka akan melakukan tindakan yang Baik .

Ini yang dititik beratkan dalam hadits Nabi tersebut diatas, dan bukan kepada Benar dan salahnya . tetapi lebih cenderung kepada Dampak Baik dan Buruknya sesuatu ucapan.

Kemudian pada hadits terakhir dimana nabi menjelaskan bahwa sesuatu yang tergesa-gesa itu datangnya dari setan .

Sehingga bila kita mendengar sesuatu berita yang datang kepada kita tenangkanlah diri kita jangan tergesa-gesa . perhatikan seluruh kalimat pada hadits tersebut diats :  “Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan”.

oleh: Tamrin Lahiya 

Iklan

iklan